Kabupaten Tegal memiliki potensi pariwisata alam dan budaya yang melimpah dengan 74 titik destinasi unik. Namun, terdapat kesenjangan literasi yang signifikan di mana 70% warga setempat hanya mengetahui kurang dari 10 objek wisata. Masalah ini disebabkan oleh dominasi media promosi konvensional yang bersifat statis dan pasif, sehingga gagal membangun retensi informasi yang kuat pada generasi muda. Inovasi ini bertujuan untuk merancang serta mengembangkan board game edukasi bernama "JAGATE" sebagai media edutainment interaktif yang mengintegrasikan seluruh potensi wisata daerah secara mendalam. Pengembangan inovasi ini difokuskan pada peningkatan pemahaman letak geografis dan keragaman destinasi melalui simulasi penjelajahan yang kompetitif dan menyenangkan.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan mixed methods (kualitatif dan kuantitatif) guna menghasilkan data analisis yang komprehensif. Proses perancangan mengikuti alur linear yang sistematis, mulai dari tahap pengumpulan data faktual objek wisata hingga pengembangan mekanik inti permainan. Secara teknis, JAGATE mengadopsi sistem Modular Tile-Laying yang terdiri dari 154 kepingan heksagonal dinamis serta sistem Action Point (AP) untuk menciptakan pengalaman bermain yang variatif di setiap sesi.
Hasil pengujian lapangan menunjukkan bahwa penggunaan inovasi JAGATE sangat efektif dalam meningkatkan literasi, pemahaman spasial, dan retensi ingatan pemain terhadap objek wisata di Kabupaten Tegal. Melalui semangat "Jangkahna jejak, njlajahi jagat", inovasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat peraga edukatif dan media preservasi dialek Tegalan, melainkan juga bertindak sebagai strategi promosi pariwisata daerah yang imersif, kolaboratif, serta berkelanjutan.
Kabupaten Tegal memiliki kekayaan alam dan warisan budaya yang melimpah, mulai dari destinasi unggulan seperti Pemandian Air Panas Guci, Waduk Cacaban, hingga peninggalan prasejarah di Situs Semedo. Dengan potensi 74 titik destinasi wisata, sektor pariwisata seharusnya menjadi sektor penggerak ekonomi sekaligus identitas daerah. Namun, kondisi tersebut belum diimbangi dengan tingkat literasi pariwisata masyarakat, khususnya generasi muda. Berdasarkan data lapangan, sebagian besar masyarakat hanya mengenali kurang dari 10% dari total objek wisata yang tersedia.
Rendahnya literasi pariwisata dipengaruhi oleh penyebaran informasi yang masih didominasi media konvensional dan digital pasif, seperti e-book maupun video satu arah. Media tersebut cenderung kurang interaktif sehingga belum mampu membangun retensi pengetahuan dan keterikatan emosional masyarakat terhadap identitas lokal. Jika kondisi ini terus berlangsung, potensi daerah berisiko belum termanfaatkan secara optimal dan dapat memengaruhi daya saing pariwisata Kabupaten Tegal.
Secara yuridis, pengembangan media inovatif ini memiliki landasan hukum yang kuat, yaitu UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Di tingkat daerah, inisiatif ini selaras dengan Perda Kabupaten Tegal No. 2 Tahun 2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan serta Perbup Tegal No. 80 Tahun 2021 tentang Inovasi Daerah. Selain itu, inovasi ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, dikembangkan inovasi berbasis edutainment bernama JAGATE. Dengan ini memanfaatkan pendekatan Game-Based Learning, JAGATE mentransformasikan data geografis dan kearifan lokal menjadi pengalaman belajar interaktif melalui board game edukasi. Melalui sistem permainan yang dinamis, pemain diajak mengeksplorasi wilayah, memahami potensi wisata, serta mengenal identitas lokal secara lebih aktif. Inovasi ini diharapkan menjadi media promosi kreatif yang tidak hanya meningkatkan literasi pariwisata generasi muda, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan wisata Kabupaten Tegal serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam mendukung pengembangan pariwisata daerah secara berkelanjutan.
Keunggulan Inovasi
1. Mekanisme Permainan: Statis vs Dinamis
Board Game Sejenis: Biasanya menggunakan papan tetap (fixed board). Pemain bergerak di rute yang sama berulang kali, sehingga faktor eksplorasi geografis menjadi terbatas dan cepat membosankan.
JAGATE: Menggunakan Modular Tile-Laying System. Peta Kabupaten Tegal disusun secara dinamis dari kepingan heksagonal. Setiap sesi menghasilkan tata letak rute yang berbeda, memaksa pemain memahami konektivitas antar-wilayah secara mendalam dengan tingkat variasi permainan yang sangat tinggi.
2. Kedalaman Konten: Hiburan vs Literasi Riil
Board Game Sejenis: Objek wisata seringkali hanya menjadi latar belakang atau aset komoditas untuk dibeli (seperti mekanik Monopoly), tanpa memberikan informasi edukatif tentang esensi objek tersebut.
JAGATE: Mengintegrasikan 74 potensi wisata dengan data geografis yang akurat. JAGATE menyisipkan narasi dialek lokal (Tegalan) serta informasi spesifik (seperti situs sejarah Semedo atau keunikan Guci) ke dalam kartu strategi. Pemain mendapatkan pengetahuan riil, bukan sekadar simulasi transaksi keuangan.
3. Sistem Aksi: Keberuntungan Dadu vs Strategi Action Point (AP)
Board Game Sejenis: Sangat bergantung pada keberuntungan lemparan dadu (luck-based). Hal ini membuat pemain kurang terlibat secara kognitif dalam merencanakan perjalanan wisata.
JAGATE: Mengadopsi sistem Action Point (AP). Pemain wajib mengelola sumber daya poin untuk menentukan pilihan: melakukan perjalanan jauh, mengumpulkan informasi, atau mengaktifkan kemampuan khusus. Mekanik ini efektif melatih kemampuan manajemen rute dan pengambilan keputusan taktis yang strategis.
| Nama | : | Robby Hardian |
| Alamat | : | Desa Pagedangan RT 026 RW 003 Pagedangan Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal |
| No. Telepon | : | 082188880684 |