“JustHebite Sereal” INOVASI SEREAL (TINGGI SERAT PANGAN, PATI RESISTEN, PROTEIN, SERTA RENDAH GULA) SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN PENDUKUNG PROGRAM STUNTING BERBASIS KOMODITAS LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA

Maksud dan tujuan produk JustHebite Sereal ini adalah menciptakan produk makanan yang mengandung tinggi serat pangan, pati resisten, dan protein.  JustHebite Sereal terbuat dari dua bahan utama yang berasal dari komoditas lokal, yaitu tepung singkong, kacang hijau dan gula aren. Selain karena kandungannya dan pemilihan komoditas ini disebabkan adanya penurunan permintaan terhadap komoditi tersebut akibat pandemic Covid19, sehingga JustHebite diharapkan dapat meningkatkan penyerapan pada ketiga komoditas tersebut. JustHebite diharapkan menjadi solusi dan salah satu varian makanan ringan sehat bagi para pengidap diabetes, autisme, down syndrome, autoimmune, untuk menerapkan gaya hidup sehat/mengonsumsi makanan sehat. Produk ini akan dipasarkan secara offline maupun online.

Kata kunci: sereal, tepung singkong, kacang hijau, gula aren, gluten free, rendah gula, justhebite, diabetes, autisme, down syndrome, autoimun, pangan lokal, makanan sehat.

Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam dan pengembangan komoditas pertanian. Keanekaragaman yang terdiri dari pulau, sosial budaya, ekonomi dan kesuburan tanah dan potensi daerah menjadikan situasi pangan di Indonesia unik (Ariani, 2010). Mayoritas mata pencaharian masyarakat Indonesia adalah petani, namun hasil dari pertanian ini belum mampu mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Ada beberapa jenis pangan yang harus di impor dari luar negeri karena kapasitas produksi pangan tersebut rendah, atau jenis pangan tersebut yang tidak dapat diproduksi di Indonesia.

Karbohidrat sebagai sumber utama kalori, seperti yang terdapat pada beras, gandum, singkong dan sagu. Sedangkan kandungan gizi lain yang bersifat penambah seperti vitamin, protein dan mineral terdapat dalam sayuran, buah, biji-bijian, serta produk ternak dan ikan. Semua hasil pertanian yang kandungan utamanya karbohidrat dapat dijadikan bahan pangan pokok. Untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok pangan bagi penduduk yang jumlahnya lebih dari 269 juta jiwa, Indonesia harus mengimpor. Beras rata-rata sebanyak 958 ribu ton/tahun, jagung lebih dari 2,1 ton/tahun, kedelai 2,1 juta ton/tahun, gandum 7,5 juta ton/tahun, gula pasir 1,6 juta ton/tahun dan buah-buahan 612 ribu ton/tahun (BPS, 2019).

Gandum merupakan komoditas pangan yang paling banyak diproduksi di dunia dibanding jagung dan padi, bahkan jumlah produksinya dari tahun ke tahun semakin meningkat (Yogi Pradeksa dkk, 2014). Dengan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata 2-3% pertahun, gandum menjadi tanaman utama di dunia. Permintaan akan gandum tidak terlepas dari banyaknya derivasi produk yang bisa dihasilkan dari gandum. Jika dibuat menjadi tepung, gandum dapat diolah menjadi berbagai macam makanan. Dari segi modernitas pangan, gandum lebih unggul dari tanaman serealia lain seperti jagung dan padi (Sumber: Sajidah 2020).

Tingginya angka impor gandum dan keunggulan produk turunan gan dum seperti terigu, menjadi salah satu penyebab ketahanan pangan di Indonesia melemah. Oleh karena  konsumsi terigu meningkat tiap tahun yang menyebabkan peningkatan impor gandum setiap tahunnya. Berdasarkan laporan Aptindo, realisasi pertumbuhan konsumsi tepung terigu nasional hingga kuartal III tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 0,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 4,39 juta metrik ton (MT) di kuartal III 2019 (Sumber: www.industri.kontan.co.id). 

Tahun 2022 telah terjadi perang antara Rusia dan Ukraina yang ternyata berpengaruh terhadap pasokan gandum ke Indonesia. Menurut Airlangga Hartato selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam pembukaan Paviliun Indonesia dalam World Economic Forum 2022 di Davos, Swiss pada 23 Mei 2022, 40% impor gandum Indonesia berasal dari Ukraina. Akibatnya pemerintah harus mencari alternatif pengganti gandum dari komoditi lokal yang dapat menyubstitusi atau mengomplemen gandum.

Salah satu peneliti yang memanfaatkan komoditas lokal menjadi salah satu produk yang dapat mensubstitusi terigu adalah Prof Dr Ir Achmad Subagio, guru besar alumni Faperta Unej lulus tahun 1991 dengan penemuannya yaitu tepung singkong (Modified Cassava Flour) sebuah olahan tepung dengan bahan dasar singkong. Sejak  tahun 2004 beliau bertekad untuk meneliti dan mengolah sumber pangan lokal, lalu pilihannya jatuh pada singkong. Dikarenakan singkong sangat mudah ditemukan di Indonesia. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh opini masyarakat bahwa singkong adalah makanan orang miskin. Sehingga hasil penelitiannya dapat merubah persepsi masyarakat. Bahwa singkong bisa naik ‘kelas’ dan tidak hanya dijumpai dalam bentuk yang ada sekarang ini (Sumber: viralkita.com). Tekad Prof Dr Ir Achmad Subagio menginspirasi UKM Karunia untuk membuat produk olahan berbahan dasar tepung singkong.

UKM Karunia merupakan salah satu produsen tepung singkong sejak tahun 2016 yang berada di Desa Pesangkalan Kecamatan Pagedongan Kabupaten Banjarnegara dengan kapasitas produksi 8 ton per bulan. Setiap bulannya UKM Karunia hanya mampu memproduksi sekitar 5 ton per bulan karena penyerapan tepung singkong hanya sebanyak 3 ton. Hal tersebut menjadi alasan utama diproduksinya JustHebite Sereal yang diharapkan dapat menyerap sampai 80% dari kapasitas produksi tepung singkong.

Pemilihan bahan baku tepung singkong tidak hanya karena alasan rendahnya penyerapan produksi, melainkan tidak kalah unggul dengan tepung terigu. Tepung singkong dibuat dari hasil fermentasi singkong utuh  sehingga menyebabkan perubahan karakteristik yang dihasilkan berupa naiknya viskositas (daya rekat), kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan solubility (kemampuan melarut) sehingga memiliki tekstur yang lebih baik dibandingkan tepung tapioka, tepung gaplek atau tepung singkong biasa. Tepung singkong secara aplikasi dapat digunakan sebagai bahan  olahan makanan seperti  cookies, crakers dan aneka biskuit lainnya; mie, muffin, kue putri salju, brownis, castengel  aneka kue dan makanan olahan lainnya. Bahkan dari berbagai trial yang dilakukan para praktisi pangan olahan di atas benar-benar telah 100% tanpa terigu atau sering dikenal dengan istilah free gluten. Sebagaimana kita ketahui bagi beberapa kalangan keberadaan protein gluten pada terigu merupakan masalah serius dalam konsumsi. Menurut Hamuq (2011), tepung singkong memliki keunggulan diantaranya: Halal dan Sehat, bisa dikonsumsi oleh anak autis, penderita diabetes, gangguan pencernaan karena bebas Glutein ; Kalsium tinggi, Serat tinggi (paling tinggi dari semua tepung), Kadar lemak rendah, mudah dicerna karena hasil fermentasi. Proses secara biologis alami (organik), tanpa zat kimia, pengawet dan pewarna dan mengandung skopoletin yg dapat menghambat proliferasi sel kanker.

Selain tepung singkong sebagai bahan dasar pembuatan JustHebite Sereal, terdapat komoditas lokal lainnya yang menjadi bahan baku utamanya. Komoditas lokal itu adalah kacang hijau dan gula aren. Alasan penambahan komoditas ini adalah kandungan yang terdapat pada 2 bahan tersebut yang akan menambah nilai gizi serta mudah didapat di Kabupaten Banjarnegara. Guru Besar IPB University Ali Khomsan menyampaikan bahwa kacang hijau merupakan sumber pangan tambahan yang cukup baik terutama dalam mencegah stunting pada balita. Sehingga JustHebite Sereal dapat menjadi alternatif dalam penurunan stunting dan sesuai dengan Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Apalagi angka stunting untuk Jawa Tengah masih tinggi yaitu 20,9% pada Desember 2021 dan menargetkan penurunan mencapai 14% pada tahun 2024. Kacang hijau juga termasuk dalam makanan yang bebas gluten, selain itu juga mengandung kalsium, zat besi, kalium, fosfor, magnesium, beragam vitamin seperti vitamin A,B, folat, C, E, dan K.

Bahan utama berikutnya adalah gula aren yang memang sudah sering digunakan dalam masakan khas Indonesia. Tidak hanya rasanya yang lezat, tapi gula aren juga memiliki banyak manfaat dibandingkan gula lain seperti

  1. Menjaga kadar gula darah karena memiliki indeks glikemik rendah.
  2. Mengendalikan tekanan darah, karena dalam gula aren terkandung kalium yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
  3. Menjaga kesehatan tulang, karena kandungan kalium dapat menjaga keseimbangan kadar kalsium dan menurunkan resiko osteoporosis.
  4. Menurunkan resiko batu ginjal, batu ginjal terbentuk akibat endapan kalsium yang disebabkan kekurangan kalium dalam tubuh. Sehingga kandungan kalium pada gula aren bermanfaat untuk menurunkan resiko penyakit ini.

JustHebite Sereal memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Tinggi serat pangan
  2. Tinggi pati resisten
  3. Tinggi protein
  4. Rendah gula
  5. Rendah gluten
  6. Menjadi alternatif cemilan sehat bagi penderita diabetes dan alergen gluten.
  7. Menjaga kearifan lokal dan meningkatkan permintaan pasar.

Keunggulan lain JustHebite Sereal terhadap produk sejenis dapat dilihat pada table di bawah ini.

No

Variable Pembanding

JustHebite Sereal

Nestle Coco Crunch

Quaker Oat

1.

Gluten Free

V

X

X

2.

Rendah Gula

V

X

V

3.

Tinggi Serat

V

V

V

4.

Produk lokal

V

X

X

5.

Berat Per Kemasan

200 gr

32 gr

200 gr

6.

Harga

25.000

9.100

12.800

 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa JustHebite lebih unggul dari segi kandungan walaupun harganya masih lebih mahal dikarenakan produktivitasnya yang masih rendah dibandingkan produk dari pabrikan yang produktivitasnya jauh lebih tinggi.

Nama : Arin Listya Apriyani
Alamat : Jalan Dewi Sartika RT 002 RW 003 Kelutahan Sokanandi, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah 53413
No. Telepon : (0286) 5964575, +62 662-3354-0143