SEMAR (Smart Environmental Monitoring and Automated Recycling System)

ton, didominasi plastik (18,6%) dan logam (3,5%). Di sekolah, penumpukan sampah plastik yang sulit terurai secara alami ini memicu pencemaran tanah, air, serta merusak estetika lingkungan. Untuk mencegah penumpukan tersebut, diperlukan tata kelola hulu yang berfokus pada pemilahan sampah berdasarkan jenisnya agar material anorganik dapat didaur ulang dan masuk ke dalam ekosistem ekonomi sirkular, bukan berakhir di TPA.

Sebagai solusi, penelitian ini mengembangkan SEMAR (Smart Environmental Monitoring and Automated Recycling System), mesin pemilah sampah otomatis berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Menggunakan input kamera visual, sistem mengimplementasikan model image classification via framework TensorFlow.js untuk mengidentifikasi sampah secara real-time. Mesin memisahkan sampah secara mekanis menggunakan servo motor ke dalam tiga kompartemen spesifik: plastik non-berbahaya, logam (kaleng), dan plastik terkontaminasi minyak/oli (B3 ringan) guna mencegah kontaminasi silang yang merusak mutu daur ulang.

Guna mendukung keberlanjutan, SEMAR dirancang terintegrasi dengan sistem poin digital. Pada tahap ini, aplikasi pengguna masih dalam fase pengembangan purwarupa (UI/UX prototype via Figma). Pengujian pilot project di SMK Negeri 1 Kawunganten difokuskan pada fungsionalitas fisik mesin dan akurasi model AI untuk mengedukasi siswa sekaligus merevolusi budaya memilah sampah di sekolah.

Kata kunci: pengelolaan sampah, dampak sampah plastik, artificial intelligence, ekonomi sirkular.

Permasalahan sampah plastik merupakan salah satu isu lingkungan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data terbaru Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total timbulan sampah nasional telah mencapai angka sekitar 71 juta ton per tahun. Komposisi limbah tersebut didominasi oleh sampah anorganik berupa material plastik (18,6%) dan logam (3,5%) yang mayoritasnya berasal dari kemasan sekali pakai. Karakteristik polimer plastik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terdegradasi secara alami menyebabkan akumulasi limbah ini memicu pencemaran tanah, kontaminasi mikroplastik pada sumber air, serta destruksi keseimbangan ekosistem secara makro jika tidak dikelola lewat sistem manajemen hulu yang tepat.

Di lingkungan sekolah, permasalahan ini juga sangat nyata. Sampah plastik seperti botol minuman, gelas sekali pakai, dan kemasan makanan sering ditemukan tidak hanya di tempat sampah yang tidak terpilah dengan baik, tetapi juga berserakan di jalan sekolah, di depan ruang kelas, di halaman, dan di sekitar kantin. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada rendahnya kesadaran dan kebiasaan siswa dalam membuang sampah secara bertanggung jawab.

Selain itu, sampah logam seperti kaleng aluminium memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dipilah dengan benar. Namun, karena tidak adanya sistem pemisahan otomatis, sampah-sampah tersebut sering tercampur dan kehilangan nilai jualnya. Bahkan, limbah plastik yang terkontaminasi minyak atau bahan kimia (kategori B3 ringan) dapat meningkatkan risiko pencemaran apabila tidak ditangani secara tepat.

Di sisi lain, konsep ekonomi sirkular menawarkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah. Ekonomi sirkular menekankan bahwa sampah bukanlah akhir dari siklus konsumsi, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai tambah. Dalam konteks sekolah, penerapan ekonomi sirkular dapat dilakukan dengan mengubah sampah menjadi sumber insentif dan pembelajaran bagi siswa.

Namun, hingga saat ini, sistem pemilah sampah otomatis berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan sistem insentif digital masih sangat jarang diterapkan di lingkungan sekolah. Padahal, sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini.

SEMAR (Smart Environmental Monitoring and Automated Recycling System) hadir sebagai solusi inovatif yang mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk klasifikasi sampah serta sistem Internet of Things (IoT) untuk monitoring pengelolaan sampah secara lebih efisien. Selain itu, sistem ini juga dirancang untuk mendukung integrasi dengan platform poin digital yang bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah semata, tetapi sebagai sumber nilai ekonomi sekaligus media pembelajaran karakter bagi siswa.

Melalui rencana uji coba terbatas (pilot project berbasis prototype) di SMKN 1 Kawunganten, inovasi ini difokuskan pada pengujian kinerja mesin, akurasi klasifikasi sampah, serta respons pengguna di lingkungan sekolah. Sementara itu, sistem aplikasi dan integrasi poin digital masih berada dalam tahap pengembangan, sehingga implementasi dilakukan secara bertahap.

Dengan pendekatan ini, SEMAR diharapkan dapat berkembang menjadi model pengelolaan sampah berbasis teknologi yang aplikatif, edukatif, dan berkelanjutan.

SEMAR memiliki beberapa keunggulan strategis yang membedakannya dari sistem pengelolaan sampah konvensional, di antaranya:

  1. Integrasi Artificial Intelligence (AI)
    Menggunakan teknologi image classification untuk mengenali jenis sampah melalui citra visual. Sistem ini lebih fleksibel dan adaptif karena model AI dapat diperbarui serta dilatih ulang sesuai kebutuhan.
     
  2. Klasifikasi Tiga Kategori Spesifik
    Sebagian besar sistem pemilah hanya memisahkan antara organik dan anorganik, atau plastik dan logam. SEMAR mengembangkan klasifikasi menjadi tiga kategori spesifik:
    1. Plastik non-berbahaya
    2. Logam (kaleng)
    3. Plastik terkontaminasi minyak/oli (B3 ringan)
      Keberadaan kategori khusus untuk limbah terkontaminasi menjadi pembeda penting, karena jenis limbah ini berpotensi mencemari lingkungan apabila tercampur dengan sampah lain. Dengan sistem ini, risiko kontaminasi silang dapat diminimalkan sejak awal
       
  3. Ekonomi Sirkular Berbasis Poin
    SEMAR dirancang tidak hanya untuk memilah sampah, tetapi juga untuk mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular di lingkungan sekolah melalui sistem poin bagi pengguna. Setiap siswa yang menyetorkan sampah ke mesin akan memperoleh poin yang tercatat dalam sistem.

    Poin tersebut direncanakan dapat ditukar dengan berbagai bentuk insentif, seperti produk hasil pengolahan sampah, perlengkapan sekolah, atau konversi nilai tertentu dalam bentuk uang, sehingga sampah memiliki nilai ekonomi yang nyata bagi siswa.

    Pada tahap pengembangan saat ini, sistem penukaran poin dan aplikasi pengguna masih berada dalam fase perancangan prototype (UI/UX). Prototype ini digunakan untuk merancang alur sistem, mekanisme penukaran poin, serta integrasi antara mesin dengan aplikasi pengguna. Implementasi aplikasi secara penuh direncanakan sebagai tahap pengembangan lanjutan setelah sistem mesin dan pengolahan data berjalan stabil.
     
  4. Sistem Monitoring Real-Time
    Dilengkapi dengan dashboard berbasis web untuk memantau aktivitas mesin secara transparan. Admin sekolah dapat melihat statistik jumlah sampah dan frekuensi penggunaan sebagai bahan evaluasi yang terukur.
    Data tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi program pengelolaan sampah sekolah sekaligus sebagai laporan kegiatan lingkungan yang lebih terukur.
     
  5. Pendekatan Edukatif dan Karakter
    Bukan sekadar alat teknis, SEMAR berfungsi sebagai media edukasi bagi siswa mengenai teknologi IoT, AI, serta pentingnya budaya memilah sampah untuk membangun karakter peduli lingkungan.
     
  6. Skema Pilot Project yang Adaptif dan Realistis
    Dirancang dengan pendekatan bertahap yang dimulai dari lingkup sekolah sebagai proyek percontohan. Strategi ini memungkinkan evaluasi teknis yang lebih matang sebelum diimplementasikan secara luas di wilayah Kabupaten Cilacap.

Nama : Auradi Faidoma Ary Bintoro
Alamat : Jln Cireong Rawasari, Rawajaya, Bantarsari, Cilacap
No. Telepon : 088806408792