INOVASI BIOSAJI (Biogas dari Sisa Fillet Ikan, Kotoran Sapi, Juruh dan Jerami) sebagai Sumber Energi Alternatif dan Terbarukan di Kabupaten Rembang

Biogas menjadi salah satu sumber energi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan masayarakat pada energi fosil. Inovasi biogas dianggap cocok diterapkan di Rembang karena penggunaan gas LPG di Rembang tergolong tinggi yakni mencapai 6 juta tabung atau rata-rata sekitar 500 ribu tabung setiap bulan.

Kabupaten Rembang memiliki kekayaan alam di berbagai sektor. Pada sektor perikanan menyisakan limbah ikan yang menumpuk seperti bagian kepala, jeroan dan tulang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Pada sektor peternakan, produksi sapi yang banyak diikuti pula dengan banyaknya jumlah limbah kotoran sapi yang tinggi. Kotoran sapi memiliki kandungan gas metana yang tinggi dapat digunakan sebagai biogas. Pada sektor perkebunan, juruh menjadi salah satu produk yang kurang dioptimalkan. Juruh menjadi sumber karbohidrat dapat mempercepat proses fermentasi. Pada sektor pertanian, jerami padi memiliki kandungan serat dan karbon yang tinggi, sangat efektif untuk menetralisir kandungan nitrogen pada ikan. Dari permasalahan tersebut terbentuklah BIOSAJI (biogas dari sisa fillet ikan, kotoran sapi, juruh dan jerami).

Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif. Peneliti membuat 3 sampel komposisi bahan yang berbeda-beda. Dari percobaan komposisi terbaik adalah limbah ikan(7): kotoran sapi(7): juruh(3): jerami(3). Hasil menunjukkan fermentasi biogas selama 20 hari menghasilkan api berwarna biru sedikit orange. Ini menunjukkan bahwa BIOSAJI dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan memiliki kesamaan fungsi dengan LPG. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, eksperimen, angket dan dokumentasi.

BIOSAJI tidak hanya menghasilkan biogas tetapi juga menghasilkan bio-slurry pupuk berkualitas yang mengandung NPK. Dampak inovasi melibatkan sektor perikanan, peternakan, perkebunan, dan pertanian di Kabupaten Rembang bersama bersinergi mengurangi pencemaran dan penghematan energi fosil.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 penggunaan energi baru dan terbarukan minimum 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Rembang adalah salah satu daerah dengan penggunaan energi fosil/ tak terbarukan yaitu gas LPG yang tergolong tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya penggunaan LPG untuk sektor perdagangan seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam pembuatan industri dan adanya agenda budaya kearifan lokal seperti acara kupatan, sedekah bumi atau sedekah laut yang meningkatkan aktivitas memasak bagi masyarakat sekitar. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan peraturan yang ditulis pemerintah dalam PP no 79 tahun 2014.

              Potensi kekayaan alam di Kabupaten Rembang sangat melimpah dalam sektor perikanan, peternakan, perkebunan dan pertanian. Produksi perikanan di Kabupaten Rembang mencapai 79,79 ribu ton. Masyarakat biasanya memperjualbelikan secara utuh ikan atau dagingnya saja sehingga menyisakan kepala, jeroan dan tulang yang apabila tidak diolah dapat menghasilkan gas amonia dan aroma yang berbahaya jika dihirup. Pada tahun 2017 seorang nahkoda kapal di Rembang meninggal karena gas amonia dan bau dari ikan busuk. Oleh karena itu perlu adanya upaya pengolahan lebih lanjut agar kasus tersebut tidak kembali terjadi.

              Kabupaten Rembang berhasil melahirkan sekitar 25.000 ekor pedet (anak sapi) setiap tahunnya. Kotoran sapi mengandung serat dan memiliki struktur yang basah sehingga mampu memproduksi bakteri penghasil gas metana yang cocok untuk biogas. Hasil perkebunan siwalan di Kabupaten Rembang mencapai angka 916,38 ton. Salah satu hasil dari siwalan adalah nira, yang dapat diolah menjadi juruh yang dapat mempercepat proses fermentasi. Produktivitas padi Kabupaten Rembang mencapai sekitar 5,8 ton/ hektar, hasil sampingan padi yaitu jerami yang mengandung karbon (C), yang efektif bila dikombinasikan dengan limbah perikanan yang kaya nitrogen untuk menghasilkan biogas. Dari uraian tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul "INOVASI BIOSAJI (Biogas dari Sisa Fillet Ikan, Kotoran Sapi, Juruh dan Jerami) sebagai Sumber Energi Alternatif dan Terbarukan di Kabupaten Rembang".

1. Ketersediaan bahan lokal

Bahan yang digunakan memanfaatkan produk lokal yang mudah dan melimpah ditemukan di Kabupaten Rembang seperti sisa fillet ikan (kepala, jeroan, tulang dan sedikit daging), kotoran sapi, juruh dan jerami.

2. Memerlukan waktu lebih cepat

Produk inovasi BIOSAJI memiliki waktu fermentasi yang lebih cepat dibandingkan biogas dengan bahan organik lainnya. Penambahan juruh menyebabkan fermentasi BIOSAJI menjadi lebih cepat yaitu ± 20 hari, dibanding biogas tanpa penambahan juroh selama ± 1 bulan. Hal ini juga sangat berkebalikan dengan gas LPG berbahan bakar fosil yang membutuhkan selama waktu jutaan tahun.

3. ?Menghasilkan pupuk sebagai produk sampingan (Zero Waste)

Bahan produk inovasi “BIOSAJI” yang sudah tidak menghasilkan gas metana dapat digunakan untuk pupuk kompos sehingga tidak ada limbah yang dihasilkan. Limbah ikan mengandung nutrisi dapat digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan pupuk organik cair yaitu nitrogen (N), phosphor (P) serta kalium (K) (Wicaksono et al., 2022). Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2025) menyebutkan bahwa kandungan hara dalam jerami padi mencakup 40% unsur N (Nitrogen), 30 – 35% unsur P (Fosfor), 80 – 85% unsur K (Kalium), dan 40 – 45% unsur S (Sulfur).

4. Pengganti Energi Fosil

Produk inovasi “BIOSAJI” memiliki perbedaan dengan gas elpiji pada umumnya dikarenakan menggunakan energi terbarukan, yang dimana biasanya gas elpiji berbahan bakar fosil sehingga terbatas, sedangkan BIOSAJI merupakan suatu bahan organik yang sangat bisa diperbarui. Oleh karena itu, produk inovasi ini dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sehingga dapat menghemat energi.

5. Dilengkapi dengan alat penyaring udara

Produk inovasi BIOSAJI dilengkapi dengan alat filter gas yang terdiri dari arang, steel wool, dan spons. Arang dapat menyerap polutan yang ada di gas yang busuk. Arang aktif memiliki kemampuan adsorpsi yang tinggi, sehingga dapat menyerap berbagai polutan yang terdapat dalam gas buang (Rafidah F et al., 2025). Steel wool mampu menjadi adsorben dan juga tetap meningkatkan nilai laju aliran (LPM). Semakin kecil nilai laju aliran (LPM) Biogas yang melewati kolom pemurnian dan semakin besar massa absorben, maka semakin tinggi tingkat calorific value biogas yang dapat ditingkatkan (Adhani M.A et al., 2021). Spons dapat menghilangkan bau dalam gas biogas. Bahan-bahan ini seperti spons kecil untuk molekul bau. Mereka menarik dan menahan partikel bau, sehingga secara efektif menghilangkannya dari udara (Zoiun Fluid & Gas Equipment Co., Ltd., 2026).

Nama : CAHAYA DINI FAKHRIYA HERYNA
Alamat : Jl. Gajah Mada No 2, Pantiharjo, Kec. Kaliori, Kab. Rembang, Jawa Tengah (59218)
No. Telepon : 082324081231