Pemanfaatan Limbah Pabrik Tahu dan Limbah Batang Pohon Pisang sebagai Bahan Pembuatan Pelet Pakan Ternak Kambing

Sektor peternakan kambing di Bandungan menghadapi kendala tingginya biaya pakan, yang mencapai 70% dari total biaya produksi, serta rendahnya efisiensi pakan berbentuk mash atau serbuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan pemanfaatan limbah pertanian lokal ampas tahu dan batang pisang yang banyak tersedia si sekitar lokasi penelitian sebagai bahan baku utama pakan pelet untuk meningkatkan efisiensi biaya dan performa ternak kambing di Desa Jimbaran, Bandungan. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan menguji dua formulasi pakan, di mana Formulasi 2 (T2) ditambahkan dengan menambahkan tepung terigu sebagai bahan pengikat dan mengurangi proporsi batang pisang serta inokulan EM4. Bahan baku limbah difermentasi terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air, memecah serat kasar, dan memperpanjang umur pakai dan umur simpan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formulasi 2 (T2) menghasilkan kualitas fisik pelet yang lebih unggul dibandingkan T1. Uji organoleptik pada T2 menunjukkan warna yang lebih cerah, konsistensi yang lebih padat, dan bau yang lebih segar serta tidak menyengat. Uji palatabilitas pada lima ekor kambing menunjukkan daya terima yang tinggi pada T2, dengan sisa pakan rata-rata hanya 89,2 gram dan sebagian besar (+40%) masih utuh, jauh lebih baik daripada T1. Secara biologis, pemberian pelet T2 selama 10 hari menunjukkan peningkatan berat badan rata-rata 180 gram per hari tanpa adanya gangguan pencernaan. Meskipun demikian, uji proksimat menunjukkan kadar protein pelet T2 (12,30%) masih di bawah standar SNI (minimal 15%).

Sektor peternakan, khususnya ternak kambing kecil menghadapi kendala utama pada tingginya biaya pakan, yang dapat mencapai 70% dari total biaya produksi ternak (Nguyen et al, 2023; Pulina et al, 2018). Di banyak sentra peternakan kambing khususnya di Bandungan, pakan yang diberikan masih terbatas pada hijauan dengan dedak padi atau konsentrat seadanya. Selain itu, pakan yang disajikan dalam bentuk serbuk atau mash cenderung memiliki efisiensi rendah karena banyak yang tercecer dan terbuang. Untuk meningkatkan efisiensi perlu dilakukan upaya pengolahan dengan merubah fisik pakan. Perubahan fisik pakan dengan mengolah output pertanian (bahan baku pakan segar) yang semula berharga rendah menjadi pakan olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan umur simpan/masa pakai lebih panjang (Sayoga, 2022). Salah satunya dengan pembuatan pakan dalam bentuk pelet karena dapat mengurangi pakan yang terbuang, meningkatkan konsumsi, daya cerna, dan akhirnya meningkatkan produktivitas ternak. Namun, manfaat ini hanya dapat dicapai jika pelet memiliki kualitas fisik yang baik dimana pelet tetap utuh selama proses penyimpanan penanganan dan pemberian pakan kepada ternak (Makkar, 2018; Muramatsu et al, 2015).

Nama : Azahra Aurel Navya A
Alamat : Jalan Jimbaran-Tegal Panas, Desa Jimbaran, Kec Bandungan, Kab Semarang
No. Telepon : 085713205012