SIGAP: Penguatan Numerasi bagi Anak Tunarungu dengan Media Board game Visual berbasis Etnomatematika

Pembelajaran numerasi bagi anak tuna rungu masih menghadapi berbagai kendala terutama dalam keterbatasan komunikasi dan minimnya media pembelajaran yang interaktif dan konstektual. Oleh sebab itu, SIGAP dikembangkan sebagai media pembelajaran yang interaktif dan adaptif untuk meningkatkan kemampuan numerasi anak-anak tunarungu. SIGAP menggunakan metode penelitian R&D dengan model 4D yang direduksi menjadi 3D, yaitu define, design, dan development. SIGAP dibuat dengan pendekatan berbasis etnomatematika yang menghubungkan antara pembelajaran numerasi dengan budaya lokal. Penerapan inovasi SIGAP dilaksanakan di SLB Widya Bhakti Kota Semarang. Media ini ditunjukkan untuk murid SD kelas 1- 4 dan telah diimplementasikan oleh siswa sebanyak 15 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk SIGAP memperoleh presentase 89,84% oleh ahli materi dan 89,87% oleh ahli media, sehingga termasuk dalam kategori sangat layak untuk digunakan. Keefektifan penggunaan media SIGAP dalam meningkatkan kemampuan numerasi siswa ditunjukkan oleh nilai N-gain sebesar 71,24% dengan kategori tinggi. Dengan demikian, SIGAP terbukti layak dan efektif sebagai media pembelajaran numerasi yang inovatif dan interaktif, serta mendukung pendidikan inklusif dan literasi budaya lokal.

Pendidikan inklusif di Indonesia telah diterapkan sebagai upaya memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus (Fadhilatul dkk., 2025). Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2022, jumlah penyandang disabilitas usia 5-19 tahun mencapai sekitar 2.197.833 jiwa atau 3,3% dari total anak usia sekolah di Indonesia. Hal ini turut menjadi perhatian Pemerintah Provisi Jawa Tengah melalui Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 4 Tahun 2024 tentang Pelindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus menjadi perhatian penting di Jawa Tengah. Salah satu komponen penting dalam pendidikan dasar adalah matematika. Dasar pemahaman matematika yang kuat tidak hanya berperan dalam bidang akademik dan karier di masa depan, tetapi juga mendukung kemampuan berpikir kritis serta memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari (Yusuf & Pina, 2024). Namun, kesulitan dalam proses pembelajaran matematika sering kali dialami oleh anak tunarungu akibat keterbatasan dalam mendengar dan menerima informasi secara verbal. Hingga saat ini, media pembelajaran matematika yang dirancang secara khusus untuk anak tunarungu masih relatif terbatas dan cenderung bersifat konvensional. Oleh karena itu, diperlukan inovasi media pembelajaran yang lebih interaktif dan visual bagi anak tunarungu. Di sisi lain, Jawa Tengah memiliki kekayaan budaya lokal yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran kontekstual. Salah satu daerah yang memiliki potensi budaya adalah Semarang dengan berbagai ikon budaya, bangunan bersejarah, kuliner khas, dan kearifan lokal yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran melalui pendekatan etnomatematika. Dengan memanfaatkan potensi budaya Kota Semarang, dikembangkan media SIGAP yang dirancang dalam bentuk permainan papan interaktif. Media ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan numerasi sekaligus menambah wawasan budaya lokal bagi anak tunarungu yang lebih interaktif dan inovatif.

SIGAP memiliki beberapa keunggulan sebagai board game yang edukatif. Berbeda dengan board game pada umumnya, SIGAP menintegrasikan unsur budaya lokal Kota Semarang ke dalam setiap elemen permainan. Ikon khas Kota Semarang seperti Lumpia, Gereja Blenduk, Klenteng Sampokong pun dimanfaatkan sebagai bagian dari desain permainan sehingga siswa tidak hanya belajar numerasi, tetapi juga mengenal budaya daerah secara konstekstual. SIGAP dibuat dengan pendekatan berbasis etnomatematika, yaitu menghubungkan antara pembelajaran numerasi dengan budaya lokal. Selain bermain board game, anak-anak dapat memahami akan konsep numerasi sekaligus literasi budaya lokal yang ada di sekitarnya. Sehingga anak-anak dapat belajar mengenai pengenalan operasi hitung, menyebutkan angka, dan mengetahui bangun geometris sekaligus menanamkan rasa bangga akan budaya lokal. Selain itu, SIGAP menghadirkan empat aktivitas pembelajaran dalam satu permainan yaitu ular tangga, audible spin wheel, flashcard numerasi, dan papan bangun datar. Kombinasi aktivitas tersebut membuat pembelajaran lebih interaktif, variatif, dan tidak monoton sehingga meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa tunarungu. Inovasi ini berbeda dengan board game yang umumnya hanya fokus pada satu jenis aktivitas permainan. Selain itu, SIGAP dirancang khusus sesuai karakteristik anak tunarungu dengan menerapkan pendekatan audiovisual sederhana dan visual interaktif. Adanya audible spin wheel membantu siswa dalam melatih pengenalan dan penyebutan angka, sedangkan penggunaan visual yang menarik mempermudah siswa memahami konsep numerasi.

Nama : Bella Carissa
Alamat : Jl. Karangrejo Raya No 12A, RT. 7 RW. 6. Srondol Wetan, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah
No. Telepon : 081391398828