MATOA-SHIELD: PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN MATOA (POMETIA PINNATA) SEBAGAI BIOPESTISIDA NABATI PEMBERANTAS HAMA ULAT DAN KUTU DAUN

Permasalahan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam sektor pertanian masih menjadi isu serius karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pestisida alami yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan “Bio Matoa Shield” yaitu pestisida nabati berbahan dasar daun matoa tua (Pometia pinnata) yang belum dimanfaatakn secara optimal. Produk ini dirancang sebagai alternatif pengendali hama yang lebih aman, hemat biaya, dan mendukung pertanian berkelanjutan. Proses pembuatan Bio Matoa Shield dilakukan dengan menggunakan metode maserasi dingin melalui ekstrasi senyawa aktif dari daun matoa yang mengandung zat tanin dan saponin. Ekstrak tersebut dikombinasikan dengan bahan pendukung alami yaitu lerak sebagai perekat alami agar larutan pestisida dapat menempel dengan baik pada permukaa daun tanaman. Produk ini telah diuji dalam skala sederhana untuk melihat efektivitasnya terhadap hama tanaman serta dampaknya terhadap lingkungan. Hasil uji menunjukkan bahwa Bio Matoa Shield mengandung 0.58 tanin yang mampu membantu menghambat pertumbuhan hama tanaman dan relatif aman bagi lingkungan karena tidak meninggalkan residu berbahaya. Bio Mato Shield memiliki potensi penerapan yang luas dalam sektor pertanian, terutama bagi petani yang membutuhkan solusi pestisida yang aman dan harga terjangkau. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, inovasi ini berpeluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai alternatif pestisida alami yang berkelanjutan dan mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Pestisida adalah suatu bahan kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan (Adiba Arif, 2015, hlm.1) menunjukkan kandungan bahan aktif seperti, karbamat, organofosfat dan piretroid yang berfungsi membunuh dan mengusir serangan dari hama. Lingkungan akan menimbulkan pencemaran air tanah. Penggunaan pestisida memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap lingkungan, antara lain dapat mengancam keberlangsungan hidup biota tanah cacing tanah, bakteri dan jamur yang mengakibatkan residu pestisida yang tertimbun dalam tanah. Residu pestisida terbawa oleh aliran air dan memasuki badan air seperti sungai, hal ini dapat menyebabkan kematian bagi organisme akuatik ikan. Menurut (Adiba Arif, 2015 hlm.7) pestisida kimia memiliki dampak negatif terhadap lingkungan Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Penggunaan pestisida secara berlebihan dan berkelanjutan juga dapat membahayakan kesehatan manusia akibat sifat racun yang dimiliki oleh senyawa pestisida seperti, organofosfat contohnya klorpirifos, diazinon dan malation. Racun ini bekerja menyerang sistem saraf serangga. Menurut (Euis Amilia, dkk 2016, hlm.2). Terdapat sekitar 1-5 juta kasus keracunan pestisida setiap tahun pada pekerja di sektor pertanian. Dari jumlah tersebut, sekitar 220.000 orang meninggal di setiap tahunnya. Meskipun negara berkembang hanya menggunakan sekitar 25% dari total pestisida di dunia, angka kematian tersebut mencapai sekitar 99% dari total kematian global. Pertanian modern saat ini banyak tergantung pada penggunaaan pestisida untuk mengendalikan hama dan meningkatkan hasil panen. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak sesuai dengan prosedur dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Paparan pestisida dapat mencemari tanah serta meningkatkan risiko gangguan ksehatan pada petani yang sering terpapar bahan kimia tersebut. Kesadaran dan pengetahuan petani mengenai penggunaan pestisida yang aman sangat penting untuk mencegah terjadinya dampak buruk bagi kesehatan diperlukan inovasi alternatif yang lebih ramah lingkungan, salah satunya melalui pengembangan pestisida nabati. Pestisida organik yang berasal dari bahan alami dinilai lebih aman karena mudah terurai secara hayati dan relatif minim residu berbahaya. Tanaman Matoa (Pometia pinnata) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai bahan dasar pestisida organik. Daun matoa diketahui mengandung senyawa aktif seperti saponin dan tanin. Saponin berfungsi sebagai racun alami yang dapat mengganggu sistem pencernaan dan metabolisme serangga, sedangkan tanin memiliki sifat antifeedant yang mampu menekan nafsu makan hama. Dengan kandungan tersebut, daun matoa berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biopestisida Sutomo, dkk 2015, hlm.1). Wilayah Karangduwet RT 13 RW 03 Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tanaman matoa (Pometia pinnata) tumbuh cukup melimpah. Pemanfaatannya masih terbatas pada daun matoa tua (Pometia pinnata). Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan inovasi berbasis sumber daya lokal yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Berdasarkan uraian tersebut, diperlukan penelitian untuk menguji efektivitas ekstrak daun matoa 2 (Pometia Pinnata) sebagai biopestisida nabati dan menentukan konsentrasi yang paling optimal dalam mengendalikan hama tanpa menimbulkan dampak negatif pada tanaman budidaya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam pengembangan produk “MATOA-SHIELD: Pemanfaatan ekstrak daun matoa (Pometia Pinnata) sebagai biopestisida nabati pengendalian hama ulat dan kutu daun” yang aman, efektif dan berkelanjutan.

Inovasi MATOA-SHIELD merupakan pestisida alami berbahan dasar dari daun matoa tua (Pometia pinnata) yang dikembangkan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Produk ini memiliki beberapa keunggulan dan kebaruan dibandingkan pestisida kimia maupun pestisida nabati lainnya, yaitu sebagai berikut:

1. Ramah Lingkungan dan Biodegradable

  • Terbuat dari bahan alami sehingga mudah terurai di lingkungan.
  • Tidak meninggalkan residu kimia berbahaya pada tanah, air maupun hasil panen.
  • Lebih aman bagi petani, konsumen dan organisme yang bermanfaat.

2. Pemanfaatan Potensi Lokal Daun Matoa

  • Menggunakan daun matoa yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
  • Meningkatkan nilai guna tanaman matoa sebagai sumber pestisida alami.
  • Mendukung pengembangan sumber daya lokal yang tersedia di daerah.

3. Ekonomis dan Mudah Diproduksi

  • Bahan baku mudah diperoleh dan biaya produksi relatif rendah.
  • Proses pembuatan sederhana sehingga dapat dilakukan secara mandiri oleh petani.
  • Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia pabrik.

4. Mendukung Pertanian Berkelanjutan

  • Mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis dalam pengendalian hama.
  • Membantu menjaga kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem.
  • Mendukung sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

5. Pembaharuan dan Perbedaan Produk

  • Menggunakan daun matoa tua (Pometia pinnata) sebagai bahan utama yang masih jarang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.
  • Memanfaatkan potensi lokal sehingga meningkatkan nilai guna tanaman matoa.
  • Dikombinasikan dengan cairan lerak sebagai perekat alami (tanpa bahan kimia sintesis).
  • Menggunakan metode fermentasi selama 3 hari untuk meningkatkan efektivitas senyawa aktif.
  • Lebih ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu berbahaya.
  • Biaya produksi relatif murah dan mudah dibuat secara mandiri.
  • Efektif membantu mengendalikan hama seperti ulat dan kutu daun dalam waktu 1 x 24 jam.

Nama : Mas Ayu Fibianingsih
Alamat : Bendan, Banyudono, Boyolali
No. Telepon : 081320693238