Permasalahan pengelolaan limbah organik di lingkungan sekolah, khususnya dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan karena berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan menurunkan kebersihan lingkungan sekolah. Di sisi lain, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, menjadi kebutuhan penting dalam menjaga kesehatan peserta didik. Oleh karena itu, dikembangkan inovasi Ecofruit Soap, yaitu sabun cuci tangan ramah lingkungan berbasis ecoenzyme dari limbah kulit buah seperti jeruk, pisang, melon, nanas, dan buah naga.
Ecofruit Soap dibuat melalui proses fermentasi limbah kulit buah menjadi ecoenzyme yang kemudian diformulasikan sebagai sabun cair ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik sekolah, tetapi juga mendukung kebersihan tangan dan kesehatan lingkungan sekolah. Penerapan inovasi dilakukan bersama Tim GEMAS (Gerakan Muda Asri Sekolah) sebagai media pembelajaran berbasis proyek yang meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya PHBS, pengelolaan limbah, dan pelestarian lingkungan. Dengan inovasi ini, diharapkan tercipta lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, edukatif, dan berkelanjutan.
Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu krusial di Indonesia, tidak hanya pada skala masyarakat umum, tetapi juga di lingkungan institusi pendidikan. Berbagai program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sering kali diiringi dengan peningkatan timbulan limbah, khususnya limbah organik. Salah satu contoh kebijakan pemerintah adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, yang dirancang untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan peserta didik. Namun, pelaksanaan program ini secara tidak langsung menghasilkan limbah organik harian berupa kulit buah dan sisa makanan lain, yang berpotensi menambah volume sampah sekolah apabila manajemen limbahnya belum optimal serta dapat memengaruhi kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah.
Menurut laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), penerapan program MBG berpotensi menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar karena setiap porsi makanan diperkirakan menyumbang 25–50 gram sampah, dan jika program tersebut menyasar sekitar 17 juta siswa, potensi timbulan sampah organik harian berkisar antara 425 hingga 850 ton per hari (Tempo, 2025). Limbah organik yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya berpotensi meningkatkan pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca, tetapi juga dapat menimbulkan bau tidak sedap dan menjadi media berkembangnya mikroorganisme yang dapat mengganggu kesehatan lingkungan sekolah. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan limbah yang terintegrasi dengan upaya menjaga kebersihan dan kesehatan warga sekolah.
Limbah kulit buah yang dihasilkan dari Program MBG umumnya masih diperlakukan sebagai sampah sisa yang langsung dibuang bersama sampah lainnya. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, antara lain peningkatan volume sampah, bau tidak sedap, serta risiko berkembangnya mikroorganisme patogen di lingkungan sekolah. Pengelolaan limbah organik yang belum terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan program kesehatan dan upaya perlindungan lingkungan, khususnya di satuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang tidak hanya mampu mengurangi limbah organik, tetapi juga mendukung kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah.
Di sisi lain, kulit buah seperti jeruk memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali karena mengandung berbagai senyawa bioaktif alami, seperti fenolik, tanin, saponin, dan terpenoid yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri (Khasanah et al., 2022). Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa ekstrak kulit buah tertentu, seperti kulit jeruk dan pisang, berpotensi digunakan sebagai bahan baku produk kebersihan ramah lingkungan, termasuk sabun cuci tangan (Hidayah et al., 2025). Pemanfaatan ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga mendukung penggunaan produk kebersihan berbahan alami yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Sabun cuci tangan merupakan sarana penting dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolah. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun terbukti efektif dalam menurunkan risiko penyakit infeksi, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan, terutama pada anak usia sekolah (WHO, 2020; Kemenkes RI, 2018). Oleh karena itu, pengolahan kulit buah dari Program MBG menjadi sabun cuci tangan ramah lingkungan merupakan inovasi yang relevan dan aplikatif dalam mendukung kesehatan peserta didik sekaligus menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Melalui inovasi ini, limbah kulit buah dari Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dikelola secara berkelanjutan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual bagi peserta didik. Kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya PHBS, mengembangkan keterampilan pengelolaan sampah, serta menanamkan nilai kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan sejak dini. Dengan demikian, pengolahan sampah kulit buah MBG menjadi Ecofruit Soap diharapkan mampu menjadi solusi integratif yang menghubungkan aspek kesehatan, lingkungan, dan pendidikan dalam satu pendekatan berkelanjutan.
Keunggulan produk inovasi Ecofruit Soap (Pemanfaatan Sampah Kulit Buah MBG menjadi Sabun Cuci Tangan Ramah Lingkungan):
| Nama | : | Eko Agus Haryanto, S.Pd. |
| Alamat | : | Jalan PR Sukun, Gondosari, Gebog, Kudus |
| No. Telepon | : | 081225843280 |