Campak merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Measles dan memiliki tingkat penyebaran tinggi serta berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila terlambat ditangani. Keterlambatan deteksi dini di masyarakat masih menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko penularan campak. Oleh karena itu, dikembangkan CEMPAKA (Campak Early Monitoring Berparameter Klinis dan Analisis) sebagai wearable early warning system berbasis Arduino untuk membantu deteksi dini campak secara cepat dan real-time.
CEMPAKA bekerja dengan memantau suhu tubuh, denyut jantung, dan kadar oksigen darah (SpO?) melalui sensor fisiologis yang terintegrasi dengan teknologi arduino. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sistem klasifikasi risiko sehingga pengguna dapat mengetahui status kondisi dalam kategori aman, rentan, atau risiko tinggi. Sistem ini dirancang portabel, mudah digunakan, dan dapat diterapkan pada posyandu, puskesmas, sekolah, maupun skrining kesehatan masyarakat.
Berdasarkan hasil uji coba secara laboratorium, CEMPAKA menunjukkan performa yang responsif, akurat, dan layak digunakan sebagai alat skrining awal campak di masyarakat. Dengan desain yang praktis, biaya produksi yang terjangkau, serta potensi implementasi yang luas, inovasi ini siap dikembangkan lebih lanjut menuju tahap produksi dan komersialisasi sebagai teknologi preventif di bidang kesehatan masyarakat.
"Campak itu, satu orang bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang lainnya. Ini merupakan salah satu penyakit paling menular dan bisa berakibat fatal apabila terlambat ditangani."
— Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin
Campak merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Measles dan memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, konjungtivitis, serta ruam kemerahan pada kulit yang dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian apabila terlambat ditangani. Meskipun program imunisasi telah dilakukan secara luas, campak hingga saat ini masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat di Indonesia.
Tingginya kasus campak menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini masih tergolong rendah. Sebagian besar masyarakat baru melakukan pemeriksaan ketika gejala sudah memasuki kondisi berat, sedangkan pemantauan awal secara real-time di lingkungan masyarakat masih sangat terbatas. Hingga saat ini belum banyak tersedia alat deteksi dini campak yang praktis, portabel, dan dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat maupun tenaga kesehatan di lapangan. Kondisi tersebut menyebabkan proses identifikasi kasus sering terlambat sehingga meningkatkan risiko penularan yang lebih luas.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat terdapat 2.188 kasus suspek campak yang tersebar di 35 kabupaten/kota, dengan beberapa wilayah telah masuk dalam indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi permasalahan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius serta penguatan sistem deteksi dini berbasis masyarakat.
Urgensi penanganan campak semakin diperkuat dengan adanya kasus meninggalnya dokter muda berinisial AMW (26), peserta internship di RSUD Cimacan, Cianjur, akibat campak dengan komplikasi pneumonia berat pada Maret 2026. Kejadian tersebut menjadi bukti bahwa campak bukan hanya berisiko pada anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa dan menimbulkan kondisi fatal apabila terlambat terdeteksi. Kasus ini sekaligus menunjukkan adanya celah dalam sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit menular yang masih belum optimal di masyarakat.
Perkembangan teknologi kesehatan berbasis mikrokontroler memberikan peluang untuk menghadirkan solusi deteksi dini yang lebih efektif dan aplikatif. Pemanfaatan sensor fisiologis seperti suhu tubuh, denyut jantung, dan kadar oksigen darah (SpO?) memungkinkan pemantauan kondisi tubuh secara real-time sehingga potensi gejala awal campak dapat dikenali lebih cepat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekaligus membantu tenaga kesehatan dalam melakukan skrining awal secara lebih objektif dan efisien.
Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan inovasi CEMPAKA (Campak Early Monitoring Berparameter Klinis dan Analisis) sebagai wearable early warning system berbasis Arduino untuk mendukung deteksi dini campak secara real-time. Sistem ini dirancang dalam bentuk perangkat wearable yang praktis, portabel, dan mudah digunakan melalui monitoring parameter fisiologis pengguna. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan proses deteksi dini campak dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko keterlambatan penanganan dan penyebaran kasus di masyarakat dapat ditekan secara lebih optimal.
Teknologi yang baik bukan hanya canggih, tetapi mampu hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat.
CEMPAKA memiliki keunggulan sebagai sistem deteksi dini campak berbasis teknologi yang mampu melakukan pemantauan parameter fisiologis secara real-time melalui integrasi sensor suhu tubuh, denyut jantung, dan kadar oksigen darah (SpO?). Dalam aspek medis, ketiga parameter tersebut merupakan indikator penting yang sering mengalami perubahan pada pasien dengan infeksi virus campak, seperti hipertermia, peningkatan denyut jantung akibat respon inflamasi tubuh, serta penurunan saturasi oksigen pada kondisi komplikasi respiratorik.
Sistem CEMPAKA menggunakan sensor suhu MLX90614 untuk mendeteksi perubahan temperatur tubuh secara digital dengan tingkat sensitivitas tinggi. Sensor ini bekerja dengan membaca radiasi inframerah atau perubahan temperatur kontak yang kemudian dikonversi menjadi data suhu tubuh dalam satuan derajat Celsius. Pada aspek kardiovaskular, MAX30102 digunakan untuk mendeteksi denyut jantung melalui perubahan aliran darah perifer berbasis metode photoplethysmography (PPG), sehingga mampu mengukur BPM (beats per minute) secara real-time. Selain itu, sensor MAX30102 juga digunakan untuk mengukur kadar oksigen darah (SpO?) melalui pembacaan absorbansi cahaya merah dan inframerah pada pembuluh darah kapiler jari pengguna.
Seluruh data fisiologis yang diperoleh sensor akan diproses oleh Arduino Nano berbasis mikrokontroler ATmega328P sebagai pusat embedded system. Sistem melakukan proses akuisisi data, pengolahan parameter, dan klasifikasi risiko menggunakan metode threshold-based analysis sesuai ambang batas fisiologis klinis. Hasil analisis kemudian ditampilkan melalui LCD 20x4 dalam kategori aman, rentan, atau risiko tinggi sehingga mempermudah proses skrining awal secara cepat dan objektif.
Keunggulan utama CEMPAKA terletak pada kemampuannya menggabungkan proses monitoring, analisis, dan klasifikasi risiko dalam satu sistem terintegrasi yang portabel, praktis, dan mudah dioperasikan. Berbeda dengan metode observasi manual yang masih bergantung pada pengamatan subjektif, CEMPAKA mampu memberikan hasil skrining secara lebih cepat, efisien, dan konsisten. Sistem ini juga tidak memerlukan koneksi internet sehingga tetap dapat digunakan pada daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan maupun akses teknologi.
Dari sisi pengembangan teknologi, CEMPAKA memiliki arsitektur sistem yang modular dengan biaya produksi relatif terjangkau dibandingkan alat monitoring kesehatan konvensional. Struktur sistem ini memungkinkan pengembangan lebih lanjut seperti integrasi penyimpanan data digital, monitoring berbasis aplikasi, maupun peningkatan algoritma analisis kesehatan. Dengan kombinasi teknologi real-time, kemudahan penggunaan, dan potensi implementasi yang luas, CEMPAKA memiliki peluang besar untuk dikembangkan menuju produksi massal dan komersialisasi sebagai teknologi preventif di bidang kesehatan masyarakat.
| Nama | : | Kaysan Najib Murtaza |
| Alamat | : | Jalan Raya Wonotunggal, Kelurahan/Desa/Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang |
| No. Telepon | : | 085643782796 |