Si BROCLAR (Bone Broth Clarias) Inovasi Kaldu Tulang Ikan Lele sebagai Upaya Reduksi dan Valorisasi Limbah Lele di Kampung Lele, Desa Tegalrejo, Sawit, Boyolali

Kabupaten Boyolali merupakan salah satu pemasok ikan lele terbesar di Jawa Tengah dengan perkembangan UMKM budidaya dan olahan lele yang terus meningkat. Produk olahan seperti abon dan keripik lele hanya memanfaatkan daging, kulit, ekor, dan sirip, sedangkan kepala dan tulang ikan lele sebagian besar menjadi limbah yang menimbulkan bau tidak sedap dan pencemaran lingkungan. Pemanfaatan limbah tulang lele sebelumnya hanya sebatas tepung campuran biskuit dan belum optimal.

Padahal, tulang ikan lele memiliki kandungan mineral yang tinggi, seperti kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), kalium (K), serta protein. Berdasarkan hasil uji laboratorium, dalam 100 gram serbuk tulang ikan lele terkandung hingga 6,9 gram kalsium, 10,6 gram fosfor, 1,6 gram seng, 0,5 gram zat besi, dan 11,9 gram protein terlarut. Kandungan tersebut menunjukkan bahwa limbah tulang ikan lele memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai produk pangan bernilai gizi.

Berdasarkan kondisi tersebut, dikembangkan inovasi “Si BROCLAR” (Bone Broth Clarias), yaitu kaldu berbahan dasar tulang ikan lele yang berfungsi sebagai bumbu penyedap sekaligus penambah nilai gizi makanan. Produk ini diharapkan mampu mengurangi limbah produksi lele sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi UMKM. Hasil uji organoleptik terhadap 25 responden menunjukkan bahwa produk dapat diterima masyarakat, dimana 21 responden menyatakan kaldu layak direkomendasikan sebagai bumbu masakan.

Kata Kunci: lele, limbah tulang lele, kaldu.

Latar Belakang Masalah Kabupaten Boyolali adalah salah satu kota yang memiliki UMKM budidaya lele yang konsisten dalam pengembangannya, sehingga memiliki julukan “Kampung Lele” yang tepatnya berada di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Mata pencaharian penduduk Desa Tegalrejo tidak terlepas dari budidaya ikan lele. Oleh karena itu, Boyolali menjadi kota pemasok ikan lele terbesar di Jawa Tengah, dengan volume produksi dari tahun 2022 hingga 2026 tercatat melebihi 30.000 ton pertahun dan secara harian mencapai 30 ton per hari. Seiring berjalannya waktu, sektor UMKM di desa Tegalrejo semakin berkembang. Yang mana, di desa tersebut memiliki sentra produksi olahan dari ikan lele yang dijadikan abon, keripik daging, dan keripik kulit. Dalam pengolahannya, komponen yang digunakan hanya daging, ekor, kulit dan siripnya saja, sementara duri dan bathok kepala ikan lele hanya sebagai limbah. Setiap kegiatan produksi, masing masing produsen abon lele di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali bisa membuang sekitar 10-20 Kg tulang ikan lele. Dalam masa proses produksi tersebut, tulang ikan lele hanya dibuang begitu saja. Limbah tulang ikan lele bila dibuang dengan begitu saja, dapat menyebabkan pencemaran udara dengan bau yang tidak enak/bau amis dan busuk. Hal itu dapat terjadi karena belum ada teknologi untuk memanfaatkannya. Jika hasil budidaya ikan lele sebagai bahan baku produksi meningkat, maka jumlah produksi olahan abon dan keripik juga akan meningkat, sehingga menyebabkan limbah yang dihasilkan akan mengalami peningkatan signifikan. Ikan lele adalah ikan yang kaya akan nutrisi dengan memiliki harga yang cukup murah, dagingnya berwarna putih halus dan memiliki duri yang polanya beraturan. Ikan lele sangat digemari oleh Masyarakat di kalangan bawah, menengah dan atas. Pembudidayaan ikan lele tergolong mudah, karena untuk membudidayakannya tidak membutuhkan perawatan yang ekstra. Tulang Ikan lele merupakan limbah yang kaya akan kandungan kalsium (Ca) jika dibandingkan dengan bagian tubuh ikan lele lainnya. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Food Science and Technology (2018) menemukan bahwa tulang ikan lele mengandung mineral seperti kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), dan kalium (K). Menurut Titik Dwi Sulistiyatia dan Olvin Mawaddaha (2021) pemanfaatan limbah tulang lele yang sudah pernah dilakukan adalah pembuatan tepung dari tulang ikan lele, yang kemudian diaplikasikan sebagai campuran bahan pembuatan biskuit. Kelemahan dari produk tepung tulang ikan lele ini adalah tidak dapat tahan lebih lama, menyebabkan biskuit cepat basi 2 dan kurang sesuai dengan tenaga produksinya. Tak hanya itu, menurut Suprihatin et.al (2021) tulang ikan lele merupakan limbah yang memiliki kandungan kalsium yang tinggi, tulang ikan lele dapat diolah dalam bentuk cemilan atau stik yang memiliki rasa gurih dan manis. Susi Ratnaningtyas et al (2023) telah melakukan percobaan terkait masa simpan produk tempe kedelai yang ditambah dengan tepung tulang ikan lele. Hasil dari penelitian tersebut adalah tempe yang dengan penambahan tepung tulang ikan lele masih layak konsumsi pada 2 hari inkubasi karena setelah dua hari terjadi perubahan pada kenampakan, bau/aroma dan tekstur yang tidak diinginkan. Maka dari itu, munculah ide dari kami untuk melakukan inovasi, menciptakan sebuah produk olahan yang bahan bakunya menggunakan tulang ikan lele. Kami mengolah limbah tulang ikan lele untuk dijadikan kaldu masakan, yang tentunya lebih praktis, sebagai zat aditif atau penambah cita rasa masakan dengan kandungan nilai gizi zat Calsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), kalium (K) dan protein. Gagasan ini berpeluang baik dan potensial untuk mengurangi limbah dan diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan konsumsi kaldu tulang ikan lele untuk mengurangi kasus stunting di Indonesia, khususnya di Kabupaten Boyolali. Penambahan kaldu tulang ikan lele dalam masakan dapat menambah nilai gizi, khususnya bagi usia balita yang sedang berada pada masa pertumbuhan untuk mendapatkan gizi yang maksimal dari kandungan protein dan kalsium yang tinggi pada tulang ikan lele, sehingga dapat meningkatkan kesehatan pada gigi dan tulang anak. Kaldu adalah bumbu penyedap untuk menambah cita rasa dalam masakan, sehingga menambah kelezatan suatu masakan, karena kaldu ini memiliki rasa dan aroma yang gurih. Penambahan kaldu tulang ikan lele dalam masakan dapat menambah nilai gizi, khususnya bagi usia balita yang sedang berada pada masa pertumbuhan untuk mendapatkan gizi yang maksimal dari kandungan kalsium yang tinggi pada tulang ikan lele, sehingga dapat meningkatkan kesehatan pada gigi dan tulang anak. Untuk itulah disini kami mencoba sebuah gagasan baru yang potensial untuk mengolah limbah lele yaitu membuat kaldu dari tulang ikan lele. Inovasi produk tulang ikan lele ini diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan konsumsi kaldu tulang ikan lele untuk mengurangi kasus pencemaran lingkungan di Indonesia, khususnya di daerah Kampung lele, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali.

Keunggulan Inovasi 1. Produksi Si BROCLAR, kaldu tulang ikan lele dapat mengurangi limbah dan polusi dari produk olahan abon dan keripik ikan lele. 2. Produk ini dapat ditambahkan dalam berbagai jenis olahan masakan seperti pada sayur dan cemilan sebagai penambah cita rasa. 3. Dapat dikembangkan menjadi produk baru untuk UMKM masyarakat sekitar, sehingga dapat menambah penghasilan.

Nama : Jesika Rahma Maulana
Alamat : SMA Negeri 1 Cepogo
No. Telepon : 088233183917