Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan prioritas di Indonesia karena berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, capaian prevalensi stunting pada akhir tahun 2025 berada di angka 4,27%. Namun, memasuki tahun berjalan 2026, angka ini menunjukkan tren kenaikan yang signifikan, yaitu dari 4,66% pada bulan Februari (71.983 balita diukur) menjadi 4,99% pada bulan Maret (67.487 balita diukur). Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, ditemukan 12 kasus stunting berdasarkan data e-PPGBM Puskesmas Tembalang per Januari 2026. Permasalahan yang sering ditemui di lapangan meliputi kurang optimalnya akurasi pengukuran antropometri, kesulitan kader dalam menghitung nilai Z-Score secara manual, serta proses pencatatan dan pelaporan data balita yang masih memerlukan waktu cukup lama.
Sebagai upaya percepatan penurunan stunting, TP PKK Kelurahan Mangunharjo menghadirkan inovasi “TIMONTING-APMONTING”, yang memadukan alat ukur visual dengan aplikasi mobile untuk mempermudah penghitungan dan pelaporan secara real-time. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui observasi, wawancara, serta uji implementasi. Hasil uji tabulasi terhadap enam responden menunjukkan efisiensi waktu input data dengan rata-rata 24,14 detik per balita, di mana durasi tercepat tercatat selama 9,88 detik.
Kebaruan inovasi terletak pada integrasi alat sederhana dengan sistem digital berbasis aplikasi yang praktis dan ekonomis. Penerapan inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan ketepatan hasil pengukuran, mempercepat pelaporan data, mendukung deteksi dini stunting, serta menjadi model inovasi kesehatan masyarakat yang mudah direplikasi di wilayah lain.
Kata Kunci: stunting, Z-Score, inovasi kesehatan, monitoring balita, aplikasi mobile.
Permasalahan stunting masih menjadi salah satu prioritas penanganan kesehatan di Kota Semarang dalam tiga tahun terakhir. Upaya percepatan penurunan stunting dari tahun 2023 hingga 2025 menunjukkan tantangan dinamis, dengan capaian prevalensi terakhir pada tahun 2025 berada di angka 4,27%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, persentase stunting berada di angka 4,66% pada bulan Februari 2026 dari total 71.983 balita yang diukur dan mengalami kenaikan menjadi 4,99% pada Maret 2026 dari total 67.487 balita yang diukur. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting masih memerlukan penanganan yang lebih intensif, terintegrasi, dan berkelanjutan dari tahun 2023 hingga 2025. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang efektif, tepat guna, dan berbasis masyarakat untuk mendukung percepatan penurunan stunting di Kota Semarang.
Salah satu wilayah yang masih memiliki kasus stunting adalah Kecamatan Tembalang. Berdasarkan data e-PPGBM Puskesmas Tembalang per Januari 2026, Kelurahan Mangunharjo masih terdapat 12 kasus balita stunting. Permasalahan utama yang ditemukan di lapangan antara lain: (1) akurasi pengukuran panjang badan/tinggi badan balita masih rendah karena alat ukur yang belum standar, (2) kader mengalami kesulitan dalam menghitung nilai Z-Score secara manual sesuai standar WHO, dan (3) proses pelaporan data dari tingkat Dasawisma ke kelurahan membutuhkan waktu hingga 14 hari sehingga intervensi pemberian makanan tambahan (PMT) sering terlambat dilakukan.
Menjawab tantangan tersebut, TP PKK Kelurahan Mangunharjo di bawah koordinasi Bidang Pokja IV meluncurkan Inovasi “Alat Tikar Monitoring Stunting Terintegrasi Dengan Sistem Monitoring Stunting Berbasis Mobile Apps (TIMONTING-APMONTING)” Pada Februari 2026. Inovasi ini terdiri dari dua komponen yaitu: (1) Tikar Monitoring Stunting dan (2) Aplikasi Monitor Stunting berbasis Android untuk input data otomatis dan real-time. Penggunaan metode Z-Score dalam penentuan status stunting dinilai efektif karena mampu meningkatkan akurasi identifikasi status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U). Hal tersebut juga didukung oleh publikasi pada Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (JRMIK) yang menjelaskan bahwa klasifikasi status gizi stunting menggunakan indikator Z-Score menjadi standar pengukuran yang digunakan dalam penentuan kategori stunting pada balita. Setelah diimplementasikan selama 6 bulan, perlu dilakukan penelitian kebijakan untuk mengukur efektivitas inovasi serta merumuskan rekomendasi replikasi pada tingkat kecamatan.
Inovasi ini memiliki keunggulan dalam menggabungkan media pengukuran antropometri berbasis visual dengan sistem informasi digital berbasis Z-Score dalam satu alur monitoring stunting. Berbeda dengan metode sebelumnya yang masih menggunakan pencatatan manual dan interpretasi tabel status gizi secara terpisah, alat ini memungkinkan proses pengukuran, identifikasi, dan pencatatan data dilakukan secara lebih cepat, praktis, dan akurat.
Sistem indikator warna pada selimut pemantau stunting memudahkan kader Posyandu maupun orang tua dalam memahami status pertumbuhan balita tanpa harus membaca tabel antropometri secara manual. Selain itu, data hasil pengukuran langsung tersimpan secara digital dan real-time melalui aplikasi Z-Score Stunting Monitor sehingga mengurangi risiko kesalahan pencatatan serta mempercepat proses monitoring di tingkat desa atau kelurahan. Inovasi ini juga dilengkapi dengan notifikasi otomatis untuk kasus stunting berat agar tindak lanjut dapat dilakukan lebih cepat oleh tenaga kesehatan dan TP PKK. Dengan keunggulan tersebut, TIMONTING-APMONTING tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai sistem monitoring stunting terpadu yang mendukung deteksi dini dan percepatan penanganan stunting di masyarakat.
| Nama | : | Dr. Siti Masrochah, S.Si., M.Kes |
| Alamat | : | Elangsari Selatan No.31 RT 009 RW 005 Mangunharjo, Tembalang, Kota Semarang |
| No. Telepon | : | 081575690285 |