BiReMi (Bio Repellent Lalat Rumah Berbasis Limbah Ekstrak Daun dan Kulit Buah Pinus merkusii)

Permasalahan sampah di kabupaten Wonosobo masih belum tertangani optimal. Terkhusus sampah organik yang berpotensi meningkatkan gas rumah kaca jika diolah dengan pembakaran, seperti sampah organik daun dan kuit buah pinus yang tersedia melimpah di SMAN 2 Wonosobo. Di sisi lain, populasi lalat rumah (Musca domestica) berisiko menularkan berbagai penyakit. Inovasi BiReMi (Bio Repellent Lalat Rumah) hadir sebagai solusi dengan mengolah limbah pinus tersebut menjadi repellent alami yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian eksperimental ini menguji efektivitas ekstrak daun dan kulit buah Pinus merkusii dengan variasi komposisi dan jenis pelarut. Hasil uji Two-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi komposisi 1:1 dengan pelarut alkohol 96% merupakan formula terbaik, mampu mencapai mortalitas lalat 100% dalam waktu 20 menit. Kandungan senyawa bioaktif seperti saponin, tanin, dan alkaloid diduga menjadi faktor kunci efektivitasnya. Selain menjawab persoalan lingkungan melalui prinsip ekonomi sirkular, BiReMi juga memiliki kelayakan finansial yang baik dengan margin kontribusi 32,77%, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai peluang bisnis berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan dan mendukung program Wonosobo bebas sampah

Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi kontributor terbesar hingga saat ini. World Bank melaporkan Indonesia menempati negara penghasil sampah ketiga di dunia pada tahun 2020 dengan timbulan sampah mencapai 65,2 juta ton. Sampah yang dihasilkan rata-rata berasal dari rumah tangga dengan indeks 40,91% lebih tinggi dari pasar tradisional (Pambudi, 2025). Rata-rata sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik yang mudah busuk hingga mengeluarkan bau tidak sedap. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia telah melaporkan timbulan sampah pada tahun 2023 mencapai 35,313,107.58 ton/tahun dan baru terkelola sebesar 38.63% ton/tahun. Besarnya timbulan sampah yang ada di Indonesia menjadi masalah serius, hal ini dapat memicu dampak turunan yang lebih serius seperti penyebaran penyakit, efek gas rumah kaca, dan perusakan lingkungan.

Kabupaten Wonosobo menghadapi permasalahan serius terkait timbulan sampah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo tahun 2020, persentase sampah jenis sampah organik mencapai 72%. Hal ini membuktikan minimnya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah yang masih minim. Wonosobo memiliki sumber daya alam lokal salah satunya tanaman pinus (Pinus merkusii). Tanaman ini tumbuh di Kabupaten Wonosobo khususnya di Kecamatan Kepil, Kaliwiro, Sapuran, Kalibawang, Leksono, dan Garung. Menurut data Perhutani KPH Kedu Utara tahun 2023 luas hutan pinus di Kabupaten Wonosobo mencapai 9,928.46 Ha serta menempati peringkat tertinggi di bagian Kedu Utara (KPH Kedu Utara., 2022). Limbah tanaman pinus berpotensi menjadi timbulan sampah, sebab daun dan buahnya hingga saat ini belum terolah secara optimal.

Begitu pula di lingkungan SMA Negeri 2 Wonosobo yang memiliki potensi pinus cukup banyak. Sebagian pengolahan pinus hanya dibakar secara terbuka. Hasil pembakaran kemudian mengeluarkan gas CO2, serta sisa yang belum terolah dibuang ke lingkungan. Disisi lain, genus Pinus (Pinaceae) diketahui memiliki lebih dari 280 senyawa, termasuk fenol, flavonoid, terpenoid, dan banyak senyawa lainnya (Li et al., 2019). Kulit buah dan daun pinus mengandung fitokimia, berupa flavonoid, saponin, dan alkaloid diketahui memiliki khasiat obat (Ansori et al., 2019). Konstituen kimia spesies pinus menunjukkan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antiasma, antikanker, dan antivirus yang telah dimanfaatkan untuk vaksin Dengue Virus Type-2 (DENV-2) (Ansori et al., 2021). Dengan melihat kandungan flavonoid, saponin, dan alkaloid maka dapat dimungkinkan pengolahan untuk produk inovasi lainnya.

Pengenalan inovasi pengolahan diperlukan untuk mengurangi timbulan sampah tersebut. Oleh karena itu, bahan alam berupa Pinus merkusii menjadi sumber utama dalam pengembangan repellent lalat rumah. Populasi lalat rumah yang merugikan kehidupan masyarakat, dan membawa penyakit diantaranya infeksi saluran pencernaan, disentri, diare, tifoid, kolera, dan infeksi (Wahyuni, et al., 2017). Belum ada penanganan dengan baik mengenai permasalahan lalat yang ada di Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pengembangan repellent berbasis sampah organik tidak hanya membantu dalam pengelolaan sampah dan perubahan lingkungan, namun memiliki peluang dalam kegiatan ekonomi. Produk berbasis sampah organik memberi peluang usaha yang mendukung pemberdayaan masyrakat kecil menengah dari sumber daya lokal berkelanjutan. Dengan demikian, repellent BiReMi menjadi solusi pengolahan sampah organik yang ramah lingkungan untuk mendukung upaya pemerintah mewujudkan Indonesia bebas sampah.

Produk ini belum pernah ada sebelumnya. Penelitian yang telah dilakukan

Hati, dkk 2025 mengubah limbah pinus menjadi briket, namun pengolahan

tersebut masih menghasilkan gas CO2 dari pembakaran. Repellent BiReMi

memiliki keunggulan yakni bahan dasar yang digunakan gratis dari alam dan

menjadi salah satu upaya penurunan limbah organik. Inovasi pada produk ini

terletak pada bahan yang diekstrak, metode dalam sintesis kulit dan daun serta

metode pengujian keefektivitas terhadap daya tahan lalat. Selain itu, produk ini

mudah dibuat dalam sektor rumah tangga serta bahan baku yang mudah

ditemukan. Adanya inovasi repellent BiReMi diharapkan mampu menggantikan

repellent lain yang memiliki kandungan kimia yang cukup tinggi. Bahan baku

penelitian limbah Pinus merkusii diperoleh dari bagian belakang lapangan SMA

Negeri 2 Wonosobo. Lalat (Musca domestica) yang digunakan sebagai sampel

percobaan didapat melalui TPA Wonorejo, Losari, dekat SMAN 2 Wonosobo.

Tingkat keefektivan mortalitas lalat dapat menjangkau hingga waktu 15 menit

pasca penyemprotan. Kandungan dalam daun dan kulit buah pinus yaitu

flavonoid yang mampu merusak saraf sensori lalat (Aliah dkk., 2016). Serangga

merespon ransangan kimia seperti aroma dan akan mendekat jika menarik

(attractant) atau menghindar (repellent) dari sumber yang dianggap berbahaya.

Daya tolak ini besar disebabkan oleh beberapa senyawa fitokimia seperti fenol

(aegeol). Kandungan aegeol dapat mengusir seranga bahkan melemahkan juga

menggangu sistem saraf. Senyawa senyawa tersebut berperan sebagai penolak

serangga, mengenai tubuh lalat lalu menyebabkan lalat jatuh dan akhirnya mati

ditandai dengan tubuhnya yang mengering (dehidrasi).

Nama : Alva Agus Tiawan
Alamat : Manggis, Leksono, Kabupaten Wonosobo
No. Telepon : +62 822-4402-7876