Budi daya ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sektor perikanan air tawar yang cepat berkembang di Indonesia. Sektor ini berkontribusi penting terhadap ketahanan pangan dan ekonomi. Penerapan metode bioflok menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi pakan dan kepadatan tebar. Metode bioflok jarang diketahui banyak orang karena penerapannya cukup sulit, padahal bioflok sendiri memiliki banyak keuntungan, di antaranya tingginya tingkat kepadatan tebar benih ikan, keterbatasan lahan, minim air, memproduksi dalam jumlah banyak dalam waktu singkat, serta menghemat pakan (Churiyah et al., 2019).
Namun, keberhasilan metode ini sangat bergantung pada kestabilan kualitas air, terutama pH, oksigen terlarut, dan kekeruhan. Masalah yang sering terjadi adalah pemantauan kualitas air yang masih dilakukan secara manual dan tidak berkelanjutan. Akibatnya, perubahan kondisi air sering terlambat ditangani, dan hal ini berisiko menyebabkan stres hingga kematian massal ikan.
Inovasi ini mengembangkan SIBI sebagai sistem pengelolaan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT). SIBI berperan sebagai sistem monitoring dan kontrol otomatis. SIBI menggunakan sensor pH, suhu, dan kekeruhan untuk membaca kondisi air secara berkala. Data yang diambil akan diolah oleh mikrokontroler untuk mengaktifkan aerator, pompa probiotik, dan pompa pembuangan secara otomatis apabila terdapat perubahan kondisi yang berbeda dari kondisi yang optimal. Selain itu, terdapat fitur notifikasi berbasis smartphone untuk mempercepat respon dari para pembudidaya.
Penerapan SIBI dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan kualitas air, mengurangi risiko kematian ikan, serta mendukung produktivitas budi daya skala kecil hingga menengah. Namun, sistem ini masih memiliki kekurangan, seperti estimasi oksigen terlarut yang tidak langsung, ketahanan sensor, dan ketergantungan pada jaringan internet.
Budi daya ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu sektor perikanan air tawar yang berkembang pesat di Indonesia karena memiliki pasar yang luas serta permintaan yang tinggi baik di tingkat lokal maupun nasional (Susilo et al., 2023). Ikan ini dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat, daya tahan tubuh yang baik, serta mampu hidup pada kepadatan tebar tinggi sehingga sangat cocok dibudidayakan secara intensif. Menurut Data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) nasional terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2022 produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) mencapai 1.356.654 ton per tahun dan meningkat menjadi 1.368.542 ton pada tahun 2023. Pada tahun 2024 produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) nasional kembali meningkat sebesar 1,86% dari tahun sebelumnya menjadi sekitar 1.563.327 ton per tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas perikanan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan serta perekonomian masyarakat. Seiring dengan meningkatnya produksi, penerapan sistem budi daya yang lebih efisien seperti metode bioflok semakin banyak digunakan karena mampu meningkatkan kepadatan tebar dan efisiensi pakan.
Metode bioflok adalah sebuah sistem budi daya ikan yang memanfaatkan kerja bakteri untuk mendaur ulang sisa-sisa bahan organik yang bersifat racun bagi ikan untuk menjadi protein sel tunggal yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan bagi ikan. Metode bioflok memiliki keistimewaan dibandingkan dengan budi daya cara konvensional antara lain dapat menurunkan limbah nitrogen anorganik dari sisa pakan dan kotoran (Indariyanti dkk, 2024). Namun demikian, keberhasilan budi daya bioflok sangat bergantung pada kestabilan parameter kualitas air, khususnya pH, oksigen terlarut, dan kekeruhan pada air. Ketidakseimbangan salah satu parameter tersebut dapat menyebabkan stres pada ikan, penurunan nafsu makan, hingga risiko kematian massal. Permasalahan ini sering terjadi karena pemantauan kualitas air masih dilakukan secara manual dan tidak berkelanjutan, sehingga perubahan kondisi air yang terjadi secara cepat tidak dapat segera ditangani.
Sistem pengendali dapat menjadi alternatif penyelesaian yang mampu memantau dan mengontrol kualitas air secara otomatis dan real-time. Berdasarkan observasi pada 3 Maret 2026, diketahui bahwa pengecekan pH dan suhu air masih bersifat tidak berkala. Pengecekan dilakukan umumnya sekitar dua bulan sekali, dan bukan oleh pembudidaya secara langsung. Hasil tersebut mengembangkan SIBI yang mengintegrasikan sensor pH, oksigen terlarut, dan kekeruhan berbasis Internet of Thing (IoT) sebagai solusi yang tepat. SIBI dapat membaca parameter kualitas air secara berkala, menganalisis data menggunakan logika prioritas, serta mengaktifkan aerator atau pompa secara otomatis apabila terjadi penyimpangan dari batas optimal. Selain itu, SIBI juga dilengkapi fitur notifikasi dini yang dapat diakses melalui smartphone, sehingga pembudidaya dapat melakukan tindakan penanganan secara cepat dan tepat.
Inovasi SIBI memiliki beberapa aspek kebaharuan dibandingkan inovasi sebelumnya yang dilakukan oleh Steven Verentinus dan Wulan Safitri mengenai pemantauan kualitas air bioflok berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi sebelumnya telah mengembangkan sistem monitoring kualitas air yang mampu membaca parameter seperti suhu, pH, dan amonia secara real-time, namun sistem tersebut masih berfokus pada fungsi pemantauan tanpa pengendalian otomatis yang lebih adaptif.
Kebaharuan utama pada inovasi SIBI terletak pada integrasi sistem monitoring dengan pengendalian otomatis kualitas air. SIBI dilengkapi dengan pengendalian aerator otomatis yang akan meningkatkan suplai oksigen ketika kadar oksigen terlarut menurun. SIBI mampu menstabilkan pH air dengan mengaktifkan pompa probiotik secara otomatis apabila pH berada di luar batas optimal. SIBI juga dilengkapi pompa pembuangan yang dapat bekerja secara otomatis ketika sensor mendeteksi peningkatan kekeruhan air, sehingga kualitas air tetap terjaga.
Integrasi monitoring dan pengendalian otomatis menjadikan SIBI tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan kualitas air yang lebih responsif, adaptif, dan efisien dalam menjaga kolam bioflok pada budi daya ikan nila.
| Nama | : | Dwi Riska Apriliani |
| Alamat | : | Jl. Garuda No. 1A, Desa Bongkok, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | 082313582821 |