Produksi durian (Durio zibethinus) di Indonesia yang terus meningkat menghasilkan
limbah kulit durian dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain,
kasus penyakit berbasis vektor nyamuk seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai daerah tropis. Produk anti nyamuk sintetis
yang beredar di pasaran umumnya mengandung bahan kimia volatil yang berpotensi
menimbulkan iritasi kulit maupun dampak lingkungan, sehingga diperlukan inovasi repelan
nyamuk yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berbasis sumber daya lokal.
Permasalahan utama yang ingin dipecahkan adalah rendahnya stabilitas minyak atsiri
sebagai bahan aktif alami serta keterbatasan daya lekat dan efektivitas perlindungan pada
repelan nabati konvensional. Selain itu, limbah biomassa kulit durian belum memiliki nilai
tambah ekonomis yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan teknologi formulasi yang
mampu meningkatkan stabilitas, efektivitas, dan keamanan produk repelan alami.
Inovasi yang dikembangkan berupa NoNya, yaitu spray anti nyamuk berbasis
nanoemulsi yang memanfaatkan karbon nanodot dari limbah kulit durian sebagai nano-carrier
dan minyak atsiri sereh dapur (Cymbopogon citratus) sebagai agen repelan alami. Metode
inovasi meliputi sintesis carbon nanodot, karamelisasi carbon nanodot, serta uji efektivitas
repelan. Pendekatan nanoteknologi digunakan untuk meningkatkan stabilitas senyawa aktif dan
meningkatkan efektivitas repelan.
Hasil inovasi menunjukkan bahwa NoNya memiliki potensi meningkatkan efektivitas
perlindungan terhadap nyamuk, serta tingkat toksisitas yang lebih rendah dibandingkan spray
sintetis kimia. Inovasi ini memberikan dampak berupa pemanfaatan limbah agroindustri
menjadi produk bernilai tinggi, pengembangan repelan ramah lingkungan, serta peluang
komersialisasi produk kesehatan berbasis nanoteknologi lokal yang berkelanjutan.
Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah) merupakan daerah endemis vektor
nyamuk yang menjadi salah satu penyebab utama kasus penyakit menular seperti
Demam Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya. Berdasarkan profil kesehatan
regional, angka insidensi DBD di Karanganyar tergolong tinggi dan menjadi perhatian
pemerintah serta masyarakat setempat untuk melakukan intervensi pengendalian
vektor. Data dari media lokal menunjukkan bahwa pada awal tahun 2025 telah tercatat
sebanyak 99 kasus DBD di Karanganyar, termasuk satu kasus kematian akibat DBD,
yang terdeteksi terutama pada Januari 2025. Hal ini terjadi di beberapa kecamatan
endemis yang menunjukkan bahwa masalah DBD masih berlanjut di daerah tersebut.
Data ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar,
yang melaporkan bahwa angka DBD tetap tinggi sejak awal tahun dan menjadi
ancaman kesehatan masyarakat. Selain itu, data historis tahun 2024 juga menunjukkan
bahwa jumlah kasus DBD di Karanganyar mencapai lebih dari 1.500 kasus, yang
merupakan angka signifikan dibanding periode sebelumnya (Halim, 2025; RRI, 2026).
Kondisi ini mencerminkan bahwa DBD tetap menjadi masalah kesehatan serius
di Kabupaten Karanganyar, terutama saat memasuki musim hujan dan pancaroba yang
meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu,
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkelanjutan termasuk gerakan 3M Plus,
pengaktifan kader jumantik, sergap nyamuk dan kegiatan pencegahan oleh puskesmas
dan masyarakat menjadi fokus penting dalam menekan angka kejadian penyakit vektor
di wilayah ini (Puspitasary, 2023).
Permasalahan kesehatan ini makin diperparah oleh kondisi lingkungan yang
mendukung perkembangbiakan nyamuk. Pembuangan sampah yang tidak dikelola
dengan baik di beberapa wilayah Karanganyar, termasuk sampah rumah tangga yang
menumpuk di area sungai serta lingkungan sekitar, menyebabkan meningkatnya
populasi nyamuk lokal yang menyerang warga dan berkontribusi terhadap penularan
penyakit vektor seperti chikungunya.
Selain sampah rumah tangga, di beberapa kecamatan sentra produksi durian juga
dijumpai sampah kulit durian yang menumpuk. Kabupaten Karanganyar memang
dikenal sebagai salah satu sentra produksi buah durian (Durio zibethinus) dengan
ribuan ton buah yang dihasilkan setiap tahun (Statistics of Horticulture, 2024). Produksi
durian yang besar ini pada musim panen menghasilkan limbah kulit durian dalam
jumlah signifikan, sering kali hanya dibuang sebagai sampah organik tanpa
pemanfaatan lanjutan. Jika tidak dikelola, maka akan menjadi bagian dari tempat
genangan air atau mikrohabitat bagi nyamuk. Hal ini menjadi tantangan tambahan
dalam pengelolaan lingkungan sehat di daerah endemis penyakit vektor. Secara umum,
limbah biomassa seperti kulit durian memerlukan strategi pemanfaatan yang inovatif
untuk mengurangi beban sampah sekaligus memberikan manfaat fungsional.
Dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi pangan, berbagai penelitian
menunjukkan bahwa kulit buah dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki
nilai tambah, seperti sumber bioaktif berbasis nano. Salah satu material nano yang
berkembang pesat adalah carbon nanodot (C-dot), yaitu nanopartikel karbon yang
memiliki stabilitas tinggi, biokompatibilitas baik, serta luas permukaan besar sehingga
berpotensi sebagai pembawa molekul aktif. Penelitian sebelumnya menunjukkan
carbon nanodot dapat disintesis dari biomassa organik dan diaplikasikan dalam
berbagai bidang, termasuk formulasi repelan berbasis nano (Ufairah, Rukasih, Yuflihza,
& Dwandaru, 2025). Sebagai contoh, inovasi nanospray anti nyamuk dari limbah kulit
buah telah dilakukan di beberapa lembaga pendidikan tinggi dan berhasil mendapatkan
repelan yang efektif terhadap nyamuk.
Kebutuhan untuk mengembangkan spray anti nyamuk yang efektif, aman bagi
kesehatan, serta ramah lingkungan di Karanganyar menjadi sangat penting. NoNya
dirancang sebagai formulasi inovatif yang memadukan carbon nanodot sebagai matriks
fungsional dengan minyak atsiri sereh dapur. Inovasi ini diharapkan mampu mengatasi
dua permasalahan utama sekaligus: (1) menekan populasi nyamuk penyebab penyakit
dan (2) mengurangi limbah durian yang menjadi bagian dari penyebab lingkungan
kurang sehat di Kabupaten Karanganyar.
Dengan demikian, penelitian yang berjudul: “NoNya: Pengembangan Spray
Anti Nyamuk Berbasis Carbon Nanodot dengan Penambahan Minyak Atsiri Sereh
Dapur sebagai Agen Repelan Ramah Lingkungan” penting untuk dilakukan, karena
menjadi solusi berkelanjutan untuk masalah lingkungan dan sekaligus memenuhi
kebutuhan spray anti nyamuk yang aman, efektif, dan ramah lingkungan.
NoNya memiliki keunggulan utama berupa kombinasi nanoteknologi dan bahan
alami yang menghasilkan spray anti nyamuk efektif, aman, dan ramah lingkungan.
Pemanfaatan carbon nanodot dari limbah kulit durian menjadikan inovasi ini bernilai
tambah karena mampu mengurangi sampah organik sekaligus mendukung prinsip
keberlanjutan. Penambahan minyak atsiri sereh juga dapat memaksimalkan
pemanfaatan tumbuhan yang sering terabaikan di pinggir sawah ini. Minyak atsiri sereh
(Cymbopogon sp.) diketahui mengandung senyawa aktif seperti citronellal, citronellol,
dan geraniol yang memiliki aktivitas repelan terhadap berbagai spesies nyamuk. Studi
formulasi repelan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi minyak sereh dapur
meningkatkan kemampuan perlindungan terhadap gigitan nyamuk (Triastuti, Sobary, &
Wihartini, 2024).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri berfungsi sebagai agen
bio-repelan alami yang efektif dan berpotensi menggantikan bahan kimia sintetis
(Kamaraj et al., 2023). Minyak atsiri sereh dapur sebagai agen repelan alami
menjadikan NoNya lebih aman dibandingkan produk berbasis insektisida sintetis.
Selain itu, bahan baku yang melimpah dan mudah diperoleh secara lokal membuat
inovasi ini ekonomis, aplikatif, dan berpotensi dikembangkan sebagai produk inovasi
daerah untuk mendukung pengendalian nyamuk secara berkelanjutan.
Berbeda dengan spray anti nyamuk di pasaran yang menggunakan bahan kimia
sintetis (misalnya DEET, picaridin, atau IR3535) yang efektif namun memiliki risiko
iritasi kulit, bau tajam, dan dampak negatif terhadap kesehatan serta lingkungan jangka
panjang, NoNya memanfaatkan minyak atsiri sereh dapur sebagai agen repelan yang
alami dan relatif aman bagi manusia. Namun demikian, penggunaan minyak atsiri
memiliki kelemahan utama berupa volatilitas tinggi dan stabilitas rendah, sehingga efek
perlindungan yang dihasilkan relatif singkat akibat penguapan cepat senyawa aktif
(Adem et al., 2024). Maka penggunaan carbon nanodot dari limbah kulit durian
menjadi penting untuk meningkatkan stabilitas dan durasi efek repelan dengan
mekanisme pelepasan bertahap, yang dapat mengurangi frekuensi aplikasi ulang
dibandingkan spray repelan biasa yang volatil dan cepat menguap.
| Nama | : | Farras Mukhita Robbi'i |
| Alamat | : | SMA IT Insan Kamil, Komplek PPTQ Insan Kamil, Jungke, Kec. Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57713 |
| No. Telepon | : | 082233131200 |