Basa Rasa Tegal dilatarbelakangi oleh menurunnya penggunaan Bahasa Tegal serta berkurangnya minat generasi muda terhadap kuliner khas daerah akibat pengaruh globalisasi dan tren modern. Hasil pre-test terhadap 122 responden menunjukkan 63,16% siswa masih awam terhadap beberapa kosakata Bahasa Tegal. Kondisi ini menandakan adanya pergeseran budaya yang berpotensi menghilangkan identitas lokal jika tidak segera dilakukan upaya pelestarian yang inovatif dan adaptif.
Permasalahan utama yang diangkat adalah lemahnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal Kabupaten Tegal, khususnya Bahasa Tegal dan kuliner tradisional Kabupaten Tegal. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu mengintegrasikan edukasi budaya dengan pendekatan menarik dan mudah diterima generasi saat ini.
Basa Rasa Tegal hadir sebagai boardgame edukatif berbasis hybrid IoT yang menggabungkan pengenalan Bahasa Tegal dan kuliner khas Kabupaten Tegal. Permainan ini dilengkapi kartu bahasa dan kartu kuliner yang terhubung dengan website sebagai kamus digital Bahasa Tegal serta media informasi dan promosi kuliner dan UMKM Kabupaten Tegal. Basa Rasa Tegal menjadi media konservasi Bahasa Tegal dan promosi kuliner yang mendorong generasi muda aktif karena menghadirkan pengalaman langsung sehingga lebih efektif dibandingkan metode konvensional.
Keunggulan inovasi ini terletak pada integrasi permainan fisik dan platform digital yang berfungsi sebagai media konservasi Bahasa Tegal dan kuliner khas Kabupaten Tegal sekaligus sarana promosi UMKM lokal. Implementasi telah dilakukan di sekolah dan komunitas dengan hasil meningkatnya pemahaman kosakata Bahasa Tegal serta minat terhadap kuliner khas Kabupaten Tegal. Dengan demikian, Basa Rasa Tegal berkontribusi dalam pelestarian budaya sekaligus mendukung ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
“Makna pendidikan yang sebenarnya adalah mengerti serta menjaga budaya leluhur supaya generasi muda tidak kehilangan identitas budaya mereka (Ki Hajar Dewantara).” Budaya adalah elemen penting dalam kehidupan karena Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya dari tiap daerah, terutama bahasa daerah dan kuliner lokal (Bakhri, 2022). Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, inovasi Basa Rasa Tegal mendukung kewenangan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi lokal, termasuk pelestarian bahasa daerah, promosi kuliner khas Tegal, serta penguatan ekonomi masyarakat. Undang-undang ini menjadi landasan bahwa pemerintah daerah berhak dan bertanggung jawab mendorong inovasi daerah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat guna memajukan kesejahteraan perekonomian Kabupaten Tegal. Adapun Peraturan Bupati Kabupaten Tegal Nomor 78 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Inovasi Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal, juga mendukung pengembangan inovasi sebagai upaya konservasi Bahasa Tegal dan kuliner khas Tegal.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan melalui pre-test bersama 122 responden dari SMA Negeri 3 Slawi dan SMP Negeri 1 Slawi mengenai beberapa kata yang hampir punah dalam Bahasa Tegal menunjukkan bahwa sebagain besar generasi muda Kabupaten Tegal tidak lagi mengenal beberapa kata dalam Bahasa Tegal. Hal ini dapat dilihat dari persentase jawaban responden yang mengatakan mengenal dan mengerti makna beberapa kata dalam Bahasa Tegal rata rata hanya 36,84%, sedangkan rata rata persentase sebanyak 63,16% mengatakan bahwa sebagian besar responden tidak lagi mengerti makna kata dalam Bahasa Tegal. Kata dalam Bahasa Tegal yang mulai jarang digunakan akan berpotensi punah jika tidak dilakukan langkah-langkah untuk melestarikannnya.
Dalam praktik komunikasi sehari-hari generasi muda cenderung lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia maupun istilah slang yang dianggap lebih modern. Selain itu, maraknya kuliner modern yang beredar di kafe maupun stan UMKM lokal yang menjual makanan non-tradisional turut mempengaruhi pola konsumsi generasi muda, sehingga frekuensi konsumsi kuliner khas Tegal mulai mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi budaya yang berdampak pada melemahnya keterikatan generasi muda terhadap bahasa dan kuliner lokal. Berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Ki Firman Haryo Susilo, S.Psi. beliau menyampaikan bahwa pelestarian Bahasa Tegal menjadi salah satu hal yang penting. Bahkan Dewan Kebudayaan Kabupaten Tegal juga mendorong pengembangan kurikulum Bahasa Tegal agar masuk ke dalam muatan lokal.
Revitalisasi bahasa daerah menjadi isu yang mendesak di Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyampaikan bahwa dari 718 bahasa daerah di Indonesia, sebanyak 11 bahasa telah dinyatakan punah. Ia juga menyoroti bahwa dialek subkultur bagian barat seperti Banyumasan dan Tegalan mulai mengalami penurunan popularitas di kalangan generasi milenial. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah serta sejumlah budayawan Tegal yang menekankan pentingnya revitalisasi bahasa daerah melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk praktisi pendidikan, seniman, budayawan, dan media (www.ayotegal.com). Selain itu, berdasarkan data dari Ethnologue tahun 2023, dari 7.168 bahasa yang digunakan di dunia, lebih dari 40% berada dalam kondisi terancam punah (endangered). Bahkan diperkirakan pada akhir abad ke-21 lebih dari setengah bahasa daerah di Indonesia berpotensi mengalami kepunahan apabila tidak dilakukan upaya pelestarian secara sistematis (Zumara, 2025). Oleh karena itu, perlu adanya inovasi sebagai upaya pelestarian Bahasa Tegal, apalagi banyak kosakata Bahasa Tegal yang hampir punah. Konservasi Bahasa Tegal dapat dilakukan dengan media yang mampu meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap Bahasa Tegal. Board game Basa Rasa Tegal hadir sebagai upaya konservasi Bahasa Tegal dan promosi kuliner khas Kabupaten Tegal.
Board game Basa Rasa Tegal mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 11, yaitu kota dan komunitas yang berkelanjutan, menargetkan pada tahun 2030 tercapainya perlindungan dan pelestarian warisan budaya serta warisan alam dunia. Inovasi ini selaras dengan upaya perlindungan warisan budaya tak benda, khususnya bahasa daerah dan kuliner lokal Tegal sebagai bagian dari identitas komunitas. Melalui media board game edukatif berbasis IoT, Basa Rasa Tegal menghadirkan pendekatan pelestarian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan gaya hidup generasi muda, sehingga budaya lokal tidak hanya dijaga keberadaannya, tetapi juga dihidupkan kembali dalam praktik keseharian.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025–2029, salah satu dari delapan prioritas pembangunan adalah memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda (generasi milenial dan generasi Z), dan penyandang disabilitas. Board game Basa Rasa Tegal mendukung upaya pembangunan SDM melalui bidang pendidikan dengan menghadirkan media pelestarian Bahasa Tegal dan promosi kuliner khas Kabupaten tegal yang inovatif dan interaktif berbasis penggunaan teknologi. Permainan ini bertujuan memperkuat pemahaman bahasa Tegal sekaligus mengenalkan makanan khas Tegal sebagai bagian dari budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan, Board game ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda untuk melestarikan bahasa dan kuliner khas Tegal agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Di samping itu, dalam RPJPD Kabupaten Tegal, pada kurun waktu 2018–2022 pembangunan kebudayaan di Kabupaten Tegal menunjukkan perkembangan yang terus meningkat secara signifikan. Hal ini sejalan dengan upaya daerah dalam memantapkan ketahanan sosial, budaya, dan keluarga melalui pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya persentase satuan pendidikan yang memiliki guru pengajar muatan lokal (mulok) bahasa daerah dan seni budaya. Board game Basa Rasa Tegal mendukung upaya tersebut dengan menghadirkan media pelestarian Bahasa Tegal yang inovatif. Permainan ini membantu para generasi muda untuk mempelajari Bahasa Tegal sekaligus mengenal makanan khas Tegal sebagai bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui Board game Basa Rasa Tegal, penulis melakukan pembaharuan dengan mengembangan website IoT hybrid untuk menghubungkan elemen fisik seperti kartu bahasa dan kartu kuliner Tegal dengan QR Code pada papan permainan yang menghubungkan langsung ke dashboard digital real-time. Website ini dilengkapi dengan informasi mendalam mengenai kebudayaan Tegal khususnya Bahasa Tegal dan kuliner Kabupaten Tegal , sehingga menjadi keunggulan utama yang memberikan pengalaman dalam mengenal kebudayaan secara efektif interaktif.
Basa Rasa Tegal merupakan inovasi daerah berupa board game edukatif hybrid IoT pertama yang mengintegrasikan Bahasa Tegal dan kuliner tradisional khas Tegal untuk mendukung terobosan lokal yaitu pelestarian budaya Tegal. Board game Basa Rasa Tegal menawarkan keunggulan sebagai wadah konservasi Bahasa Tegal dan kuliner tradisional khas Tegal dengan mekanisme hybrid interaktif. Dalam upaya melestarikan Bahasa Tegal, Board game Basa Rasa Tegal efektif meningkatkan pemahaman pada beberapa kosakata Bahasa Tegal yang sudah jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pemahaman makna kosakata Bahasa Tegal hingga 69,89 persen yang sebelumnya hanya 36,84%. Persentase tersebut terlihat pada hasil pre-test dan post-test yang dibagikan kepada responden. Hal tersebut menunjukkan kemajuan signifikan pada pemahaman beberapa makna kosakata Bahasa Tegal. Selain itu, Board game Basa Rasa Tegal turut berperan dalam upaya promosi kuliner trandisional khas Tegal dan UMKM lokal dengan menyajikan informasi berupa deskripsi kuliner tradisional khas Tegal serta kontak dan alamat UMKM lokal yang menjual kuliner tersebut. Hal ini tentunya memberikan kemudahan dalam mengakses informasi secara lebih praktis dan melakukan pembelian kuliner khas Tegal. Dengan demikian, board game ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga memberikan kemudahan akses informasi yang dapat mendorong peningkatan minat dan daya beli terhadap produk kuliner lokal.
Board game Basa Rasa Tegal dirancang sebagai media edukasi interaktif yang mengintegrasikan konservasi Bahasa Tegal dengan promosi kuliner khas Kabupaten Tegal dalam satu sistem permainan yang saling terhubung. Mekanisme permainan tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi pada pembentukan pemahaman budaya dan kesadaran ekonomi secara berkelanjutan. Pada aspek konservasi bahasa, pemain memperoleh “Kartu Basa” yang berisi kosakata Bahasa Tegal yang mulai jarang digunakan oleh generasi muda. Pemain diminta menebak arti kata tersebut dan menjelaskan maknanya berdasarkan pemahaman mereka. Proses ini mendorong diskusi antarpemain sebelum jawaban diverifikasi melalui website resmi Basa Rasa Tegal yang berfungsi sebagai kamus digital. Website menyediakan arti kata dalam Bahasa Indonesia dan contoh penggunaan dalam kalimat. Mekanisme ini menciptakan paparan bahasa secara berulang, penggunaan aktif dalam percakapan permainan, serta pembelajaran berbasis pengalaman yang lebih efektif dibandingkan metode hafalan. Pada aspek keberlanjutan ekonomi, setiap pemain yang mendapatkan kartu makanan khas Tegal diwajibkan untuk menjabarkan definisi makanan tersebut, menyebutkan bahan utama, dan menjelaskan ciri khas rasa. Mekanisme elaborasi ini mendorong pemain untuk memahami makanan secara mendalam, bukan sekadar mengetahui namanya. Semakin lengkap dan tepat penjelasan yang diberikan, semakin tinggi poin yang diperoleh.
Website pendamping berperan sebagai penghubung antara edukasi dan dampak ekonomi nyata. Selain berfungsi sebagai kamus Bahasa Tegal, website ini juga memuat informasi UMKM kuliner khas Kabupaten Tegal, termasuk alamat usaha, profil singkat pelaku usaha, dokumentasi produk, serta informasi kontak atau pemesanan. Dengan demikian, setelah pemain mengenal dan memahami suatu makanan melalui permainan, mereka dapat mengakses informasi lebih lanjut yang berpotensi mendorong kunjungan atau pembelian secara langsung. Secara konseptual, mekanisme dampak produk ini berjalan melalui alur: paparan bahasa dan kuliner dalam permainan, peningkatan pemahaman dan ketertarikan, tumbuhnya rasa bangga terhadap budaya lokal, serta meningkatnya kecenderungan untuk menggunakan Bahasa Tegal dan mendukung produk kuliner daerah. Integrasi antara media permainan dan platform digital menjadikan Basa Rasa Tegal sebagai sarana edukasi budaya sekaligus strategi promosi ekonomi lokal yang bersifat berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, konservasi bahasa dan penguatan sektor kuliner tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling mendukung dalam membangun identitas budaya dan daya saing ekonomi Kabupaten Tegal secara berkelanjutan.
Keunggulan utama Basa Rasa Tegal terletak pada integrasi antara boardgame edukatif dengan teknologi hybrid IoT sebagai media pelestarian Bahasa Tegal dan promosi kuliner khas Kabupaten Tegal. Inovasi ini menghadirkan pengalaman belajar budaya yang interaktif, menarik, dan relevan dengan generasi muda melalui permainan yang dipadukan dengan website digital.
Basa Rasa Tegal dilengkapi kartu bahasa dan kartu kuliner yang terhubung dengan QR Code menuju website resmi. Website tersebut berfungsi sebagai kamus digital Bahasa Tegal sekaligus media informasi kuliner dan UMKM lokal Kabupaten Tegal. Dengan sistem ini, pemain tidak hanya mempelajari kosakata Bahasa Tegal, tetapi juga mengenal makanan khas daerah serta pelaku usaha lokal secara lebih praktis dan modern.
Keunggulan lainnya adalah efektivitas inovasi dalam meningkatkan pemahaman budaya lokal. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, pemahaman kosakata Bahasa Tegal mengalami peningkatan yang signifikan setelah pemain menggunakan board game ini. Metode pembelajaran berbasis permainan dinilai lebih efektif karena menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mendorong interaksi antarpemain.
Selain menjadi media konservasi budaya, Basa Rasa Tegal juga mendukung penguatan ekonomi lokal melalui promosi kuliner khas Kabupaten Tegal dan UMKM daerah. Inovasi ini menjadi board game edukatif berbasis hybrid IoT pertama di Kabupaten Tegal yang menggabungkan unsur bahasa, budaya, teknologi, dan ekonomi dalam satu media pembelajaran yang inovatif dan berkelanjutan.
| Nama | : | Katya Kaylila Belbibah |
| Alamat | : | Jalan Professor Muhammad Yamin, Perum Pepabri, Kudaile, Kec. Slawi, Kabupaten Tegal. |
| No. Telepon | : | 085801113054 |