Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan komoditas hortikultura (cabang ilmu pertanian yang mempelajari budidaya tanaman kebun secara intensif) dengan nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Namun, produktivitas cabai sering terganggu oleh serangan penyakit, salah satunya adalah layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum. Penyakit ini sulit dideteksi pada tahap awal karena gejalanya mirip dengan kekurangan air, sehingga sering menyebabkan keterlambatan penanganan dan berujung pada kerugian hasil panen. Inovasi ini bertujuan untuk mengembangkan sistem deteksi dini penyakit tanaman cabai rawit berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan metode hidroponik. Sistem ini memanfaatkan sensor untuk memantau kondisi lingkungan dan larutan nutrisi secara real-time, seperti suhu, kelembapan, pH, dan Electrical Conductivity (EC). Data yang diperoleh diproses menggunakan mikrokontroler dan ditampilkan secara digital sehingga pengguna dapat memantau kondisi tanaman dengan lebih mudah. Melalui sistem ini, perubahan kondisi yang berpotensi memicu perkembangan patogen dapat diketahui lebih awal. Dengan demikian, pengguna dapat melakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat. Inovasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi pemantauan tanaman, mengurangi risiko kerugian, serta menjadi solusi sederhana yang dapat diterapkan pada skala pelajar maupun masyarakat umum.
Cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan salah satu komoditas hortikultura (cabang ilmu pertanian yang mempelajari budidaya tanaman kebun secara intensif) yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta permintaan pasar yang terus meningkat di Indonesia. Komoditas ini menjadi bahan baku utama industri pangan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga kontinuitas pasokannya sangat diperlukan. Namun, produktivitas cabai rawit di tingkat petani masih sering menghadapi kendala serius, seperti serangan penyakit tanaman. Ulya, H., Darmanti, S., & Ferniah, R. S. (2020) mengatakan penyakit Layu Fusarium dan Serangan Patogen menjadi salah satu ancaman paling serius pada tanaman cabai rawit. Penyakit ini disebabkan oleh jamur patogen tular tanah Fusarium oxysporum. Patogen menginfeksi tanaman melalui akar dan menyerang sistem pembuluh vaskular (xilem). Serangan ini menyumbat aliran air serta nutrisi sehingga tanaman mengalami kelayuan permanen dan akhirnya mati. Gejala awal (daun mulai layu) penyakit ini sulit dikenali karena tidak tampak jelas dan mirip dengan kondisi kekurangan air. Petani baru menyadari adanya serangan ketika gejala layu telah terlihat jelas di seluruh bagian tanaman. Pada kondisi tersebut, kerusakan yang terjadi sudah sangat parah dan tidak dapat ditanggulangi. Kondisi ini berujung pada gagal panen dan kerugian ekonomi yang signifikan. Budidaya cabai rawit konvensional di lahan terbuka sangat rentan terhadap patogen tular tanah. Untuk mengendalikan penyakit, petani umumnya menggunakan pestisida kimia secara intensif. Cara ini memang menjadi solusi instan, tetapi menimbulkan dampak negatif jangka panjang, meliputi pencemaran lingkungan, resistensi patogen, dan residu bahan kimia berbahaya pada hasil panen. Solusi yang kami tawarkan dalam penelitian ini adalah sistem deteksi dini berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk memantau secara real-time parameter fisiologis tanaman dan kondisi larutan nutrisi—seperti suhu daun, kelembaban batang, pH, dan Electrical Conductivity (EC)—sebagai indikator awal serangan patogen. Dengan sistem ini, deteksi dapat dilakukan sebelum gejala visual (daun mengeriting ke atas, daun menguning, buah busuk dan batang bagian bawah membusuk) muncul, sehingga tindakan pencegahan dapat segera diambil untuk meminimalkan risiko gagal panen dalam sistem hidroponik. Perkembangan teknologi di era Industri 4.0 membuka peluang baru dalam mengatasi permasalahan tersebut. Melalui Sistem Deteksi Penyakit Layu Fusarium dan Serangan Patogen pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens) dengan Metode Hidroponik berbasis Internet of Things (IoT), penelitian ini mengintegrasikan sensor-sensor cerdas, aktuator, dan sistem komputasi untuk memantau kondisi tanaman dan lingkungan secara real-time dan berkelanjutan. Sistem ini mendeteksi perubahan parameter fisiologis tanaman, seperti suhu daun dan kelembaban batang, serta perubahan komposisi larutan nutrisi, seperti pH dan Electrical Conductivity (EC), yang menjadi indikator awal serangan patogen sehingga deteksi dini dapat dilakukan sebelum kerusakan meluas.
Inovasi ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan cara pemantauan yang umum digunakan, yaitu:
| Nama | : | Nabilah Salsabil Shafa |
| Alamat | : | Jl. Garuda, No. 1a Bongkok, Kec. Kramat, Kab. Tegal, Jawa Tengah 52181 |
| No. Telepon | : | +62 857-5931-4270 |