ABSTRAK
Permasalahan sampah plastik masih menjadi isu lingkungan serius di Indonesia, termasuk pada sektor pertanian. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan bahwa timbulan sampah nasional mencapai sekitar 38,6 juta ton per tahun, dengan sampah plastik menyumbang sekitar 19,48 persen. Penggunaan pot plastik sekali pakai dalam pembibitan tanaman menjadi salah satu penyebab pencemaran tanah karena plastik sulit terurai. Di sisi lain, sektor pertanian menghasilkan limbah biomassa melimpah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kabupaten Sragen sebagai daerah dengan aktivitas pertanian tinggi menghasilkan limbah daun tebu dan sekam padi dalam jumlah besar setiap musim panen. Sebagian besar limbah tersebut masih dibakar atau dibuang sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini mengembangkan Potebu, yaitu pot tanaman biodegradable berbahan dasar daun tebu dan sekam padi sebagai alternatif pengganti pot plastik. Penelitian bertujuan memanfaatkan limbah pertanian lokal menjadi produk ramah lingkungan yang bernilai guna serta mendukung pertanian berkelanjutan. Metode yang digunakan berupa eksperimen kuantitatif dengan mengolah serat daun tebu dan sekam padi menggunakan perekat alami, kemudian dicetak menjadi pot tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Potebu mampu berfungsi dengan baik sebagai wadah tanam, memiliki kekuatan yang cukup pada fase awal pertumbuhan tanaman, serta dapat terurai secara alami di dalam tanah. Respon masyarakat terhadap inovasi ini juga positif karena dinilai ramah lingkungan, aplikatif, dan sesuai dengan kondisi pertanian di Kabupaten Sragen. Potebu berpotensi mengurangi penggunaan pot plastik sekaligus meningkatkan nilai guna limbah pertanian lokal.
Kata Kunci: sampah plastik, daun tebu, sekam padi, pot biodegradable, pertanian berkelanjutan
Permasalahan sampah di Indonesia hingga kini masih didominasi oleh sampah plastik yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, timbulan sampah Indonesia telah mencapai sekitar 38,6 juta ton per tahun dengan sampah plastik menyumbang sekitar 19,48% dari total timbulan tersebut (Kementerian Lingkungan Hidup, 2024). Tingginya proporsi sampah plastik menjadi perhatian serius karena plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Dalam sektor pertanian, penggunaan pot dan wadah tanam berbahan plastik sekali pakai turut memperparah permasalahan ini.
Di sisi lain, sektor pertanian justru menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Daun tebu merupakan salah satu limbah pertanian yang ketersediaannya melimpah, khususnya di Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu sentra pengembangan tebu nasional. Alokasi pengembangan kawasan tebu di Jawa Tengah mencapai 12.076 hektare, yang tersebar di 19 kabupaten. Kabupaten Sragen menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi signifikan, yaitu 2.547 hektare lahan bongkar ratoon serta 41 hektare perluasan. Luasnya areal tebu tersebut menghasilkan limbah daun tebu dalam jumlah besar setiap musim panen. Namun, hingga saat ini pemanfaatan daun tebu masih sangat terbatas dan sering kali hanya dibiarkan di lahan atau dibakar, sehingga belum memberikan nilai tambah ekonomi dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan (Ditjenbun Kementrian Pertanian, 2025).
Selain limbah tebu, Jawa Tengah juga dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Pada tahun 2024, produksi padi di Provinsi Jawa Tengah mencapai sekitar 8,8 juta ton, yang menunjukkan tingginya aktivitas pertanian padi di wilayah ini (BPS, 2025). Tingginya produksi padi tersebut secara langsung berbanding lurus dengan aktivitas penggilingan padi yang menghasilkan limbah sekam padi dalam jumlah besar. Namun, sekam padi masih sering dipandang sebagai limbah bernilai rendah dan pemanfaatannya belum optimal, padahal memiliki karakteristik ringan dan berpori, sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai bahan alternatif pengganti plastik, khususnya pada produk pertanian.
Daun tebu dan sekam padi merupakan limbah pertanian berbasis serat alami yang kaya akan komponen lignoselulosa, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku material ramah lingkungan. Berdasarkan data dari penelitian (Thongsomboon et al., 2023) menyatakan bahwa sekam padi dan daun tebu memiliki kandungan serat selulosa yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kekuatan mekanik sekaligus mempercepat proses degradasi biologis dibandingkan material sintetis berbasis plastik. Selain itu, sekam padi dikenal memiliki porositas tinggi dan kemampuan aerasi yang baik, sehingga mampu mendukung sirkulasi udara dan kelembapan di sekitar perakaran tanaman. Selain itu, data hasil penelitian (Halawa et al., 2025) menunjukkan bahwa sekam padi yang diolah mampu memperbaiki sifat fisik media tanam, meningkatkan porositas, serta membantu retensi air dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.
Potensi limbah daun tebu dan sekam padi tersebut menunjukkan peluang untuk dikembangkan menjadi produk alternatif pengganti pot plastik yang lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan Potebu, yaitu pot biodegradable berbahan dasar limbah lokal yang dirancang tidak hanya sebagai wadah tanam, tetapi juga sebagai media yang mampu terurai dan memberikan manfaat bagi tanaman. Selain itu, Potebu mendukung SDGs Point 12 yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab karena mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat limbah plastik dan pembakaran sisa hasil pertanian. Pemanfaatan Potebu diharapkan dapat mengurangi penggunaan pot plastik sekali pakai, meningkatkan nilai tambah limbah pertanian, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan di Kabupaten Sragen.
Inovasi Potebu memiliki keunggulan utama karena dikembangkan dengan pendekatan yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs). Pemanfaatan limbah daun tebu dan sekam padi sebagai bahan dasar pot tanaman menunjukkan penerapan konsep konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, sebagaimana tercermin dalam SDGs point 12. Melalui inovasi ini, limbah pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan diolah menjadi produk bernilai guna yang dapat meningkatkan kesuburan dan pH dalam tanah, sehingga tidak hanya mengurangi beban lingkungan tetapi juga mendorong pola pemanfaatan sumber daya yang lebih bijak.
Potebu dapat menaikan pH tanah karena terbuat dari daun tebu dan sekam padi. Daun tebu mengandung sejumlah nutrisi penting seperti kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), dan (S). Nutrisi ini diserap langsung oleh tanaman atau melalui mediasi mikroba, memberikan tambahan gizi yang komprehensif, sebuah aspek yang ditekankan dalam analisis komposisi pupuk organik (Maharani, 2025). Sekam padi pada media tanam sangat berperan penting untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan melindungi tanaman, sebab sekam padi mempunyai rongga yang besar, sehingga baik untuk media tanam. Sekam padi mengandung SiO2 (52%), C (31%), K (0,3%), N (0,18%), F (0,08%), dan kalsium (0,14%) (Chusniasih, Gulo, Nandini, Angeline, & Anjelina, 2023).
Inovasi Potebu menawarkan keunggulan dari sisi lingkungan karena dirancang sebagai pot biodegradable yang dapat terurai secara alami di dalam tanah. Penggunaan Potebu berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pot plastik sekali pakai yang sulit terurai dan sering menjadi sumber pencemaran. Dengan berkurangnya limbah plastik serta praktik pembakaran sisa hasil pertanian, inovasi ini juga mendukung upaya mitigasi perubahan iklim serta pelestarian kualitas lingkungan, sejalan dengan SDGs point 13.
Selain itu, keunggulan Potebu sebagai inovasi berbasis limbah pertanian juga tercermin dari penerimaan masyarakat terhadap inovasi ini. Penelitian ini telah melibatkan 50 responden yang berasal dari tiga desa, yaitu Desa Mijahan, Desa Srimulyo, dan Desa Kedungpit, sebagai wilayah yang merepresentasikan kondisi pertanian dan ketersediaan limbah lokal di Kabupaten Sragen. Hasil respon menunjukkan bahwa 79,4% responden menyatakan sangat setuju bahwa Potebu berpotensi membantu menyuburkan tanah. Hal ini, sejalan dengan manfaat Potebu yang menggunakan bahan seperti daun tebu dan sekam padi sebagai bahan yang dapat menyuburkan tanah dan meningkatkan pH tanah. Sementara itu, 83,3% responden juga menyatakan sangat setuju bahwa inovasi Potebu mendorong pemanfaatan limbah pertanian seperti daun tebu dan sekam padi secara lebih bijak.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa inovasi Potebu tidak hanya diterima secara konsep, tetapi juga mendapat respons positif dari masyarakat. Hal ini menandakan bahwa Potebu dinilai sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan pertanian di wilayah setempat. Oleh karena itu, Potebu berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pot tanam ramah lingkungan yang berbasis limbah lokal, sekaligus menjadi upaya nyata dalam mengurangi penggunaan pot plastik serta meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian di Kabupaten Sragen.
| Nama | : | Justin Pandara Gita |
| Alamat | : | TOKLAOS RT 008/ RW 001 SRIMULYO, GONDANG, SRAGEN |
| No. Telepon | : | 085177141070 |