Tunarungu menjadi salah satu disabilitas paling banyak ditemui di Indonesia, namun akses pendidikan bahasa isyarat bagi anak tunarungu masih sangat terbatas. Kondisi ini menyebabkan banyak anak kesulitan bertransisi dari bahasa isyarat keluarga menuju bahasa isyarat yang digunakan di masyarakat luas. Minimnya media pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak tunarungu usia sekolah dasar memperparah kesenjangan ini, terutama karena sebagian besar guru SLB pun belum fasih berbahasa isyarat, khususnya BISINDO, dan orang tua umumnya tidak memiliki kemampuan bahasa isyarat yang memadai untuk mendampingi anak belajar di rumah.
SABDA hadir sebagai website edukasi literasi BISINDO dan SIBI berbasis Guided Induction dengan dukungan Augmented Reality (AR). Platform ini dilengkapi narasi animasi kontekstual, kamus visual interaktif, video peragaan isyarat, AR berbasis web untuk visualisasi objek 3D, flashcards, dan permainan edukatif, dirancang khusus untuk anak tunarungu usia sekolah dasar dengan pendekatan visual-spasial.
Pengembangan menggunakan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate). Hasil validasi ahli menunjukkan nilai Aiken's V = 0,96 (sangat valid), pengujian fungsionalitas berdasarkan ISO/IEC/IEEE 29119 menunjukkan seluruh fitur berjalan sesuai spesifikasi, serta uji kepuasan memperoleh respons sangat baik dari guru (100%) dan orang tua (91,67%).
SABDA diharapkan menjadi media pembelajaran bahasa isyarat yang inklusif dan mudah dijangkau, mendorong anak tunarungu mempelajari BISINDO sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dan SIBI sebagai bahasa isyarat formal pendidikan, sekaligus menjembatani transisi komunikasi dari lingkup keluarga menuju masyarakat yang lebih luas. Dengan arsitektur berbasis MERN Stack, teknologi WebAR yang ringan, serta desain antarmuka visual-first, SABDA terbukti valid, praktis, dan dapat dijalankan pada perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah sekalipun.
WHO mencatat 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dengan 2 juta di antaranya berada di Indonesia. Hanya 18% tunarungu Indonesia yang mendapat layanan pendidikan inklusif, dan hanya 1–2% anak tunarungu di dunia yang menerima pendidikan formal dalam bahasa isyarat. Sekitar 95% anak tunarungu lahir dari orang tua pendengar yang tidak menguasai bahasa isyarat, sehingga anak tidak mendapat stimulasi linguistik yang memadai sejak dini. Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa hanya 30% orang tua dengar yang benar-benar memberikan rangsangan linguistik tepat melalui penggunaan bahasa isyarat, sementara sebagian besar lainnya bergantung pada komunikasi verbal semata, sehingga mayoritas anak tunarungu tumbuh tanpa intervensi bahasa yang memadai di lingkungan keluarga.
Di Indonesia, bahasa isyarat yang umum digunakan adalah BISINDO dan SIBI. BISINDO digunakan dalam keseharian komunitas tunarungu dan lebih mudah dipelajari karena berasal dari bahasa ibu tunarungu sendiri, sementara SIBI merupakan bahasa baku pendidikan formal yang ditetapkan Kemendikbud. Penguasaan keduanya penting: BISINDO untuk bersosialisasi, SIBI untuk kelancaran akademik. Ketiadaan penguasaan salah satunya dapat menghambat perkembangan sosial maupun akademik anak secara signifikan. Namun, media pembelajaran yang tersedia seperti platform I-CHAT, aplikasi alfabet SIBI berbasis AI, maupun game edukasi BISINDO, masing-masing memiliki keterbatasan dan belum mengintegrasikan keduanya dalam satu platform yang sesuai kebutuhan anak usia sekolah dasar.
Berangkat dari kesenjangan ini, penelitian mengembangkan SABDA: website edukasi berbasis Guided Induction dengan dukungan AR yang menyatukan animasi kontekstual, kamus visual interaktif, video isyarat, flashcards, games, dan fitur WebAR dalam satu ekosistem pembelajaran. Metode Guided Induction dirancang agar anak tidak sekadar menghafal, melainkan memahami makna kosakata secara kontekstual melalui alur cerita animasi sebelum diperkenalkan dengan isyaratnya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran bermakna yang menekankan pemahaman konsep sebelum penguasaan simbol atau bentuk formalnya. SABDA dirancang untuk mendukung transisi anak tunarungu dari lingkungan keluarga dari bahasa isyarat keluarga menuju komunikasi masyarakat yang lebih luas, khususnya dalam konteks pendidikan formal.
Inovasi SABDA memiliki keunggulan yang membedakannya dari media pembelajaran bahasa isyarat sebelumnya. SABDA mengintegrasikan pembelajaran BISINDO dan SIBI dalam satu platform terintegrasi sehingga anak tunarungu dapat mempelajari bahasa isyarat yang digunakan di lingkungan masyarakat sekaligus bahasa formal pendidikan. Berbeda dengan media sebelumnya yang hanya menyediakan kamus video pasif, SABDA menggunakan pendekatan Guided-Induction Method berbasis cerita kontekstual, ilustrasi visual, gamifikasi, dan Augmented Reality (AR) untuk membantu anak memahami konsep bahasa secara lebih mendalam.
Selain itu, SABDA menggunakan teknologi Web-Based AR yang dapat diakses langsung melalui browser tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan dengan ukuran besar. Hal ini menjadikan SABDA lebih ringan, inklusif, dan mudah digunakan pada perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah. Platform ini juga telah melalui uji validitas ahli dengan nilai Aiken’s V sebesar 0,96 (kategori sangat valid) serta lolos pengujian software berdasarkan standar ISO/IEC/IEEE 29119.
| Nama | : | Naila Aini Bahri |
| Alamat | : | Manggis RT 02, Desa Jati, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | +62 821-2357-5310 |