Bank Saku

Aplikasi Bank Saku dikembangkan sebagai solusi digital untuk membantu pengelolaan sampah di Kelurahan Banyuanyar, Surakarta, yang masih menghadapi berbagai kendala, seperti pencatatan manual, pengelolaan data yang belum terintegrasi, serta rendahnya efisiensi pelayanan bank sampah. Tingginya volume sampah rumah tangga dan meningkatnya penggunaan smartphone di masyarakat menjadi peluang untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah berbasis digital yang lebih efektif, transparan, dan mudah diakses Masyarakat.

Permasalahan utama yang ingin diselesaikan melalui inovasi ini adalah kurang optimalnya sistem administrasi dan pengelolaan Bank Sampah Migunani, mulai dari pencatatan transaksi, pemantauan saldo nasabah, hingga keterbatasan layanan pengumpulan sampah. Selain itu, sistem manual berisiko menyebabkan kesalahan pencatatan dan kehilangan data. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah sekaligus mendorong partisipasi aktif Masyarakat.

Bank Saku dikembangkan menggunakan teknologi React Native dan Firebase sebagai aplikasi bank sampah digital berbasis mobile. Inovasi ini memiliki fitur pencatatan transaksi otomatis, saldo real-time dalam bentuk rupiah, layanan penjemputan sampah terjadwal, marketplace daur ulang, serta sistem gamifikasi untuk meningkatkan partisipasi pengguna. Pengembangan aplikasi dilakukan melalui observasi lapangan, analisis kebutuhan pengguna, tahap simulasi sistem, serta kerja sama langsung dengan Bank Sampah Migunani sebagai mitra implementasi awal.

Hasil implementasi awal menunjukkan bahwa aplikasi telah digunakan oleh 15 pengurus Bank Sampah Migunani dalam proses pengelolaan dan pencatatan transaksi sampah. Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara, mayoritas pengguna menyatakan aplikasi cukup mudah digunakan, mempercepat pencatatan transaksi, mengurangi risiko kesalahan data, serta mempermudah pembuatan laporan. Mulai bulan Juni, implementasi akan diperluas kepada sekitar 30 nasabah aktif Migunani sebagai tahap pilot project awal

Di Surakarta sampah merupakan salah satu masalah lingkungan yang tak kunjung usai. Menurut World Health Organization (WHO). Seiring dengan populasi yang terus meningkat dan produksi yang terus meningkat, sampah seringkali terbuang sia-sia apalagi dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut data DLH, timbunan sampah di Surakarta mencapai 300 ton per hari, dengan 55-60 persen diantaranya merupakan sampah organik yang pengelolaannya belum optimal. Sampah ini berasal dari kegiatan sehari-hari seperti sisa makanan dan bahan dapur. Selain sampah organik, sampah anorganik seperti plastik yang jumlahnya terus meningkat. Plastik adalah bahan baku di hampir semua barang yang biasa kita lihat. Ini termasuk alat makan, botol minum, kantong, dan plastik lainnya. Seiring dengan meningkatnya volume sampah setiap tahun, diperlukan sistem yang efektif dalam pengelolaannya. Sementara itu, pengelolaan sampah pada tingkat RW masih mengalami berbagai kendala seperti, proses pencatatan administrasi yang masih manual

 

          

     Gambar 1.1 Infografik                       Gambar 1.2 TPA putri cempo

 

Kelurahan Banyuanyar adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Banjarsari. Sebagai salah satu pemukiman yang padat penduduk, kelurahan banyuanyar berpotensi memberikan timbunan sampah organik maupun anorganik yang cukup tinggi. Namun potensi tersebut belum dikelola secara optimal melalui sistem yang terintegrasi, sehingga proses pencatatan, pengumpulan, dan pengelolaan sampah masih berjalan secara terbatas. Di sisi lain, masyarakat setempat telah melakukan banyak hal untuk mengelola sampah. Salah satunya melalui bank sampah Migunani, tempat warga memilah dan menabung sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Wahyu, 2024), bank sampah dapat didefinisikan sebagai sarana pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang karena sampah memiliki nilai ekonomi (Menteri Lingkungan Hidup, 2014). Bank sampah berperan penting dalam mengurangi timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat. Program Bank Sampah Migunani di Banyuanyar juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat, seperti kegiatan Kelompok Wanita Tangguh (KWT) yang aktif dalam program pemberdayaan lingkungan, terutama pemanfaatan limbah rumah tangga. Salah satu program yang dijalankan adalah pembuatan eco enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi sampah organik     seperti sisa sayuran dan buah yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair alami maupun pembersih alami.  Namun, potensi besar dari partisipasi aktif masyarakat dan program di bank sampah migunani ini masih terhambat, meskipun Bank Sampah Migunani telah memberikan kontribusi positif dalam upaya pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat, hasil observasi menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Salah satu kendala yang ditemukan adalah proses pengumpulan sampah dari rumah warga yang masih terbatas dan belum terkoordinasi secara optimal. Pengelolaan sampah umumnya dilakukan secara berkala dan masih bergantung pada warga untuk mengantarkan sampah secara langsung ke lokasi bank sampah. Kondisi tersebut menyebabkan layanan pengelolaan sampah menjadi kurang fleksibel dan belum mampu menjangkau seluruh masyarakat secara maksimal. Selain itu, proses pencatatan data setoran sampah dan saldo nasabah masih dilakukan secara manual menggunakan buku catatan, yang berpotensi menimbulkan kesalahan pencatatan dan kehilangan data. Sehingga pengelolaan data bank sampah belum dilakukan secara optimal.

 

       
     
   
 

               Gambar 1.3 Bank Sampah Migunani                       Gambar 1.4 Warga setor sampah           

 

Gambar 1.5 catatan transaksi manual

 

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, terutama dalam penggunaan smartphone di kalangan masyarakat. Berdasarkan data dari Perusahaan riset Data Reportal (GSMA Intelligence) menyatakan bahwa jumlah penggunaan gadget (smartphone) Indonesia mencapai 353,3 juta penduduk pada awal 2024. Gawai (smartphone) tidak hanya digunakan oleh para orang dewasa, tetapi banyak juga ditemukan di kalangan pelajar (Daffa, 2024). Tingkat penggunaan smartphone di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Kondisi ini membuka peluang untuk memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai bidang, termasuk dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Beberapa penelitian mengenai penerapan bank sampah digital juga menunjukkan bahwa sistem berbasis aplikasi dapat membantu mempermudah proses pencatatan transaksi sampah, pengelolaan data nasabah, serta meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan bank sampah. Bank Sampah Digital merupakan Social Enterprise yang mengolah sampah kering berbasis pada masyarakat dengan platform digital. Sistem Bank Sampah Digital mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk memilah sampah dari rumah dan menyetorkan sampah tersebut kepada bank sampah sehingga sampah yang tadinya tidak bernilai berubah memiliki nilai ekonomi (Qodriyah, 2022). Oleh karena itu, pengembangan sistem bank sampah digital dinilai dapat menjadi salah satu solusi yang potensial untuk mendukung pengelolaan Bank Sampah Migunani agar lebih efektif, terorganisir, dan mudah diakses oleh masyarakat maupun pengelola.

Aplikasi bank sampah digital sebenarnya sudah pernah dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah aplikasi Mallsampah yang menyediakan layanan pengelolaan sampah berbasis digital. Namun, berdasarkan hasil analisis dan observasi kebutuhan masyarakat, masih terdapat beberapa keterbatasan dalam aplikasi tersebut, seperti hasil setoran sampah yang masih dikonversi dalam bentuk poin, belum tersedianya layanan penjemputan sampah, serta belum adanya sistem penghargaan berdasarkan tingkat keaktifan pengguna. Oleh karena itu, Bank Saku dikembangkan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi melalui sistem saldo langsung dalam bentuk rupiah, fitur penjemputan sampah berbasis lokasi, serta sistem penghargaan pengguna berdasarkan tingkat partisipasi dalam kegiatan pengelolaan sampah. Pengembangan fitur tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemudahan layanan, transparansi, serta partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis digital.

                                         

     Gambar 1.6 Interface Mallsampah                  Gambar 1.7 Interface Bank Saku

 

Berdasarkan hasil observasi dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan aplikasi yang dapat membantu pengelolaan bank sampah dalam menghadapi berbagai kendala, terutama dalam aspek operasional dan administrasi yang belum terintegrasi secara digital. Keterbatasan armada, pencatatan data manual, serta pengelolaan informasi yang belum sistematis menjadi faktor yang menghambat efektivitas pengelolaan sampah di masyarakat. Di sisi lain, tingginya penggunaan smartphone di indonesia serta pemanfaatan teknologi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sampah. Oleh karena itu, langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan sistem bank sampah digital sesuai dengan kebutuhan pengguna, serta melakukan uji coba penerapan sistem guna mengevaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan efisiensi, akurasi pencatatan, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Aplikasi tersebut kami beri nama Bank Saku; Ubah Sampah Jadi Rupiah, Praktis Lewat Aplikasi.

Selain memberikan kemudahan dalam pencatatan digital, Bank Saku memiliki keunggulan utama pada integrasi sistem pengelolaan sampah dengan konversi nilai ekonomi secara langsung ke dalam bentuk saldo rupiah. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pencatatan, tetapi juga memberikan transparansi dan nilai ekonomi secara real-time kepada pengguna, sehingga proses pengelolaan sampah menjadi lebih efisien dan menarik bagi masyarakat.

1.Konversi Nilai sampah secara langsung

Sampah yang disetorkan oleh nasabah dapat langsung dikonversi menjadi nilai saldo secara otomatis, sehingga proses perhitungan menjadi lebih cepat, tepat, dan transparan tanpa perlu dilakukan secara manual.

2.Gamifikasi
Pengguna mengumpulkan poin dari setiap setoran, naik level dari Pemula Hijau hingga Master Lingkungan, dan mengoleksi enam badge pencapaian. Leaderboard ranking individu dan antar RW mendorong partisipasi melalui kompetisi sehat antar warga.

3.Marketplace
Semua pengguna dapat menjual produk dengan foto, deskripsi, harga, dan kontak WhatsApp. Filter kategori dan jenis penjual memudahkan pencarian. Fitur ini menciptakan nilai ekonomi tambahan sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

4.Jemput Terjadwal

Pengguna dapat memilih bank sampah tujuan, alamat, tanggal, slot waktu, dan jenis sampah. admin akan menerima notifikasi otomatis untuk melakukan penjemputan sesuai jadwal, sehingga warga tidak perlu mengantar sampah sendiri.

5.Pencatatan Data Otomatis dan Akurat

Sistem bank sampah digital memungkinkan setiap transaksi setoran sampah tercatat secara otomatis, sehingga dapat mengurangi risiko kesalahan pencatatan dan kehilangan data yang sering terjadi pada sistem manual.

6.Transparansi dan akses Informasi Real-Time

Nasabah dapat memantau saldo dan riwayat transaksi kapan saja melalui aplikasi, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan bank sampah.

7.Efisiensi Pengelolaan Operasional

Sistem digital dapat mempercepat proses administrasi dan mengurangi beban kerja pengelola, terutama dalam pencatatan dan pengolahan data, sehingga kegiatan operasional menjadi lebih efisien.

Nama : Khairan Athaya Wibowo
Alamat : Gang petruk rt 2 rw 9, banyuanyar, banjarsari, surakarta
No. Telepon : 082228350692