Aplikasi Pengaturan Jumalah Cairan SINGA LAHIR

Tahapan Inovasi :
Inisiator Inovasi : RSUD Dr. Moewardi
Jenis Inovasi :
Bentuk Inovasi :
Urusan Inovasi : kesehatan
Rancang Bangun dan Pokok Perubahan Yang Dilakukan :

Data di Indonesia pada tahun 2007-2014 menunjukkan jumlah pasien baru penderita CKD yang menjalani hemodialisis semakin bertambah. Tahun 2007 pasien baru penderita CKD yang melakukan hemodialisis sebanyak 4.977 orang, tahun 2008 sebanyak 5.392 orang, tahun 2009 sebanyak 8.193, tahun 2010 sebanyak 9.649 orang, tahun 2011 sebanyak 15.353 orang, dan tahun 2012 sebanyak 19.621 orang. Tahun 2013 jumlah pasien menurun menjadi 15.128 tetapi kemudian bertambah, sehingga pada tahun 2014 jumlah pasien baru penderita CKD yang melakukan hemodialisis sebanyak 17.193 orang (Indonesia Renal Register, 2014).

Keberhasilan pasien dalam melakukan hemodialisis dipengaruhi oleh empat faktor yaitu : pembatasan cairan, petunjuk diet, peresepan obat, dan kehadiran pada sesi hemodialisis. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktor pembatasan cairan. Pembatasan cairan biasanya maksimal 500 mL dari pemasukan cairan setiap harinya, tergantung pada residual dialisis pasien (Garzoni et all, 2007).

Perawat di RSUD Dr. Moewardi sebenarnya telah memberikan konseling tentang diet cairan, penyuluhan tentang manajemen cairan saat pasien menjalani dialisis. Akan tetapi hasil wawancara oleh penulis pada minggu ketiga Juli 2019 yang dilakukan pada 20 pasien yang menjalani hemodialisis di RSUD Dr. Moewardi Surakarta didapatkan data bahwa 16 dari 20 pasien yang menjalani hemodialisis kurang patuh dalam pembatasan asupan cairan. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada pasien didapatkan data bahwa 13 pasien selalu minum air hangat setiap harinya, 5 pasien terkadang dapat mengendalikan atau menahan rasa haus, 4 pasien mengatakan sering minum kopi, susu, teh, air putih es atau air dingin. Dari wawancara dengan keluarga, keluarga mengeluh jika pasien terlalu banyak mengkonsumsi cairan maka akan terjadi bengkak dibagian kaki dan pembesaran perut, akibatnya pasien merasa perutnya penuh.

Pasien yang menjalani hemodialisis mengalami beberapa hambatan dalam melakukan pembatasan cairan. Hambatan tersebut terdiri dari 5 hal yaitu faktor psikologikal, faktor sosial, faktor pengetahuan, faktor self-assessment, dan faktor lingkungan dan fisik. Faktor psikologis yang dialami yaitu kurangnya motivasi untuk melakukan pembatasan cairan. Hambatan sosial dalam melakukan pembatasan cairan adalah kurangnya support dari keluarga, teman, pemberi pelayanan kesehatan, dan pasangan. Faktor pengetahuan yang dialami pasien yaitu kekurangan dalam pemahaman melakukan pembatasan cairan, ketidakadekuatan self-educate, dan cara pemberian pengetahun tidak tepat. Faktor self-assesment didapatkan bahwa pasien mengalami kesulitan dalam melakukan ketepatan self-assesment seperti pasien tidak bisa menyebutkan atau menentukan status cairan secara keseluruhan, pasien tidak mengetahui berapa banyak cairan yang telah diminum, dan berapa banyak sodium yang dikonsumsi. Pasien juga melaporkan tidak memiliki alat ukur yang objektif untuk mengukur volume cairan. Faktor lingkungan dan fisik yang dialami pasien adalah adanya rasa haus (Smith et al, 2011).

Ketidakpatuhan dalam pembatasan cairan akan menyebabkan kelebihan cairan (Mollaoglu et al, 2015). Kelebihan cairan pada pasien akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal, odema, kesulitan bernapas, hipotensi, dan resiko terberat adalah menyebabkan kematian (Penido, 2011). Ketidakpatuhan pada cairan dapat dilihat menggunakan pengukuran berat badan pasien diantara dua waktu dialisis, yang sering disebut intradialitic weight gain (IWG)/(IDWG) atau hilangnya berat selama dua sesi hemodialisis yang sering disebut intradialitic weight loss (IWL). Kepatuhan baik jika IWG: 1.00-1.59 kg, kepatuhan cukup jika IWG: 1.60-3.00 kg, dan kepatuhan kurang jika IWG > 3.00 kg (Garzoni et all, 2007).

Program konseling, pendidikan kesehatan, dan dukungan kelompok berfokus pada pengetahuan pasien kurang efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien dalam jangka waktu yang panjang. Pasien membutuhkan suatu program yang dapat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan pembatasan cairan secara mandiri. Intervensi pembatasan cairan dengan menggunakan software aplikasi “singa lahir” akan membantu dalam perhitungan jumlah cairan yang dibutuhkan dan dikonsumsi. Program ini akan membantu pasien dalam mengontrol pemasukan cairan. Program ini akan merekam pemasukan cairan pasien dan memantau berat badan saat hemodialisis, sehingga pasien, perawat dan keluarga akan tahu tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien.

Tujuan Inovasi :

Aplikasi ini bertujuan membantu dalam perhitungan jumlah cairan yang dibutuhkan dan dikonsumsi, dimana pasien tidak dapat menentukan status cairan secara keseluruhan, pasien tidak mengetahui berapa banyak cairan yang telah diminum, pasien juga tidak memiliki alat ukur yang objektif untuk mengukur volume cairan, sehingga kepatuhan pembatasan cairan pasien hemodialisis dapat terlaksana dengan baik.

Manfaat Yang Diperoleh :

Aplikasi SINGA LAHIR membantu pasien dalam mengontrol pemasukan cairan. Aplikasi ini akan merekam pemasukan cairan pasien dan memantau berat badan saat hemodialisis, sehingga pasien, perawat dan keluarga akan tahu tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien.

Hasil Inovasi :

Setelah pasien mengggunakan Aplikasi SINGA LAHIR didapatkan kenaikan berat badan diantara dua waktu dialisis 1 - 1,5 kg ( kepatuhan baik). Pasien tidak mengalami kelebihan cairan sehingga tercapai adekuasi hemodialisa yang baik, terhindar dari edema, kesulitan bernapas, hipotensi, dan gagal nafas.

Waktu Uji Coba Inovasi : 01-04-2020
Waktu Implementasi : 01-05-2020