“SUPER DUPER - SUPER DURIAN PAPER” INOVASI PEMBUATAN PAPER ART DAN BIOLEATHER BERBAHAN DASAR LIMBAH TOTAL DURIAN DENGAN PENDEKATAN ZERO WASTE SEBAGAI UPAYA REDUKSI DAMPAK LINGKUNGAN SEKALIGUS PRESERVASI BUDAYA WAYANG

 Abstrak

Klaten merupakan salah satu daerah penghasil durian yang diminati pelanggan dari berbagai wilayah. Durian adalah tanaman tropis asal Asia Tenggara dari famili Bombaceae yang hanya memiliki bagian yang dapat dikonsumsi sebesar 20–35%, sementara kulit durian mencapai 60–75% dan biji 5–15% dari keseluruhan buah. Kulit durian mengandung selulosa sebesar 50–60%, sementara itu biji durian diketahui mengandung pati/starch yang tinggi, yakni mencapai 43,6% per bijinya  yang berpotensi diolah menjadi paper art & bio-leather, yaitu kertas dan kulit sintetis ramah lingkungan berbasis organik. Inovasi pemanfaatan limbah durian semakin mendesak mengingat limbah kulit durian yang kian menumpuk di lingkungan, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Penelitian ini mengolah kulit durian melalui serangkaian proses, meliputi pengirisan, delignifikasi menggunakan NaOH hingga lunak, penghalusan dengan blender, pencetakan menjadi lembaran persegi panjang, hingga pengeringan sampai terbentuk lembaran kertas yang kemudian dirangkai menjadi produk berupa wayang yang difokuskan pada sektor kebudayaan dalam masyarakat serta scrapbook. Selain itu, produk ini dapat divariasikan menjadi paper bag, karton, scrapbook, dan produk lainnya. Produk berbahan organik ini lebih ramah lingkungan dibandingkan kertas konvensional karena lebih mudah terurai secara alami, sekaligus menjadi solusi alternatif dalam pengurangan limbah durian yang berpotensi mencemari lingkungan. Dari sisi ekonomi, dengan modal yang relatif minim, produk ini dapat dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi berkat keunikan dan kebaruannya, sehingga diharapkan mampu bersaing di pasar dan meningkatkan penghasilan masyarakat secara berkelanjutan. 

Kata kunci : limbah kulit durian, bio-leather, paper art, pemanfaatan, ramah lingkungan.

A.Latar Belakang

Berdasarkan data terbaru dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total sampah Indonesia pada tahun 2024 mencapai 33,8 hingga 35 juta ton dan sampah organik telah menyumbang total sampah di Indonesia sebesar 50-60%. Banyaknya limbah organik yang ada di sekitar lingkungan kita selalu menimbulkan masalah yang saling berdampingan dengan kesehatan lingkungan yang problematik di kalangan masyarakat. Limbah organik memiliki banyak peranan dan manfaat yang dapat dijadikan sebuah inovasi sebagai sumber ekonomi dan finansial ketika masyarakat bisa mengolahnya. Saat ini banyak masyarakat yang telah mengolah limbah, namun kurang maksimal dalam keberlanjutannya. Salah satu limbah organik  di Indonesia yang masih banyak masyarakat belum maksimal dalam pengolahannya adalah limbah durian.

Kabupaten Klaten merupakan salah satu sentra durian di Indonesia. Pada tahun 2024, Klaten memproduksi durian sebesar 3.913,972 ton dengan perkiraan limbah durian yang berkisar 2.740 hingga 3.131 ton (Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten, 2025). Secara morfologi, bagian yang dapat dikonsumsi dari satu buah durian hanya berkisar 20-35%, sementara sisanya sebesar 65-80% adalah limbah berupa kulit dan biji (Nasir dkk., 2015).  Banyaknya bagian yang tidak dapat dikonsumsi dari buah durian menjadikan limbah durian sangat merugikan lingkungan yang ada di sekitar limbah durian. Pemanfaatan limbah durian ini juga masih sangat minim di masyarakat karena tidak tahu-menahu tentang cara pengolahan limbah durian, sehingga tidak diolah secara maksimal.

Limbah durian yang dibiarkan begitu saja akan berdampak buruk pada lingkungan. Padahal, limbah durian memiliki komposisi kimiawi yang sangat berguna untuk pembuatan barang-barang yang inovatif, bermanfaat, dan berguna. Biji durian diketahui mengandung pati (starch) yang sangat tinggi, yakni mencapai 43,6% per bijinya (Amin dkk., 2007), dengan kandungan amilosa yang signifikan untuk membentuk lapisan film (film-forming) yang rapat . Limbah durian menyimpan potensi polimer alami yang sangat luar biasa. Kulit durian  memiliki kandungan selulosa berkisar 50-60% (wahyu dkk., 2025). Hal ini secara struktural memiliki potensi yang sangat kuat untuk dijadikan sebagai agen penguat dalam material komposit. Limbah durian yang dibiarkan lama di tempat terbuka  akhirnya mengalami dekomposisi anaerobik yang melepaskan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Dengan segala permasalahan yang ada, kami memutuskan untuk membuat produk kertas seni berupa kerajinan wayang. Produk kami bisa menjadi salah satu jalan keluar yang solutif untuk segala limbah durian, yang diolah sedemikian rupa agar menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak ekologis terhadap lingkungan yang ada di Jawa Tengah.

D.Keunggulan inovasi

Berdasarkan pengamatan dan analisis terhadap produk yang sudah dilakukan produk solutif dan inovatif kami memiliki beberapa keunggulan diantaranya sebagai berikut:

  1. Komponen yang terdapat pada produk kami merupakan komponen organik secara keseluruhannya sehingga dampak kerusakan terhadap lingkungan menjadi semakin kecil.

  2. Bahan baku dari produk kami adalah limbah durian sehingga bisa mengurangi pencemaran lingkungan.

  3. Produk kami dapat diperjualbelikan dengan kualitas yang premium namun dengan harga terjangkau sehingga dapat meningkatkan finansial masyarakat, khususnya pada provinsi jawa tengah

Nama : Moch. Ibnu Nur Hafidz Yusron
Alamat : PPTQ Ibnu Abbas Putra, Dusun Troso, Kec. karanganom, Kabupaten Klaten
No. Telepon : 085640027119