Pengembangan Wisata Edu-religi dengan Model Edukasi Pemanfaatan Limbah Organik sebagai Bahan Semir Sepatu

Desa Kajen Kecamatan Margoyoso merupakan salah satu desa yang terkenal dengan wisata religi di Kabupaten Pati. Selain itu, Desa Kajen terdapat 61 Pondok Pesantren dengan jumlah santri tercatat data sebanyak 15.000 yang menimba ilmu. Disisi lain para santri dan pengajar diwajibkan menggunakan sepatu hitam polos, namun mereka tidak dapat merawat sepatu itu sehingga dapat mudah rusak dan di takutkan mengakibatkan iritasi pada kulit. Sedangkan kebutuhan para peziarah pada saat selesai berziarah, alas kakinya menjadi kotor dan berdebu sehingga untuk membersihkannya dengan menggunakan semir sepatu

Wisata edu-religi dengan model edukasi pemanfaatan limbah organik sebagai bahan semir sepatu sebagai terobosan dampak pandemi di desa kajen dengan tour guide religi Desa Kajen secara online dengan jenis pelayanan jelajah yaitu jelajah sejarah, jelajah religi, dan jelajah edukasi dengan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah organik sebagai bahan semir sepatu. Inovasi ini juga dapat menyerap tenaga akibat dampak pandemi seperti pakar budaya, pemandu wisata, produksi dan pemasaran semir sepatu dari bahan tinta cumi-cumi dan kulit pisang. Selain itu, penggunaan wadah dari kayu bekas mebel juga dapat menambah peluang usaha oleh pengusaha mebel.

 

Kata Kunci : edukasi, edu-religi, jelajah, religi, tour guide

 

Desa Kajen Kecamatan Margoyoso merupakan salah satu desa yang terkenal dengan wisata religi di Kabupaten Pati. Hal ini disebabkan karena terdapat sebuah tempat yang merupakan makam tokoh masyarakat yang terkenal dalam sejarah budaya Islam di antaranya adalah makam Kyai Ahmad Mutamakkin yang menyebarkan agama Islam di wilayah Pati sekitar abad 17. Banyak murid-muridnya dan ulama-ulama besar di zamannya di antaranya Syeikh Rangga Kusuma, Syeikh Badar. KH Sahal Mahfudz, KH Abdullah Salam, dll.  Pengunjung untuk berziarah rata-rata per hari yaitu 500-1500 orang. Selain itu, Desa Kajen terdapat 61 Pondok Pesantren dengan jumlah santri tercatat data sebanyak 15.000 yang menempuh ilmu dalam bentuk sekolah formal dan informal (Faiqoh,2015), sehingga sangat kental dengan budaya Islam.

Kunjungan untuk wisata religi (ziarah kubur) terjadi ketika hari Kamis sore dan Jumat pagi, puncak kunjungan berziarah terjadi hari peringatan meninggalnya Kyai Ahmad Mutamakin atau sering disebut Haul ditandai dengan adanya upacara buka luwur yang diawali dengan buka kelambu pada tanggal 10 Muharam. Pada saat Haul biasanya diiringi karnaval, drumb band, pengajian umum, pengadaan berkatan tahtiman bil ghoib hingga 13 ribu bungkus, dan juga pengadaan berkatan acara tahtiman bin nadzor yang biasanya sampai menyediakan 16 ribu bungkus makanan berat.  Banyaknya pengunjung yang berziarah memunculkan pedagang makanan kaki lima di sepanjang jalan menuju makam dan Pondok Pesantren. Salah satu yang diperdagangkan yaitu olahan berbahan pisang menimbulkan limbah kulit pisang yang belum dimanfaatkan secara baik. Selain pedagang kaki lima yang melakukan aktivitas ekonomi, terdapat juga pasar tradisional yang terletak di timur makam sebagai sentra perdagangan yang setiap harinya menghasilkan limbah organik salah satunya tinta cumi-cumi.

Disisi lain banyaknya para santri yang menuntut ilmu di Desa Kajen, Dalam Pawarta (2020) Para santri dan Guru/pengajar di wajibkan pada saat di sekolah menggunakan sepatu hitam polos, namun mereka tidak dapat merawat sepatu itu sehingga dapat mudah rusak, agar memiliki umur pakai lebih lama dan tampilan yang lebih menarik menggunakan semir sepatu. Kalau mereka menggunakan semir konvensional di toko-toko tidak terjangkau sebagai santri. Tidak terjangkaunya harga semir oleh para siswa dan santri juga adanya bau yang menyengat seperti bahan kimia yang membuat beberapa siswa mengeluh dan semir yang apabila akan menggunakan kita diminta untuk mengenakan sarung tangan di takutkan iritasi pada kulit. Sedangkan kebutuhan para peziarah pada saat selesai berziarah, alas kakinya menjadi kotor dan berdebu sehingga untuk membersihkannya dengan menggunakan semir sepatu.

Melihat peluang berbagai situs-situs sejarah perkembangan Islam di Desa Kajen tempo dulu hingga sekarang yang memiliki potensi luar biasa dalam bidang pengembangan edu-religi sehingga terbentuknya komunitas “Jelajah Pusaka Kajen” atau Kadjen Heritage Trail. Mereka terdiri dari tim PKM  dan karang taruna yang bertujuan mengedukasi pengunjung untuk menikmati asyiknya berkeliling Kajen dan mendengarkan sejarah berbagai obyek yang dituju bersama tour guide. Terdapat berbagai pengunjung lokal maupun luar daerah hingga mancanegara yang menggunakan jasa tour guide ini. 

Pada tahun 2020 dan 2021 pengunjung ziarah berkurang dan beberapa kali makam ditutup, dan terpaksa puncak Haul Kyai Ahmad Mutamakin ditiadakan untuk mengurangi adanya kerumunan sehingga dilakukan secara virtual (TribunJateng, 20/08/2020). Selain itu, selama pandemi ini komunitas Jelajah Pusaka Kajen tidak menerima kunjungan sama sekali. Mereka hanya mengadakan sejumlah kegiatan untuk memperdalam situs-situs sejarah di Kajen.

Melihat kondisi tersebut, tercetuslah ide untuk mengembangkan wisata edu-religi Desa Kajen secara online dengan jenis pelayanan jelajah yaitu jelajah sejarah, jelajah religi, dan jelajah edukasi. Di dalam jelajah edukasi Kami mengajak masyarakat untuk lebih berkreatif dengan memanfaatkan limbah yang dihasilkan menjadi produk yang bernilai. membuat semir sepatu memanfaatkan limbah kulit pisang dan tinta cumi-cumi yang dihasilkan dari pedagang kaki lima di sekitar makam untuk menjawab kebutuhan para peziarah, para santri, dan para guru pengajar di pondok pesantren (formal dan nonformal). 

Keunggulan dari wisata edukasi pemanfaatan tinta cumi-cumi dan kulit pisang sebagai bahan pembuatan semir sepatu ramah lingkungan adalah masyarakat dapat melihat dan mempraktikkan bagaimana penggunaan limbah organik kulit pisang kepok dan limbah organik tinta cumi-cumi dapat membantu mengurangi sampah kulit pisang dan sampah cumi-cumi yang ada dimasyarakat yang dapat diolah menjadi produk jadi yang ekonomis bagi masyarakat pada umumnya, dan lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu kami mengedukasi dalam penggunaan bahan organik yang ramah lingkungan tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Semir sepatu ini tidak menggunakan bahan kimia seperti naftalena, lanolin, terpentin, Carnuba wax, lem arab, ethylene glycol, hingga Naftalena bahkan bisa menyebabkan kanker.

Di merk konvensional menggunakan warna hitam dari bahan kimia sehingga baunya lebih menyengat. Pengaplikasian pada sepatu cepat menyerap dan cepat kering bila dioles di udara terbuka. 

Menggunakan wadah dari limbah organik sisa mebel yang dapat di buat dengan berbagai model seperti bundar, kotak, segitiga membuat penampilan pendukung dari semir sepatu lebih menarik. Selain itu memiliki daya simpan baik dan menjadikan semir tidak mudah kering karena kelembapan dalam kayu.

Perbedaan dengan penemuan sejenis adalah pembuatan produk semir sepatu  berbahan baku limbah kulit pisang kepok dalam Haslindah (2019) (musa paradisiaca L.) yaitu proses mengeringkan kulit pisang dengan proses destruksi kering merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menguraikan zat organik pada sampel kulit pisang yang melepas senyawa lain yaitu pelepasan molekul air H2O.  Hasil yang didapatkan setelah didestruksi adalah kulit pisang berubah warna menjadi warna hitam, karna adanya proses pembakaran yang tidak sempurna dengan menghasilkan C, CO, H2O, pada tahap ini bahan organik yang terkandung 2 pada kulit pisang akan di degradasi menjadi karbon dan senyawa non organik akan diubah menjadi senyawa tar. 

Perbedaan lain semir sepatu dari limbah kulit pisang, produk lain menambahkan variabel vaseline sebagai bahan pengganti asam cuka. Penggunaan tempat yang masih menggunakan tempat dari besi atau plastik, belum ada yang menggunakan kayu.

Nama : WAHYU ILHAM MAULA
Alamat : Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati
No. Telepon : 089636235723