Latar Belakang: Whey protein, Tepung daun kelor dan ekstrak kulit melinjo adalah produk pangan lokal dari Kabupaten Semarang dan mempunyai nilai protein dan anti oksidan tinggi, berpotensi diolah menjadi produk inovasi bagi pasien kanker selama perawatan paliatif.
Tujuan penelitian: mengetahui proses pembuatan formula enteral Canze, serta implementasi pada pasien kanker
Metode penelitian Desain penelitian yaitu pretest - posttest without control group design. Implementasi formula enteral Canze diberikan pada pasien kanker dalam perawatan paliatif sejumlah 5 orang dan diberikan selama 14 hari.
Hasil penelitian: parameter aroma, rasa, dan tampilan fisik menunjukkan formula enteral Canze A mempunyai skor lebih tinggi dibandingkan formula B. Implementasi pada pasien kanker dilakukan selama 14 hari. Tidak ada pengaruh terhadap berat badan penyintas kanker setelah pemberian Enteral Canze dengan nilai p=0.180, untuk asupan protein menunjukkan ada pengaruh asupan protein bagi penyintas kanker setelah mengkonsumsi enteral Canze dengan nilai signifikansi p-value<0,05, sedangkan untuk rasa mual muntah pada perawatan paliatif menunjukkan 5 orang penyintas kanker pada saat konsumsi enteral Canze 100% tidak mengalami mual muntah. Analisis nilai gizi enteral Canze dilakukan di Center Food and Agriculture UNIKA Semarang dengan hasil (dalam %): air 6,36 ±0,13, protein 43,522± 2,119, abu 2,372±0,510, lemak 3,379±0,578, karbohidrat 44,365±2,685, aktivitas antioksidan 14,337±0,426.
Kesimpulan: Modifikasi makanan enteral Canze layak menjadi produk inovasi untuk penderita kanker selama menjalani perawatan paliatif
Kata kunci: Modifikasi, Enteral, Canze, Paliatif
Data Global Cancer Observatory pada tahun 2022 menunjukkan Indonesia mengalami 408.661 kasus kanker baru dengan angka kematian sebesar 242.099 atau lebih dari 50 persen dari total kasus secara keseluruhan. Dari sejumlah kasus yang ada, lima jenis kanker yang paling banyak ditemui baik pada laki-laki maupun perempuan Indonesia adalah kanker payudara, paru, serviks, kolorektal atau usus besar dan rektum, serta hati. Tanpa adanya intervensi, jumlah tersebut diprediksi akan meningkat sebesar 63% antara tahun 2025 hingga 2040 yang tentunya akan membebani sistem kesehatan masyarakat dan komunitas.
Penyakit kanker dan proses terapinya (pembedahan, kemoterapi, radioterapi) sering menyebabkan penurunan asupan makan seperti penurunan nafsu makan, gangguan pengecapan, kesulitan dan nyeri menelan, serta mual dan muntah (Yayasan Kanker Indonesia, 2021). Efek samping kemoterapi yang sering dialami oleh pasien kanker adalah mual/muntah, kehilangan nafsu makan, kerontokan rambut, mulut terasa pahit dan kering, sariawan, mudah lelah, penurunan kekebalan tubuh dan perubahan seksual (Nursalam, 2022). Energi tubuh sangat dibutuhkan oleh pasien kanker lebih banyak dibandingkan orang sehat untuk menunjang replikasi sel yang cepat. Modifikasi penggunaan energi oleh sel kanker dalam kondisi laju metabolisme yang tinggi (hipermetabolisme) dan ketidakmampuan tubuh beradaptasi dengan rendahnya asupan makanan menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme zat gizi, yaitu glukosa, protein dan lemak. Kanker dapat mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan dan malnutrisi (cancer cochexia) yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu asupan makanan yang tidak adekuat (Kurniasari, et all, 2017).
Asupan protein hewani yang cukup akan menghasilkan asam amino esensial yang cukup untuk terus memelihara massa otot dan sintesis protein otot. Sehingga apabila asupan protein hewani cukup maka akan mencegah hilangnya massa otot (ReidMcCann et al., 2022). Protein hewani memberikan rangsangan anabolik yang lebih besar dibandingkan dengan makanan berprotein nabati dan oleh karena itu lebih baik untuk kesehatan otot. Protein hewani sangat penting selama pengobatan aktif kanker untuk mencegah hilangnya massa otot yang merugikan dan meningkatkan anabolisme otot (Aprile et al., 2021)
Upaya diversifikasi pangan dengan memanfaatkan tumbuhan lokal, seperti daun kelor (Moringa oleifera) dan kulit melinjo (Gnetum gnemon) serta protein hewani merupakan salah satu alternatif untuk penganekaragaman dalam pembuatan formula untuk pasien kanker. Diversifikasi produk tanaman lokal dan protein hewani dapat menghasilkan pangan fungsional yang disamping dapat memenuhi kebutuhan gizi pasien kanker, yang menjalani kemoterapi dan mengalami mual/muntah, kehilangan nafsu makan, kerontokan rambut, mulut terasa pahit dan kering, sariawan, mudah lelah, penurunan kekebalan tubuh dan perubahan seksual.
Betakaroten pada Moringa oleifera juga telah terbukti bertindak sebagai antioksidan. Kombinasi dari banyak kandungan antioksidan yang ditemukan dalam daun Moringa oleifera terbukti lebih efektif daripada antioksidan tunggal, karena mekanisme sinergis dan peningkatan mekanisme cascade antioksidant (Berawi et al, 2019). Selain antioksidan, daun kelor juga mengandung isothiocyanate yang berperan sebagai antikanker. Isothiocyanate berfungsi untuk menghambat proses angiogenesis. Selama perkembangan kanker, angiogenesis dapat diinduksi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah hipoksia akibat difusi oksigen yang terbatas (Hartono et all, 2019). Kulit melinjo memiliki potensi lebih besar sebagai antikanker. Adanya etil asetat memiliki efek sitotoksisitas tertinggi, hal ini dikarenakan fraksi etol asestat mengandung beberapa senyawa aktif seperti flavonoid, triterpenoid dan alkaloid yang telah terbukti memiliki efek antikanker (Elufioye TO et al, 2017).
Kandungan antioksidan pada daun kelor, etil asetat pada kulit melinjo dan protein pada whey protein menjadikan Modifikasi Formula Enterla Canze berpotensi untuk diolah kembali menjadi produk Formula Enteral yang dapat diberikan kepada pasien / penyintas kanker sehingga dapat memberikan sumbangan protein dan antioksidan yang tinggi untuk mendukung asupan zat gizi pada saat perawatan paliatif.
Salah satu masalah gizi yang erat kaitannya dengan kanker adalah malnutrisi. Malnutrisi timbul sebagai akibat tidak tercukupinya zat gizi yang masuk, sedangkan pada pasien kanker terjadi peningkatan kebutuhan. Anoreksia, mual, muntah, gangguan pengecapan dan sariawan merupakan gejala yang berperan dalam pengaturan makan pada pasien kanker (Susetyowati, Pangastuti, Dwidanarti, & Wulandari, 2018) Keunggulan makanan Modifikasi Enteral Canze dengan penggunaan bahan pangan lokal :
1) Mempertahankan status gizi
Nutrisi enteral memastikan asupan nutrisi yang adekuat bagi pasien yang tidak dapat makan atau minum dalam jumlah yang cukup, membantu mencegah penurunan berat badan dan kekurangan gizi yang dapat memperburuk kondisi pasien.
2) Mencegah malnutrisi
Nutrisi enteral dapat membantu mencegah atau mengatasi malnutrisi, yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memperlambat pemulihan
3) Meningkatkan kualitas hidup
Dengan memenuhi kebutuhan nutrisi, produk enteral dapat membantu pasien merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi, dan mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik selama perawatan paliatif.
4) Pilihan yang lebih aman
Pada pasien dengan risiko aspirasi (masuknya makanan ke paru-paru), nutrisi enteral dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan dengan pemberian makan oral.
5) Fleksibilitas
Produk enteral tersedia dalam berbagai formulasi dan metode pemberian (misalnya, melalui selang, pompa, atau suntikan), yang memungkinkan penyesuaian berdasarkan kebutuhan dan preferensi pasien.
6) Dukungan Psikologis
Pemberian nutrisi enteral juga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pasien dan keluarga, karena mereka tahu bahwa pasien mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
| Nama | : | Ike Listiyowati |
| Alamat | : | Gedang Asri II/24 RT 6 RW 8 Gedang Anak Ungaran Timur |
| No. Telepon | : | +62 812-3706-1535 |