Pendidikan abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki kemampuan literasi sekaligus karakter yang kuat. Namun pada prakteknya, masih banyak sekolah menghadapi rendahnya budaya membaca, kurangnya pembiasaan karakter, serta munculnya perilaku negatif seperti bullying dan rendahnya sopan santun siswa. SDN Wirogomo 02 juga menghadapi tantangan serupa sehingga diperlukan inovasi pembelajaran berbasis budaya sekolah yang mampu mengintegrasikan literasi dan pembentukan akhlakul karimah.
Inovasi “Tutor SABIT Membaca” dikembangkan sebagai model sekolah berbasis tutor sebaya, pembiasaan literasi, dan penguatan religiusitas. Program ini terdiri atas tiga komponen utama yaitu TUTOR (Teman untuk Terapkan Optimisme dan Relasi), SABIT (Sabtu Aktif Belajar Inspiratif dan Taqwa), serta MEMBACA (Membina Etika Melalui Budaya Aksi Cerdas Anak). Kegiatan dilaksanakan secara rutin melalui pembiasaan membaca, mengaji, tahfiz, diskusi moral, dan pembelajaran agama.
Metode yang digunakan berupa tutor sebaya, pembiasaan harian, diskusi interaktif, refleksi nilai moral, serta monitoring perkembangan siswa melalui jurnal dan buku prestasi. Implementasi melibatkan guru, siswa, dan orang tua sebagai bagian dari ekosistem pendidikan karakter.
Hasil penerapan menunjukkan peningkatan budaya literasi, kedisiplinan, kemampuan membaca Al-Qur’an, keterampilan sosial, dan akhlakul karimah siswa. Lingkungan sekolah menjadi lebih religius, aktif, dan kolaboratif. Inovasi ini berpotensi direplikasi di sekolah lain sebagai model penguatan literasi dan karakter berbasis budaya sekolah.
Kata kunci: literasi, tutor sebaya, pendidikan karakter, budaya sekolah, akhlakul karimah.
Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga bertujuan membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Dalam perkembangan abad ke-21, kemampuan literasi menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki siswa. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, penguatan akhlakul karimah juga menjadi kebutuhan mendesak di tengah perkembangan teknologi, arus informasi yang begitu cepat, serta berbagai tantangan sosial yang memengaruhi perilaku anak usia sekolah.
Kondisi di SDN Wirogomo 02 menunjukkan bahwa budaya membaca siswa masih tergolong rendah. Minat siswa untuk membaca belum tumbuh secara optimal, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun di luar jam pelajaran. Pembelajaran literasi masih bersifat terbatas dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan pendidikan karakter serta pembiasaan nilai-nilai religius. Selain itu, ditemukan berbagai permasalahan perilaku siswa seperti bullying, rendahnya kedisiplinan, kurangnya rasa tanggung jawab, serta menurunnya unggah-ungguh atau sopan santun dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian siswa juga masih kurang percaya diri dalam berinteraksi, kurang memiliki kepedulian sosial, dan belum terbiasa bekerja sama secara positif dengan teman sebaya.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan suatu inovasi pendidikan yang tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga mampu membangun budaya sekolah yang religius, kolaboratif, dan berkarakter. Oleh karena itu, dikembangkan inovasi “Tutor SABIT Membaca” sebagai model sekolah berbasis budaya literasi religius dan tutor sebaya. Program ini dirancang sebagai upaya terpadu untuk mengembangkan kemampuan literasi, memperkuat pendidikan agama, menanamkan nilai karakter, serta membangun lingkungan sekolah yang positif dan menyenangkan. Inovasi ini memadukan pembelajaran literasi, pembiasaan religius, pendidikan karakter, dan budaya sekolah dalam kegiatan yang terstruktur, berkelanjutan, serta melibatkan seluruh warga sekolah.
Program “Tutor SABIT Membaca” terdiri atas beberapa komponen utama yang saling mendukung. Melalui pendekatan tutor sebaya, siswa yang memiliki kemampuan lebih baik dalam membaca, mengaji, maupun sikap sosial ditunjuk sebagai tutor untuk mendampingi teman-temannya. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih akrab, aktif, dan komunikatif sehingga siswa merasa lebih nyaman dalam belajar. Selain meningkatkan kemampuan membaca dan memahami materi, tutor sebaya juga melatih siswa untuk bekerja sama, bertanggung jawab, memiliki rasa empati, serta saling membantu antarteman.
Program SABIT (Sabtu Aktif Belajar Inspiratif dan Taqwa) menjadi wadah penguatan nilai-nilai religius melalui kegiatan pembelajaran akidah akhlak, fiqih, sejarah Islam, Al-Qur’an Hadis, tahfiz, dan pembiasaan ibadah. Kegiatan dilaksanakan secara rutin dan dikemas secara menarik agar siswa lebih antusias dalam belajar agama. Sementara itu, program MEMBACA (Membina Etika Melalui Budaya Aksi Cerdas Anak) menanamkan budaya literasi yang dikaitkan dengan nilai moral dan etika. Kegiatan membaca tidak hanya berfokus pada kemampuan memahami bacaan, tetapi juga mengajak siswa mengambil hikmah, pesan moral, dan nilai karakter dari bahan bacaan yang dipelajari.
Pelaksanaan program dilakukan melalui pembiasaan harian seperti membaca buku sebelum pembelajaran dimulai, mengaji Iqro dan Al-Qur’an saat waktu istirahat, sholat dhuha berjamaah, diskusi moral, refleksi karakter, serta kegiatan literasi kreatif lainnya. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, sedangkan orang tua dilibatkan untuk mendukung pembiasaan positif di rumah. Monitoring perkembangan siswa dilakukan secara berkala melalui jurnal kegiatan, observasi perilaku, dan buku prestasi membaca maupun mengaji.
Dengan implementasi yang konsisten dan berkelanjutan, inovasi “Tutor SABIT Membaca” diharapkan mampu meningkatkan kompetensi literasi siswa sekaligus membentuk karakter yang religius, disiplin, santun, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan sosial. Selain itu, program ini diharapkan dapat menciptakan budaya sekolah yang positif, aman, dan harmonis sehingga peserta didik mampu berkembang secara optimal baik dalam aspek akademik maupun akhlakul karimah
Model Tutor Sabit Membaca memiliki keunggulan dibandingkan dengan model atau program peningkatan literasi yang telah ada sebelumnya. a. Pertama, model ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan literasi siswa, tetapi juga secara langsung mengintegrasikan pembentukan akhlakul karimah melalui kegiatan membaca bacaan bermuatan nilai moral dan kegiatan keagamaan. b. Kedua, model ini berbasis kebiasaan harian yang sederhana dan konsisten, sehingga tidak bergantung pada teknologi atau fasilitas yang rumit. Hal ini 5 memungkinkan implementasi yang lebih luas di sekolah-sekolah dengan keterbatasan sarana dan prasarana. c. Ketiga, pendekatan tutor sebaya menjadikan siswa tidak hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek dalam proses pembelajaran, sehingga mendorong rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial. d. Keempat telah tervalidasi oleh tiga ahli, ahli Materi Ibu Nuning Khadijatus Shalihah, S.Si, M.Sc. Widyaprada Ahli Muda Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Tengah. Ahli konten atau tampilan produk Drs. Mukh. Jaenuri M.Pd Asesor Akreditasi Sekolah Tingkat Nasional, Ahli bahasa oleh Calon Doktor IAIN Salatiga ibu Ryna Laely Fauzie M.Pd I yang juga Dosen STIKES AR-RUM SALATIGA e. Kelima telah teruji di SDN Wirogomo 02 efektif meningkatkan akhlakul karimah terbukti di tahun 2024 menjadi sekolah dengan Akhlak yang terbaik Se Kabupaten Semarang berdasarkan Raport Mutu Pendidikan
| Nama | : | DEDY ADIAN UTOMO |
| Alamat | : | SDN WIrogomo 02 dusun Seseh desa wirogomo kecamtan banyubiru kabupaten semarang |
| No. Telepon | : | 085726359889 |