Permen Tepung Biji Salak pondoh

Latar belakang : Remaja putri merupakan kelompok usia berisiko tinggi anemia. Proses menstruasi pada remaja putri menyebabkan kebutuhan mereka akan zat besi jumlahnya tiga kali lipat dibandingkan remaja putra. Bila tidak didukung dengan pola asupan zat besi yang baik, maka pada periode menstruasi kadar hemoglobin dalam darah akan rendah.

Permasalahan yang di akan dipecahkan : Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas dan potensi anemia. Untuk mencegah kondisi ini, pemerintah telah mengintroduksi suplemen zat besi setiap 1x/pekan selama satu tahun dalam bentuk tablet Fe 60 mg. Namun sering dijumpai bahwa tablet Fe tersebut tidak dikonsumsi rutin dikarenakan rasa dan aromanya yang kurang disukai. Persepsi negatif obat dan durasi konsumsi yang lama semakin mendegradasi animo dan konsistensi konsumsi tablet Fe tersebut.

Metode inovasi : Produk pangan kaya akan Fe alami berbasis potensi lokal yang memiliki cita rasa yang disukai. Banjarnegara merupakan salah satu sentra salak di Indonesia. Biji salak yang merupakan produk samping dari salak, dikenal memiliki kandungan Fe yang tinggi. Pengolahan biji salak menjadi permen dinilai menjadi alternatif solusi yang tepat. Selain dapat menjadi sumber asupan Fe bagi remaja putri, pengolahan permen salak ini juga menjadi alternatif bagi diversifikasi olahan biji salak yang selama ini kurang termanfaatkan. Permen biji salak dinilai memiliki sifat sensoris yang disukai, praktis, serta kekinian, sehingga akan disukai oleh para remaja putri yang

Hasil/ dampak dari inovasi tersebut yaitu terdapat peningkatan kadar hemoglobin remaja putri di SMPN 1 Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara meningkat 0,726 gr%. Permen yang diberikan enak, tidak berbau, manis dan remaja putri tidak merasa enek.

Remaja putri merupakan salah satu kelompok usia berisiko tinggi anemia. Di Indonesia prevalensi anemia pada remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) mencapai 32% sedangkan anemia mencapai 84,6% pada usia yang sama dengan kehamilan (1). Anemia merupakan keadaan dimana kadar hemoglobin atau sel darah merah didalam tubuh tidak normal (2). Anemia pada remaja putri lebih tinggi dibanding dengan remaja laki-laki, karena di setiap bulannya remaja putri mengalami menstruasi dan proses tumbuh kembang yang sangat pesat dimana membutuhkan zat besi tiga kali lipat dari remaja laki-laki (3). Faktor penyebab anemia adalah kurangnya zat gizi dalam pembentukan darah yaitu zat besi, protein, asam folat dan B12 (2). Untuk mencegah dan menanggulangi anemia pada remaja putri berbagai upaya sudah dilakukan yaitu dengan memberikan suplemen zat besi 1x/pekan selama satu tahun dengan 60mg Fe dalam bentuk ferro sulfat (4). Berdasarkan penelitian sebelumnya banyak remaja putri yang tidak patuh mengkonsumsi tablet fe tersebut karena memiliki rasa tidak enak dan bau amis. Bosan, lupa dan malas minum juga dilaporkan menjadi penyebab hal tersebut (5). Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan bahan alami tinggi Fe yang diolah menjadi produk pangan yang disukai. Permen dari biji salak pondoh dinilai menjadi pilihan yang tepat karena tinggi kandungan Fe, mudah dikreasikan sesuai preferensi konsumen, praktis, kekinian, dan memanfaatkan produk samping komoditas potensial daerah (4). Untuk memaksimalkan penerimaan konsumen dan konsistensi konsumsi permen biji salak, maka kami memiliki startegi pemecahan masalah dengan (1) memperoduksi permen biji salak dengan rasa yang manis, aroma, warna, bentuk, ukuran, dan tekstur yang menarik, (2) memanfaatkan teman sebaya sebagai kelompok pengingat konsumsi permen biji salak.

Biji salak memiliki kandungan Fe lebih tinggi dibandingkan buah salak segar karena biji salak dibuat tepung kemudian di olah menjadi permen sebagai upaya pemanfaatan biji salak yang selama ini hanya bernilai sebagai limbah produksi

Beberapa penelitian sebelumnya telah mengindikasikan adanya potensi pemanfaatan buah salak dan produk sampinganya sebagai alternatif mengatasi anemia, yaitu dengan memanfaatkan biji salak yang dibuat menjadi tepung biji salak maupun menggunakan kulit salak untuk dibuat teh. Hasil penelitan tersebut menunjukkan bahwa tepung biji salak dapat digunakan untuk mengembalikan kadar Hb tikus model anemia menjadi normal pada dosis 1,86g/100g/BB selama 4 minggu dan 3,72 g/100g/BB selama 2 minggu. Selain itu tepung biji salak yang diproses menjadi jeli biji salak, dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang siginfikan pada remaja putri yang mengalami anemia ketika diberikan selama 60 hari. Permen berjenis soft candy dengan bahan dasar biji salak pondoh Banjarnegara yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin remaja putri. Pada tahap awal akan dilakukan produksi dan evaluasi terhadap permen soft candy berbahan dasar biji salak pondoh Banjarnegara. Pada Tahap berikutnya, permen diberikan pada remaja putri dan dievaluasi efektivitasnya dalam menurunkan prevalensi anemia. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, bahwa bahan baku biji salak umumnya baru dikreasikan menjadi kukis, jelly, maupun agar-agar. Tetapi saat proses uji coba tidak suka karena ada rasa pahit dan tidak nyaman seperti pasir.

Nama : Umi Nur Fajri
Alamat : Jalan Raya Kenteng Km.02, Kelurahan Kenteng, Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara
No. Telepon : 085214594590