Rengket: Inovasi Rengginang Ketela Gluten Free, Camilan Lokal Bernutrisi Tinggi

Singkong (Manihot esculenta) atau lebih dikenal dengan nama ketela pohon atau ubi kayu sebagai tanaman tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae merupakan bahan pangan lokal yang melimpah di Kabupaten Blora. Ia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan daerah. Namun, dalam pemanfaatannya masih belum optimal karena kurangnya pemahaman masyarakat yang cenderung menganggap singkong sebagai bahan makanan tradisional yang kurang menarik dan cenderung membosankan. Maka, salah satu upaya untuk menghadapi persoalan tersebut adalah produk Rengket (Rengginang Ketela), sebuah inovasi pangan berbasis singkong yang menggabungkan cita rasa khas tradisional dengan diberi sentuhan modern. Selain sebagai pemberdayaan bahan pangan lokal, produk ini juga merupakan solusi dalam memberdayakan UMKM di Blora, yaitu melalui penciptaan produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi, berbasis lokal, dan dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda. Keunggulan produk Rengket, di antaranya adalah produk gluten free, kaya serat, serta mudah dikreasikan dalam berbagai varian rasa yang diminati generasi saat ini. Melalui inovasi ini, diharapkan dapat menciptakan usaha mikro yang kreatif dan berkelanjutan, serta juga memperkuat posisi Blora sebagai daerah yang kaya akan kearifan lokal.

Kata Kunci: Singkong, Rengket, Gluten Free, dan UMKM

Singkong (Manihot esculenta) merupakan salah satu sumber karbohidrat utama yang banyak tumbuh di Indonesia, termasuk di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Tanaman ini memiliki keunggulan sebagai bahan pangan karena mudah dibudidayakan. Ia memiliki kemampuan untuk tumbuh dalam berbagai kondisi tanah serta tahan terhadap kondisi kering. Menurut sebuah penelitian, singkong tidak hanya dapat menjadi alternatif pengganti beras, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang kaya seperti serat, vitamin C, dan senyawa bioaktif yang baik untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, singkong juga tidak mengandung gluten (gluten free) sehingga aman bagi penderita penyakit celiac atau mereka yang ingin menghindari gluten dalam dietnya. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dalam bentuk produk pangan yang inovatif dan bernilai jual tinggi. Pemanfaatan singkong di kalangan masyarakat masih terbatas pada bentuk olahan konvensional sehingga kurang menarik minat generasi muda dan kurang memiliki daya saing di pasar modern.

Perkembangan industri pangan saat ini mendorong terciptanya produk lokal yang tidak hanya lezat, tetapi juga sehat, praktis, dan dapat diterima berbagai kalangan. Sebagai upaya untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan inovasi olahan singkong yang berbeda dan menarik dengan tetap mempertahankan nilai tradisional dan dikemas dalam bentuk yang lebih modern. Oleh karena itu, Rengket (Rengginang Ketela) hadir sebagai solusi inovatif camilan sehat bebas gluten yang menggabungkan potensi lokal dengan pendekatan kreatif dan memiliki nilai jual tinggi. Rengket merupakan produk camilan renyah berbahan dasar ketela atau singkong yang diproses dengan teknik pengolahan higienis, tanpa bahan pengawet, dan tersedia dalam beragam varian rasa yang disukai generasi muda. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas citra singkong dari sekadar pangan tradisional menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing tinggi di pasar nasional hingga internasional.

Lebih dari sekadar inovasi pangan, pengembangan produk Rengket juga bertujuan untuk mendorong pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Blora. Menurut (Haryo Limanseto, 2021), UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah dan memainkan peran strategis dalam penyerapan tenaga kerja serta penguatan ekonomi lokal, dan  mendorong  pertumbuhan  ekonomi  yang  lebih  inklusif.  Dengan

 

memanfaatkan bahan baku lokal yang murah dan mudah dijangkau, Rengket memiliki peluang tinggi untuk dijadikan usaha industri yang berkelanjutan.

Kemudian, salah satu cara untuk membangun ekonomi masyarakat yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan dasar produk UMKM. Singkong atau ketela pohon merupakan komoditas pangan lokal yang sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat Blora karena tidak memerlukan perawatan intensif. Namun, dalam satu dekade terakhir, minat masyarakat terhadap budidaya singkong mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Blora, luas panen ketela pohon pada tahun 2024 tercatat hanya sebesar 345 hektar, jauh menurun dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 1.502 hektar dengan total produksi sebesar 43.211 ton (BPS Blora, 2015; 2024). Hal ini menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam pemanfaatan singkong. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan tantangan dari sisi produksi, namun juga mencerminkan menurunnya nilai jual dan rendahnya inovasi dalam pengolahan produk berbahan dasar singkong. Padahal, singkong sangat berpotensi untuk diolah menjadi makanan ringan inovatif dan kekinian seperti Rengket (Rengginang Ketela).

Melalui inovasi produk Rengket, singkong tidak hanya diberdayakan sebagai bahan baku utama, tetapi juga membuka peluang usaha baru di sektor UMKM. Produk ini juga berpotensi besar diterima oleh pasar karena menarik dan sesuai tren konsumsi generasi muda saat ini. Dengan demikian, inovasi Rengket tidak hanya hadir sebagai camilan ringan, tetapi juga sebagai upaya pelestarian pangan lokal yang memperkuat ekonomi berbasis ketahanan pangan daerah.

Rengket (Rengginang Ketela) merupakan inovasi pangan yang menggunakan singkong sebagai alternatif bahan baku yang lebih murah, mudah didapat di Blora, dan kaya akan serat serta nutrisi. Produk ini sudah mendapatkan lisensi Halal MUI dan diolah tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan, sehingga lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi bagi semua orang. Dikemas secara menarik dan tahan lama, membuatnya memiliki daya saing sebagai oleh-oleh khas Blora yang telah dikenal secara luas di seluruh Indonesia. Dari segi rasa, tampilan, dan tekstur, Rengket menghadirkan pengalaman baru bagi para pecinta singkong untuk menikmati singkong dalam bentuk camilan yang gurih, renyah, dan unik. Maka, inovasi ini menjadi solusi kreatif untuk mengangkat nilai singkong yang sering dianggap sebelah mata.

Nama : Tatas Wantah Sih Handayani
Alamat : Jalan Barito No 16, Kel. Kedungjenar, Kec. Blora, Kab. Blora
No. Telepon : 085325708377