Kerang totok (Polymesoda erosa) merupakan komoditas lokal potensial di kawasan mangrove Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, dengan luas ekosistem mencapai 9.307,247 ha. Selain bernilai ekonomi sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat pesisir, aktivitas konsumsi dan budidayanya menghasilkan limbah cangkang sebesar 5–6 kuintal setiap 2–3 hari. Limbah ini umumnya menumpuk di sekitar permukiman dan kawasan mangrove tanpa pengelolaan optimal sehingga berpotensi mencemari lingkungan pesisir.
Pemanfaatan cangkang kerang totok selama ini masih terbatas pada bahan konstruksi tradisional bernilai ekonomi rendah. Padahal, hasil analisis XRF menunjukkan kandungan kalsium (Ca) dalam cangkang mencapai 97,63% sehingga berpotensi besar sebagai bahan baku Precipitated Calcium Carbonate (PCC), yaitu kalsium karbonat sintetis berkualitas tinggi yang digunakan dalam industri kertas, plastik, cat, karet, farmasi, dan kosmetik. Permintaan PCC global terus meningkat, sementara Indonesia masih bergantung pada impor CaCO3 dengan rasio impor-ekspor mencapai 17:1 pada tahun 2025.
Inovasi TOTOK-CaCO3 dikembangkan sebagai solusi berbasis circular economy melalui pengolahan limbah cangkang menjadi PCC bernilai tinggi menggunakan proses kalsinasi, pembentukan CaCl2, dan presipitasi Na2CO3. Inovasi ini diharapkan menghasilkan PCC berkualitas industri berbahan baku lokal sekaligus memberikan dampak sosial, lingkungan, ekonomi, dan kebijakan. Program ini membuka peluang kerja bagi masyarakat pesisir Kutawaru, mengurangi pencemaran limbah cangkang, meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, serta mendukung RPJPD Kabupaten Cilacap 2025–2045 dan pencapaian SDGs 8, 12, dan 14.
Kabupaten Cilacap merupakan wilayah pesisir di bagian selatan Pulau Jawa yang memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang signifikan. Salah satu ekosistem penting yang berkembang di wilayah ini adalah hutan mangrove yang terpusat di kawasan Segara Anakan. Secara ekologis, hutan mangrove berfungsi sebagai spawning ground, nursery ground, dan feeding ground berbagai biota perairan serta menompang produktivitas perikanan pesisir (Kresnasari et al., 2022). Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2024, luas mangrove di Kabupaten Cilacap mencapai 9.307,247 ha yang didominasi oleh mangrove lebat seluas 8.836,754 ha. Luasan dan kondisi ekologis tersebut menjadikan kawasan mangrove Cilacap sebagai habitat alami berbagai biota bentik, termasuk kerang totok (Polymesoda erosa) yang hidup pada substrat berlumpur di perairan payau.
Kerang totok (Polymesoda erosa) merupakan salah satu biota mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir di kawasan Kabupaten Cilacap, khususnya di sekitar Segara Anakan. Spesies ini ditangkap untuk dikonsumsi maupun diperjualbelikan sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat (Retnaning Diyah et al., n.d.). Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa kerang totok memiliki nilai ekonomi lokal dan berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi berbasis sumber daya pesisir. Namun, proses konsumsi dan pengolahannya menghasilkan sisa cangkang yang belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibuang di sekitar lokasi pemukiman atau digunakan sebagai material tambahan dalam proses pembuatan pondasi rumah.
Berdasarkan observasi lapangan yang dilakukan di kawasan konservasi mangrove Kutawaru, Cilacap, kerang totok (Polymesoda erosa) dibudidayakan secara aktif oleh masyarakat setempat. Hasil budidaya tersebut umumnya hanya diambil dagingnya untuk dikonsumsi maupun dijual. Selain itu, berdasarkan hasil observasi dengan salah satu masyarakat yang bernama Bapak Sarmin dan juga salah satu pengepul kerang totok yang sudah berkecimpung selama kurang lebih 20 tahun sebagai pengepul kerang totok, yang beralamat di Jalan Banjaran RT 04/RW 22 Kalipanas, Kecamatan Cilacap Tengah mengatakan bahwa hasil tangkapan kerang totok per hari mencapai 4 kuintal kerang totok utuh. Sedangkan hasil cangkang kerang totok mencapai 5 hingga 6 kuintal dalam kurun waktu 2 s.d 3 hari. Cangkang kerang totok tersebut kerap digunakan untuk pengisapan kolam, peredam air ataupun untuk konstruksi yang biasanya diambil oleh pihak yang membutuhkan. Namun, dari Bapak Sarmin, tidak mematok harga untuk cangkang kerang totoknya. Beliau juga mengatakan bahwa pernah terdapat pihak yang membutuhkan memberikan harga sebesar Rp.300.000 hanya untuk cangkang kerang totok sebanyak 6 kuintal atau setara dengan 6 kantong kandi berukuran 30kg. Maka dari itu, hasil dari observasi di lapangan, dapat disimpulkan bahwa cangkang kerang totok belum dimanfaatkan secara maksimal dan tidak memiliki nilai jual. Padahal, kerang totok memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi apabila masyarakat bisa memanfaatkannya dengan maksimal. Pemanfaatan cangkang kerang sebagai material konstruksi pondasi rumah sebenarnya telah lama dikenal oleh masyarakat pesisir di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa cangkang kerang memiliki kandungan kalsium yang relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan struktur bangunan. Sebagian kecil cangkang dimanfaatkan sebagai material pondasi rumah pemanfaatan tersebut umumnya dilakukan secara tradisional tanpa melalui pengolahan yang memadai, sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan masih sangat rendah. Berdasarkan hasil analisis XRF yang dilakukan menunjukkan bahwa kandungan unsur yang paling dominan dalam serbuk cangkang kerang yaitu Ca sebesar 97,63%, sementara persentase lainnya yaitu kandungan unsur pengotor yang relatif kecil seperti Ag, Sr, P, Al, dan unsur lainnya (Trisakti et al., 2022). Kandungan kalsium yang sangat tinggi ini mengindikasikan bahwa cangkang kerang totok memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kalsium karbonat (CaCO3) murni dengan kemurnian tinggi.
Besarnya kebutuhan CaCO3 di tingkat nasional terlihat dari data perdagangan. Total kebutuhan bahan baku dari pabrik-pabrik kalsium karbonat di salah satu provinsi yaitu Jawa Timur mencapai sekitar 50 juta ton per tahun, dengan harga terendah kalsium karbonat spesifikasi 95% berada di kisaran Rp 220.000 per ton (Telusur.id, 2026). Sementara berdasarkan data BPS (2025), Indonesia mengimpor kalsium karbonat sebesar 37.295.098 kg senilai USD 134.800.291 sepanjang tahun 2025 mayoritas dari Tiongkok, Vietnam, dan India . Sementara ekspor hanya mencapai 2.217.501 kg senilai USD 755.628, dengan rasio impor terhadap ekspor mencapai 17:1 (BPS, 2025). Dari data impor tersebut, rata-rata harga CaCO3 impor mencapai USD 3,61/kg (sekitar Rp 57.700/kg), jauh di atas harga GCC lokal, yang mengindikasikan bahwa Indonesia mengimpor CaCO3 grade tinggi setara PCC dalam jumlah besar. Hal ini mengidikasikan bahwa kebutuhan PCC di pasaran global umumnya dan Indonesia khususnya terus meningkat.
Precipitated Calcium Carbonate (PCC) adalah produk kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan melalui proses kimia secara terkontrol, sehingga menghasilkan serbuk putih dengan kemurnian dan kehalusan partikel yang jauh lebih tinggi dibandingkan kalsium karbonat biasa yang langsung digiling dari batu kapur (Hartono dkk., 2022). Hampir semua industri membutuhkan material PCC baik sebagai filler maupun material utama seperti kertas, tekstil, karet, cat, ban, bahan adesif, farmasi, kosmetik, sealant, keramik, pasta gigi, makanan, plastik, dan deterjen, dengan jumlah permintaan material PCC yang mencapai 108,5 juta ton pada tahun 2016 dan akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya (Rahmawati dkk., 2022). PCC banyak digunakan dalam industri kertas karena memiliki keunggulan ukuran partikel yang lebih seragam serta derajat kecerahan dan kemurnian yang lebih tinggi (Wardhani dkk., 2021).
Pengembangan produk Precipitated Calcium Carbonate (PCC) berbasis limbah cangkang kerang totok (Polymesoda erosa) pesisir Cilacap sejalan dengan visi Kabupaten Cilacap sebagai "CILACAP PENDUKUNG PANGAN JAWA TENGAH YANG BERDAYA SAING, MAJU, SEJAHTERA, DAN BERKELANJUTAN" yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 8 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2025–2045. Dengan misi pertama yaitu mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkualitas dan merata. Inovasi pemanfaatan limbah kerang totok menjadi PCC merupakan implementasi atau wujud nyata dari ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal, yang mendorong terciptanya nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir Cilacap secara langsung. Inovasi pemanfaatan limbah kerang totok menjadi PCC merupakan implementasi atau wujud nyata dari ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal, yang mendorong terciptanya nilai tambah ekonomi bagi masyarakat pesisir Cilacap secara langsung.
Lebih jauh, inovasi ini juga berkontribusi pada pencapaian tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah diintegrasikan ke dalam RPJMN dan ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Bappenas, 2021). Pertama, SDGs Goal 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), di mana pencapaian tingkat produktivitas ekonomi yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui diversifikasi, peningkatan dan inovasi teknologi, termasuk melalui fokus pada sektor yang memberi nilai tambah tinggi sejalan dengan upaya valorisasi limbah cangkang kerang totok menjadi PCC bernilai industri. Kedua, SDGs Goal 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, pembangunan dapat dipastikan tidak merusak lingkungan dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Ketiga, SDGs Goal 14 (Ekosistem Lautan), di mana pengelolaan limbah cangkang kerang yang selama ini menumpuk di kawasan pesisir dan perairan mangrove Kutawaru secara langsung berkontribusi pada penjagaan kualitas ekosistem pesisir dan kelautan Cilacap yang berkelanjutan.
|
Parameter |
PCC Konvensional (Berbasis Tambang) |
PCC Cangkang Kerang Totok (Berbasis Limbah) |
|
Bahan baku |
Batu kapur alam (limestone) dan mineral hasil ekstraksi tambang (pegunungan karst). |
Limbah cangkang kerang totok (Polymesoda erosa) dari sisa konsumsi masyarakat pesisir atau nelayan. |
|
Dampak Lingkungan |
Negatif. Merusak ekosistem karst, mengancam sumber air tanah, memicu deforestasi, serta emisi karbon (CO2) sangat tinggi dari alat berat dan pabrik. |
Positif. Mengurangi penumpukan sampah laut yang mencemari pesisir, mengurangi bau busuk limbah, dan menyelamatkan gunung kapur dari eksploitasi. |
|
Biaya |
Lebih Murah. Rantai pasok sudah sangat mapan dan diproduksi secara massal (economies of scale), sehingga harga jual per kilogram sangat rendah. |
Relatif Lebih Tinggi (Saat Ini). Bahan baku memang gratis, tetapi biaya logistik pengumpulan, pencucian, dan produksi yang belum berskala raksasa membuatnya lebih memakan biaya. |
|
Keberlanjutan |
Tidak Terbarukan (Non-Renewable). Mineral diekstraksi dari bumi. Cadangan gunung kapur akan habis secara permanen jika terus menerus ditambang. |
Terbarukan (Renewable). Ketersediaan bahan baku akan terus ada selama siklus hidup kerang di alam terjaga dan konsumsi pangan hasil laut terus berjalan. |
|
Sustainability |
Ekonomi Linear (Take-Make-Dispose). Menerapkan sistem ambil-olah-pakai yang ekstraktif. Memiliki risiko tinggi terhadap pelanggaran prinsip ramah lingkungan. |
Ekonomi Sirkular (Circular Economy). Menerapkan prinsip Zero Waste dan Waste-to-Wealth (mengubah sampah menjadi material berharga). Sangat sejalan dengan prinsip ESG. |
|
Nilai sosial |
Rawan Konflik & Masalah Kesehatan. Sering memicu konflik agraria dengan warga sekitar area tambang dan memicu penyakit pernapasan (ISPA) akibat debu kapur. |
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Memberi potensi penghasilan tambahan bagi nelayan dan pemulung (sebagai pengepul cangkang), serta menciptakan lingkungan desa nelayan yang lebih bersih. |
|
Potensi green building |
Standar / Rendah. Tidak memberikan poin tambahan pada sertifikasi bangunan hijau, karena merupakan material konvensional yang tidak ramah lingkungan. |
Sangat Tinggi. Langsung memberikan poin besar pada kategori Material Resources and Cycle (material daur ulang / recycled content) dalam sertifikasi LEED, EDGE, atau Greenship. |
| Nama | : | Annindya Aulia Putri |
| Alamat | : | Jalan Sawo RT 005 / RW 004, Kelurahan Menganti, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap |
| No. Telepon | : | 087721630054 |