PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BAWANG MERAH SEBAGAI PEWARNA KAIN ORGANIK

Bawang merah merupakan komoditas pertanian strategis yang memiliki peran penting dalam struktur kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Kabupaten Tegal dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah di Jawa Tengah. Limbah kulit bawang merah di wilayah Kabupaten Tegal merupakan limbah murni yang hanya dibuang dan belum dimanfaatkan. Bawang merah mengandung pigmen alami antosianin dan flavonoid yang disebut quercetin. Tidak hanya efektif sebagai pewarna organik yang menghasilkan warna kuning hingga jingga kecoklatan, tetapi juga memiliki sifat anti-bakteri dan anti-oksidan. Disisi lain industri tekstil adalah salah satu penyumbang polusi air terbesar. Industri tekstil di Kabupaten Tegal berasal dari ribuan unit usaha, terutama tersebar di sentra industri seperti Kecamatan Adiwerna Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kulit bawang merah sebagai pewarna kain organik, serta bagaimana karakteristiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan proses ekstraksi melalui perebusan. Metode ekstraksi pewarna kulit bawang cenderung lebih sederhana dibandingkan pewarna sintetis. Inovasi tersebut menawarkan efisiensi energi dan pengurangan jejak karbon dalam proses produksi warna. Hasil penelitian ini adalah produk pewarna kain organik hasil pengolahan limbah kulit bawang merah yang dapat digunakan, serta karakteristik pewarna tersebut. Terdapat beberapa warna yang berbeda ketika dilakukan variasi waktu pencelupan kain dan variasi larutan mordan. Semakin lama waktu perendaman kain pada pewarna yang dibuat, maka semakin pekat warna yang dihasilkan. Jika menggunakan mordan tawas menghasilkan warna cerah cenderung kuning, ketika menggunakan mordan kapur warna lebih gelap cenderung coklat, sedangkan ketika menggunakan mordan tunjung warna yang dihasilkan hijau kehitaman. Pada penelitian ini mordan tawas paling stabil.

Kata kunci : bawang merah, ekstraksi, pewarna.

Bawang merah merupakan komoditas pertanian strategis yang memiliki peran penting dalam struktur kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta obat tradisonal. Produksi bawang merah nasional sampai saat ini masih terpusat di beberapa kabupaten di Pulau Jawa seperti Kuningan, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Nganjuk, dan Probolinggo. Kabupaten Tegal dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah di Jawa Tengah. Bawang merah banyak di tanam di beberapa kecamatan di Kabupaten Tegal yaitu Slawi, Dukuhturi, Talang, Adiwerna, Tarub, Kramat, Suradadi, Warureja, Pagerbarang, Margasari, Bojong, dan Bumijawa.

Sejalan dengan hal tersebut, limbah kulit bawang merah di wilayah Tegal dan Slawi memiliki potensi ekonomi dan ekologis yang besar. Namun sejauh ini limbah kulit bawang merah seringkali hanya dianggap sebagai sampah. Inovasi yang dilakukan untuk meningkatkan nilai guna bawang merah masih seputar pemanfaatan untuk pupuk organik dan pestisida nabati. Bawang merah mengandung pigmen alami antosianin dan flavonoid yang disebut quercetin. Tidak hanya efektif sebagai pewarna organik yang menghasilkan warna kuning hingga jingga kecoklatan, tetapi juga memiliki sifat anti-bakteri dan anti-oksidan Ekstrak kulit bawang merah yang direbus dalam waktu lama dapat menghasilkan warna jingga kecoklatan yang dapat digunakan sebagai pewarna kain organik.

Disisi lain industri tekstil adalah salah satu penyumbang polusi air terbesar karena zat warna sintetis dalam pewarnaannya.  Limbah cair industri tekstil di Kabupaten Tegal berasal dari ribuan unit usaha, terutama tersebar di sentra industri seperti Kecamatan Adiwerna. Masalah utama mencakup operasional Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum memadai, yang memicu pencemaran saluran air, irigasi, dan sumur warga akibat zat kimia pewarna. Berangkat dari kondisi tersebut peneliti bermaksud melakukan penelitian lebih dalam mengenai pemanfaatan kulit bawang merah untuk pembuatan pewarna kain organik yang aman digunakan. Peneliti bermaksud menggunakan limbah kulit bawang merah sebagai pewarna serta mengetahui karakteristik dari pewarna tersebut.

Pada penelitian ini kulit bawang merah diekstraksi dengan cara direbus. Metode ekstraksi pewarna kulit bawang cenderung lebih sederhana dan mudah dalam prosesnya. Ini menawarkan efisiensi energi dan pengurangan jejak karbon dalam proses produksi warna. Target utama pengguna adalah industri tekstil, dimulai dari produsen rumahan, karena proses pembuatan pewarna ini mudah dilakukan.

Nama : DZULFIKAR AL FARISI
Alamat : Jln. Gajah Mada No. 77, Karangmoncol, Kalisapu, Kec. Slawi, Kab. Tegal 52416
No. Telepon : 085742456548