DIDOPEK (PADI DOUBLE IMPACT): INOVASI WEB BERBASIS API BMKG GUNA OPTIMALISASI PRODUKTIVITAS PADI DI LAHAN TADAH HUJAN KABUPATEN REMBANG

Berangkat dari temuan hasil panen yang belum optimal di daerah sawah padi tadah hujan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang diketahui satu-satunya sumber pengairan dari air hujan. Dengan rata-rata musim hujan yang hanya 6-7 bulan menyebabkan panen kedua yang tidak maksimal karena umur padi rata-rata 4 bulan.

Temuan berupa panen pertama menghasilkan 5-6 ton per hektar, sedangkan panen kedua tidak maksimal hanya 3 ton karena tanaman belum menyelesaikan fase pertumbuhan saat musim kemarau datang. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara siklus tanam dengan pola curah hujan yang belum dikelola secara tepat.

Inovasi DIDOPEK (Double Impact) dikembangkan sebagai solusi berbasis teknologi untuk membantu petani mengatur waktu tanam secara lebih terencana. DIDOPEK merupakan sistem berbasis website yang memanfaatkan data prakiraan cuaca BMKG melalui integrasi API, kemudian mengolahnya menjadi rekomendasi jadwal tanam yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan padi. Sistem ini juga dilengkapi dengan fitur perencanaan biaya, pemantauan fase tanam, serta rekomendasi penggunaan alat mekanis untuk mempercepat proses pertanian. Pengembangan dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara petani, serta simulasi penjadwalan tanam menggunakan data historis curah hujan.

Hasilnya menunjukkan bahwa dengan pengaturan waktu tanam yang lebih tepat, dua kali masa tanam dalam satu musim hujan dapat dilakukan secara lebih optimal dengan potensi hasil yang lebih stabil. DIDOPEK diharapkan dapat membantu petani mengambil keputusan berbasis data, sehingga risiko gagal panen dapat ditekan dan produktivitas lahan tadah hujan dapat meningkat secara berkelanjutan.

 

Kata Kunci: DIDOPEK, pembibitan, panen, penjadwalan.

Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan pangan seiring meningkatnya jumlah penduduk dan tingginya kebutuhan beras sebagai bahan pangan utama. Upaya pemerintah melalui program swasembada pangan terus diperkuat melalui berbagai kebijakan strategis. Selain itu, Kementerian Pertanian juga mendorong optimalisasi lahan dan penerapan teknologi pertanian modern guna meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim. Namun, pada wilayah sawah tadah hujan, produktivitas padi masih belum optimal karena ketersediaan air sangat bergantung pada musim hujan.
Permasalahan tersebut terlihat pada lahan pertanian tadah hujan di Kabupaten Rembang, khususnya wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Rata-rata musim hujan yang berlangsung sekitar 6-7 bulan menyebabkan petani kesulitan melakukan dua kali masa tanam secara optimal. Sementara itu, satu siklus pertumbuhan padi memerlukan waktu sekitar 4 bulan. Akibat keterbatasan waktu dan ketidakpastian cuaca, panen pertama umumnya mampu menghasilkan 5-6 ton per hektare, sedangkan panen kedua menurun hingga sekitar 3 ton per hektare karena tanaman belum mencapai fase pertumbuhan maksimal saat musim kemarau datang.
Selama ini, penentuan waktu tanam masih dilakukan secara konvensional berdasarkan kebiasaan turun-temurun, seperti memulai pengolahan lahan setelah hujan pertama turun. Cara tersebut belum mempertimbangkan prediksi durasi musim hujan secara menyeluruh sehingga risiko gagal panen masih tinggi.
Berdasarkan kondisi tersebut, dikembangkan inovasi DOPEK (Double Impact) sebagai sistem berbasis website yang membantu petani dalam menyusun jadwal tanam dengan memanfaatkan data prakiraan cuaca melalui integrasi API dan mengolahnya menjadi rekomendasi waktu tanam yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan padi. DOPEK juga dilengkapi dengan fitur perencanaan biaya, pemantauan fase tanam, serta rekomendasi penggunaan alat mekanis untuk meningkatkan efisiensi. Inovasi ini berawal dari hasil observasi lapangan dan diskusi dengan petani, yang kemudian dikembangkan menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan. Dengan adanya DOPEK, diharapkan petani dapat mengelola waktu tanam secara lebih tepat sehingga hasil panen menjadi lebih optimal dan stabil, serta berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan program swasembada pangan nasional.

DIDOPEK adalah inovasi sistem manajemen tanam padi berbasis API (Application Programming Interface) yang mengintegrasikan prakiraan cuaca BMKG, manajerial sistem tani, dan mekanisasi pertanian untuk mengatasi defisit waktu tanam di lahan tadah hujan. Keunggulan DIDOPEK adalah sebagai berikut:

1.    Ketepatan Waktu Tanam Sebagai Mitigasi Gagal Panen

I          novasi DIDOPEK berbasis API (Application Programming Interface) ini membantu petani menentukan hari mulai tanam yang paling tepat berdasarkan data curah hujan real-time dan prakiraan musim dari BMKG untuk mengetahui cuaca berdasarkan lokasi petani, lalu mencocokkan data cuaca dengan fase tanaman menggunakan rumus penanaman teknik tandur. Selama ini, petani di Rembang memulai pengolahan lahan saat hujan pertama turun, tanpa mengetahui berapa lama musim hujan akan berlangsung. Akibatnya, panen kedua sering gagal karena kemarau datang sebelum padi memasuki masa pembesaran.

          Dengan DIDOPEK, petani mendapatkan informasi kapan musim hujan dimulai, berapa lama durasinya, dan kapan waktu terakhir yang aman untuk memulai tanam kedua. Teknologi ini memungkinkan petani untuk memundurkan atau memajukan jadwal tanam secara presisi sehingga risiko gagal panen akibat kemarau yang datang terlalu cepat dapat ditekan secara signifikan. Dengan kata lain, DIDOPEK mengubah ketidakpastian musim menjadi jadwal yang terukur.

2.    Efisiensi Keuangan melalui Perhitungan sistematis

          DIDOPEK menawarkan sistem menghitung secara sistematis untuk seluruh biaya yang akan dikeluarkan petani dalam satu siklus tanam hingga panen. Petani dapat mengetahui di awal musim berapa kebutuhan biaya untuk pengolahan lahan, pembibitan, pupuk, tenaga kerja, dan panen. Perhitungan ini juga membandingkan antara metode tradisional (manual) dengan metode usulan DIDOPEK.

          Dengan perbandingan biaya yang jelas, petani bisa memilih metode yang paling menguntungkan. DIDOPEK dapat menunjukkan bahwa meskipun sewa alat panen mekanis terlihat mahal di awal, namun jika dihitung dari total waktu panen yang lebih singkat dan hasil panen yang lebih banyak karena tidak terbuang akibat panen manual yang lama, maka pengeluaran tersebut justru lebih efisien. Petani juga bisa merencanakan modalnya secara lebih matang karena semua angka sudah terlihat sejak awal musim.

3.    Memberi gambaran perbandingan penggunaan alat mekanis

          Salah satu kendala utama petani Rembang adalah waktu panen yang terlalu lama jika dilakukan secara manual. Dalam metode tradisional, panen 1 hektare padi membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu berminggu-minggu. Sisa waktu ini kemudian mengurangi jeda antara panen pertama dan persiapan tanam kedua.

          DIDOPEK memberikan perbandingan secara visual dan angka antara panen manual dan panen mekanis misalnya penggunaan combine harvester. Petani dapat melihat secara langsung berapa hari waktu yang dihemat, berapa banyak hasil panen yang tidak tercecer, dan berapa biaya tenaga kerja yang ditekan jika menggunakan alat mekanis. Dengan visual yang jelas, petani tidak lagi ragu untuk beralih ke mekanisasi karena mereka melihat sendiri keuntungannya. Dari sisi kualitas, DIDOPEK meningkatkan produktivitas lahan tadah hujan tanpa perlu membuka lahan baru. Dari sisi biaya, berdasarkan uji coba di kelompok tani Karsa Tani, total biaya produksi per hektar per siklus turun dari Rp17.180.000 menjadi Rp14.780.000 (hemat 14%). Dengan dua kali panen optimal, keuntungan bersih petani mencapai Rp47.440.000 per hektar per tahun.

4.    Ramah terhadap Petani Tradisional

          DIDOPEK dirancang khusus agar tidak memaksa petani meninggalkan kebiasaan turun-temurun yang sudah mereka jalani puluhan tahun. Web website dalam DIDOPEK bekerja sebagai pendamping petani sehingga informasi dan visualisasi yang disampaikan kepada petani disajikan dalam bentuk sederhana, seperti tanggal mulai olah lahan, tanggal masa panen, musim hujan tahun tertentu diperkirakan berlangsung berapa bulan, sehingga tanam kedua aman dilakukan jika dimulai sebelum tanggal tertentu. Dengan DIDOPEK, petani tidak dipaksa berubah secara drastis mengikuti sistem teknologi yang rumit, sebaliknya petani disajikan sistem adaptif yang dapat lebih mudah dipahami sehingga tingkat adopsi inovasi menjadi lebih tinggi dibandingkan teknologi pertanian lain yang sering gagal karena tidak berdasar atas budaya turun-temurun petani lokal.

Nama : Jaynika Halwa Muhimmah
Alamat : Jl. Rembang - Blora, Pedak Pulo, Pedak, Kec. Sulang, Kabupaten Rembang
No. Telepon : 083117486788