Kasus hilangnya Yazid Ahmad Firdaus di Bukit Mongkrang, Karanganyar, menjadi perhatian publik karena proses pencarian berlangsung lama dan penuh tantangan. Yazid dilaporkan hilang sejak 18 Januari 2026 saat mendaki bersama rekannya, dan baru ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah 23 hari pencarian (Dennys, 2026). Penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan dan mengembangkan inovasi yang dapat membantu proses evakuasi korban bencana. Hasilnya, dalam penelitian ini dikembangkan inovasi yang berjudul EMRON (Emergency Drone). EMRON adalah drone yang dikembangkan untuk membantu petugas penanganan bencana dalam mencari korban bencana. EMRON memiliki kamera yang berfungsi untuk mencari korban via visualisasi. EMRON juga dilengkapi dengan sistem pendeteksi suhu tubuh yang dapat membantu menemukan lokasi akurat dari korban bencana. Ketika EMRON mendeteksi adanya suhu tubuh yang sesuai dengan suhu tubuh manusia, EMRON akan mengirim emergency call atau pesan darurat berupa titik koordinasi korban kepada Channel Telegram yang sudah terintegrasi dengan EMRON.
Kasus hilangnya Yazid Ahmad Firdaus di Bukit Mongkrang, Karanganyar, menjadi perhatian publik karena proses pencarian berlangsung lama dan penuh tantangan. Yazid dilaporkan hilang sejak 18 Januari 2026 saat mendaki bersama rekannya, dan baru ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah 23 hari pencarian (Dennys, 2026). Kronologi menunjukkan bahwa Yazid terpisah dari rombongan saat perjalanan turun dan komunikasi terputus, sehingga menyulitkan tim SAR dalam menemukan keberadaannya (CNN, 2026). Peristiwa ini menegaskan bahwa pencarian korban hilang di daerah pegunungan membutuhkan dukungan teknologi yang lebih canggih untuk mempercepat proses evakuasi.
Kabupaten Karanganyar memiliki tingkat ancaman multi bencana yang cukup tinggi karena kondisi geografisnya yang mencakup dataran rendah hingga lereng Gunung Lawu. Data BPBD mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 terjadi 261 bencana, dengan dominasi tanah longsor dan angin ribut (Wardani, 2026). Kajian Universitas Sebelas Maret juga menegaskan bahwa Karanganyar rawan terhadap lima jenis bencana utama, yaitu longsor, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem (Hantoro dkk., 2024). Peraturan Bupati Nomor 83 Tahun 2022 bahkan secara khusus mengatur kajian risiko bencana untuk wilayah ini (JDIH BPK RI, 2022). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi pencarian korban bencana di Karanganyar sangat mendesak.
Penelitian sebelumnya telah mengembangkan drone berbasis mikrokontroler yang dilengkapi dengan sensor suhu tubuh manusia, seperti AMG8833, untuk mendeteksi keberadaan manusia dari jarak jauh (Maareof & Firmawati, 2023). Sistem ini terbukti mampu membaca suhu tubuh secara telemetri dan mengirimkan data secara real-time kepada petugas SAR. Selain itu, integrasi drone dengan teknologi komunikasi darurat (emergency call) telah dikaji sebagai solusi untuk mempercepat pencarian korban bencana di berbagai negara (Grehenson, 2025). Dengan kombinasi sensor suhu tubuh dan sistem komunikasi darurat, drone dapat menjadi alat yang efektif untuk mendeteksi keberadaan korban sekaligus mengirimkan sinyal lokasi kepada tim penyelamat.
Karena itulah kami mengembangkan produk yang berjudul “EMRON (Emergency Drone) Drone Pencari Korban Bencana dengan Sistem Panas Tubuh dan Emergency Call”.
a. Terdapat modul kamera untuk memantau dan mencari korban via visualisai.
b. Terdapat modul thermogun sebagai system pendeteksi panas tubuh.
c. Terintegrasi dengan aplikasi Telegram untuk media pelaporan hasil obervasi.
d. Terdapat system emergency call atau pesan darurat yang berisi titik koordinasi korban.
| Nama | : | Mayrinda Asfi Nafisyah |
| Alamat | : | Jl. Solo - Purwodadi No.Km 12, Tuban Kulon, Tuban, Kec. Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57188 |
| No. Telepon | : | 089520046502 |