TERRASCENT: TRANSFORMASI LIMBAH ORGANIK MENJADI PERISAI NANO-SCENT GUNA MEWUJUDKAN KOTA TEGAL BEBAS DEMAM BERDARAH DENGUE

Di Kota Tegal, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi permasalahan kesehatan yang cukup serius. Pada tahun 2025, ditemukan sejumlah kasus DBD pada masyarakat sehingga pemerintah setempat melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti fogging (pengasapan) dan edukasi mengenai pemberantasan sarang nyamuk. Nyamuk diketahui sebagai penyebab berbagai penyakit, sehingga diperlukan langkah pengendalian yang aman guna melindungi kesehatan masyarakat. Inovasi Terrascent dikembangkan sebagai spray pengusir nyamuk alami berbahan dasar sereh (Cymbopogon citratus), ampas teh (Camellia sinensis), dan kulit jeruk (Citrus sp.) yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah organik rumah tangga serta mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis pada produk pengusir nyamuk. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE. Pada tahap analisis kelayakan, inovasi Terrascent ditinjau melalui aspek 6P, analisis kebermanfaatan, dan analisis SWOT. Formulasi spray Terrascent dirancang dengan memanfaatkan kombinasi sereh, ampas teh, dan kulit jeruk sebagai sumber senyawa aktif alami yang berpotensi berperan sebagai repelen nyamuk. Selain itu, inovasi ini memanfaatkan limbah organik dari UMKM minuman di Kota Tegal sehingga mendukung konsep zero waste dan meningkatkan nilai guna limbah lokal. Penggunaan teknologi nano spray juga membantu penyebaran cairan menjadi lebih merata dan efisien saat digunakan. Hasil pengembangan menunjukkan Terrascent memiliki aroma alami yang nyaman digunakan serta mampu membantu mengurangi aktivitas nyamuk pada area tertentu. Inovasi ini dapat menjadi alternatif pengusir nyamuk yang ekonomis, praktis, dan ramah lingkungan serta berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pendukung DBD.

Kata Kunci: Kulit Jeruk, limbah teh, nano-scent, Terrascent, Preventif DBD

Nyamuk merupakan salah satu serangga yang berperan sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya bagi manusia misalnya Aedes aegypti, penyakit kaki gajah, malaria dan demam berdarah dengue (Susanti & Boesri 2012). Spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus dikenal sebagai vektor utama penyebab demam berdarah dengue. Penyakit ini dapat menyerang seluruh kelompok usia dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, serta tingkat kebersihan tempat tinggal (Nurfadilah & Moektiwardoyo, 2020). Kasus demam berdarah dengue di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Pada tahun 2024 tercatat ada 38 kasus, tahun 2023 ada 47 kasus positif dan dua meninggal dunia serta tahun 2022 ada 108 kasus dan delapan meninggal dunia. Data Dinkes Kota Tegal menyebut, sejak awal tahun ini sudah tercatat 5 warga terjangkit demam berdarah dengue. Pada bulan Januari terdapat 4 kasus dan bulan Februari tercatat 1 kasus (Smpantura, 2025).  Meskipun pada tahun 2025 jumlah kasus demam berdarah dangue di Kota Tegal mengalami penurunan, kondisi cuaca yang didominasi hujan serta masih banyaknya genangan air berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Hal ini menunjukkan bahwa risiko penularan demam berdarah dengue tetap ada sehingga upaya pencegahan masih memiliki urgensi untuk terus dilakukan.

Dalam upaya pencegahan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, pengendalian populasi dan pencegahan gigitan nyamuk menjadi langkah yang penting. Salah satu metode yang umum digunakan adalah pemanfaatan bahan pengusir nyamuk (repellent). Repellent bekerja dengan cara mengganggu sistem sensorik nyamuk sehingga mencegah nyamuk mendekati dan menggigit manusia. Produk repellent sintetis umumnya mengandung bahan kimia aktif seperti diethyltoluamide (DEET), diclorovinyl dimethyl phosphate (DDP), malathion, dan parathion. Meskipun efektif, penggunaan bahan kimia sintetis secara terus-menerus berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia, seperti iritasi kulit dan gangguan pernapasan, serta dapat menyebabkan resistensi pada nyamuk (Sofian et al., 2016).

Berbagai  penelitian menunjukkan bahwa bahan alam memiliki potensi besar sebagai pengusir nyamuk karena mengandung senyawa fitokimia yang tidak disukai serangga. Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah pemanfaatan limbah organik rumah tangga (Sari et al., 2019). Ampas teh memiliki kandungan polifenol dan aroma khas, serta kulit jeruk dengan mengandung minyak atsiri yang terbukti ampuh untuk merusak sistem syaraf nyamuk. Pemanfaatan tanaman sebagai repellent alami didasarkan pada kandungan senyawa yang mampu mengganggu penciuman serangga sehingga mencegah dan menggigit manusia (Femi et al., 2020). Sereh wangi (Cymbopogon nardus) merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri di mana kandungan minyak atsiri dari tamanan ini dapat digunakan sebagai insektisida atau pengusir nyamuk alami. Minyak atsiri sereh wangi dapat diambil dengan cara metode destilasi uap-air. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan pemanfaatan minyak atsiri sereh wangi dapat mengusir nyamuk secara efektif (Tara., 2020) Kandungan yang terdapat di ampas teh sendiri, yaitu : karbon organik (C-Organik) 7,3%, magnesium (Mg) 10%, tembaga (Cu) 20%, dan kalsium (Ca) 13%. Ampas teh juga mengandung unsur hara makro nitrogen (N) 0,32%, fosfor (P) 0,16%, dan kalium (K) 0,22% (Febriani, dkk., 2021).

Kota tegal meliki potensi dalam pembuatan pengusir nyamuk alami karena ampas teh dan kulit jeruk tidak dimanfaatkan secara optimal. Pemilihan ampas teh didasarkan pada kondisi lokal Kota Tegal yang mana terdapat banyak UMKM penjual teh dan minuman siap saji. Dalam satu hari, satu penjual teh dapat menghasilkan ±1–5 kg ampas teh. Sedangkan kulit jeruk, satu penjualnya menghasilkan ±1-2 kg kulit jeruk. Jika dikalikan dengan puluhan UMKM yang tersebar di Kota Tegal, maka potensi limbah ampas teh dan kulit jeruk yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku inovasi ini sangat besar dan berkelanjutan. Sereh juga sangat mudah didapat, seperti di pasar, pedagang sayur keliling atau dekat rumah, ataupun di took swalayan.

Selain itu, terdapat tantangan yang dihadapi dalam penggunaan spray pengusir nyamuk konvensional. Salah satu tantangan dalam penggunaan spray pengusir nyamuk konvensional adalah ukuran partikel semprotan yang relatif besar sehingga cepat mengendap ke permukaan akibat gaya gravitasi. Hal ini menyebabkan daya sebar di udara menjadi kurang optimal dan waktu perlindungan terhadap nyamuk menjadi lebih singkat (Pratama & Wibowo, 2018). Perkembangan teknologi semprot berbasis nano spray atau aerosol ultrahalus mulai banyak digunakan pada berbagai aplikasi, seperti humidifier, disinfektan ruangan, dan penyebaran zat aktif berbasis cairan. Serta partikel aerosol berukuran mikro hingga nano memiliki luas permukaan lebih besar sehingga meningkatkan efektivitas distribusi senyawa aktif polifenol, minyak atsiri, sitroneral di udara (Rahman, F., & Hidayat, T. 2020).

Berdasarkan permasalahan tingginya kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk serta keterbatasan penggunaan repellent sintetis yang berpotensi berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan, diperlukan suatu inovasi pengendalian nyamuk yang bersifat aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Pemanfaatan bahan alam, seperti ampas teh, kulit jeruk, dan sereh telah banyak dilaporkan memiliki potensi sebagai pengusir nyamuk alami karena kandungan senyawa fitokimia yang tidak disukai serangga (Sofian et al., 2016). Di sisi lain, pemanfaatan limbah organik rumah tangga seperti ampas teh dan kulit jeruk sejalan dengan konsep pengurangan sampah dan pengembangan inovasi berbasis ekonomi sirkular. Oleh karena itu, inovasi Terrascent dikembangkan dengan mengombinasikan bahan alami ampas teh (Camellia sinensis), kulit jeruk (Citrus sp.), dan sereh (Cymbopogon citratus) yang diekstraksi menggunakan metode maserasi dan diaplikasikan menggunakan teknologi nano spray.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan inovasi pengusir nyamuk yang tidak hanya efektif, tetapi juga memanfaatkan bahan alami dan limbah organik yang mudah ditemukan di masyarakat. Oleh karena itu, dikembangkan inovasi Terrascent, yaitu produk repellent alami berbasis ampas teh, kulit jeruk, dan sereh yang diaplikasikan menggunakan teknologi nano-spray. Nama Terrascent berasal dari kata Terra yang berarti alam dan Scent yang berarti aroma, sehingga mencerminkan konsep produk pengusir nyamuk alami dengan aroma khas dari bahan herbal. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pengendalian nyamuk yang mendukung pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai guna.

Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan produk repelen nyamuk sebagai alternatif preventif dalam upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tegal. Inovasi ini memanfaatkan bahan baku lokal yang mudah diperoleh di wilayah Tegal sehingga relevan untuk diterapkan pada tingkat rumah tangga.

Terrascent adalah inovasi spray repelen nyamuk berbahan dasar ampas teh (Camellia sinensis), kulit jeruk (Citrus sp.), dan sereh (Cymbopogon citratus)yang dirancang sebagai alternatif ramah lingkungan terhadap repelen sintesis. Dalam mengkaji posisi dan potensi inovasi ini, dilakukan analis SWOT sebagai berikut:

Tabel 1. Analisis SWOT Terrascent

Strengh  

Weakness  

-Bahan baku murah & mudah didapat karena berbahan dasar limbah organik (Eco friendly)

-Ramah lingkungan (Zero Waste)

-Berbahan organik dan memiliki senyawa aktif alami

-Menggunakan teknologi nano-spray 

-Fungsi ganda (2-in-1) produk ini tidak hanya mengusir nyamuk tetapi juga berfungsi sebagai pembunuh kuman dan pengharum ruangan alami.

-Memanfaatkan limbah UMKM lokal sehingga memiliki nilai inovasi dan nilai ekonomi.

-Aroma jeruk yang efektif mengusir nyamuk

-Durasi perlindungan kemungkinan hanya bertahan 1–2 jam, lebih singkat dibandingkan produk sintetis.

-Risiko noda (staining) karena ekstrak teh memiliki warna cukup pekat.

-Ketahanan produk dipengaruhi oleh penyimpanan dan suhu lingkungan.

-Produk masih dalam tahap pengembangan.

Opportunity  

Threats  

-Tren gaya hidup hijau (go green) dan penggunaan produk alami semakin meningkat.

-Kebutuhan masyarakat terhadap pencegahan demam berdarah dengue masih tinggi

-Potensi kerja sama dengan UMKM minuman teh dan penjual buah sebagai pemasok bahan baku.

-Pasar Niche, inovasi Terrascent tidak langsung menyasar seluruh masyarakat Indonesia

 

-Adanya kompetitor besar dari produk anti nyamuk kimia yang sudah dikenal masyarakat.

-Regulasi dan izin edar masih menjadi tantangan karena produk masih tahap pengembangan.

-Persepsi konsumen terhadap efektivitas produk alami dibandingkan produk kimia sintetis.

-Fluktuasi harga alkohol.

Nama : Nanda Kalyca Putri Dzakwan
Alamat : Jalan Arum no.43, RT 002/ RW 010, Randugunting, Tegal Selatan, Kota Tegal, Jawa Tengah
No. Telepon : 0856-4117-4019