PEMANFAATAN SELULOSA JERAMI DAN PEKTIN DAUN CINCAU DALAM PEMBUATAN MENCAUBAG SEBAGAI ALTERNATIF PLASTIK SEMAI

Kebumen merupakan salah satu kabupaten penghasil padi di Provinsi Jawa Tengah dengan produksi mencapai 422.389,95 ton (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2018). Aktivitas pertanian padi tersebut menghasilkan limbah jerami dalam jumlah besar setelah panen. Selama ini jerami umumnya dibakar oleh petani sehingga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Limbah jerami padi memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik karena kandungan selulosa yang cukup tinggi, yaitu sekitar 37%.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bioplastik berbasis jerami padi sebagai alternatif plastik berbahan bakar fosil yang sulit terurai. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan gula cair sebagai pengganti gliserol serta pemanfaatan daun cincau dan agar-agar sebagai pengganti kitosan. Daun cincau hijau diketahui mengandung pektin sebagai polisakarida pembentuk gel yang berpotensi mendukung pembentukan struktur bioplastik yang ramah lingkungan. Selain itu, penambahan serat jerami dilakukan untuk meningkatkan kekuatan mekanik bioplastik. Produk bioplastik yang dihasilkan dirancang dalam bentuk polybag semai biodegradable yang dapat langsung ditanam bersama bibit, sehingga dapat mengurangi limbah plastik pertanian serta mendukung sistem pertanian berkelanjutan

kata kunci : Mencaubag, Jerami, Cincau, bioplastik

Kebumen merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km. Dari luas wilayah Kabupaten Kebumen tersebut, 40.092,32 hektar di antaranya merupakan lahan sawah (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2024). Komoditas tanaman yang biasa ditanam adalah padi (Oryza sativa). Luas lahan, sawah yang besar tersebut menjadikan Kebumen sebagai salah satu kabupaten penghasil padi di Jawa Tengah. Hasil produksi padi di Kebumen mencapai 404.318,00 ton (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2023), Petani padi dapat panen sekitar 2-3 kali setahun dalam tanaman padi yang dipanen akan menyisakan jerami padi. Dengan tingginya produksi padi membuat jumlah jerami sebagai limbah padi meningkat. Umumnya limbah jerami tersebut dibakar atau dibuang. Limbah jerami yang dibakar atau dibuang dapat menghasilkan gas karbondioksida dan metana yang merupakan emisi gas rumah kaca. Limbah jerami padi yang dibakar dapat menghasilkan residu sebesar 13 ton CO2/ha (Mandal, et al., 2004). Padahal, peningkatan gas rumah kaca dapat menyebabkan pemanasan global. Hal tersebut menunjukkan minimnya pemanfaatan limbah jerami di kabupaten kebumen dan justru dapat mengirit gas rumah kaca. Permasalahan lingkungan tidak hanya bersumber dari limbah jerami, permasalahan lingkungan juga diperparah oleh penggunaan plastik konvensional yang sulit terurai dan terbuat dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Pada tahun 2015, pembuatan plastik dapat mengeluarkan emisi gas rumah kaca hingga 68 juta metriks ton CO dari minyak bumi dan 204,8 juta metriks ton CO dari gas alam (Hamilton LA et al., 2019: 25-28). Pada tahun 2015, lebih dari 10% dari total emisi gas rumah kaca di Indonesia dihasilkan oleh produksi plastik (Cabernard L. et al., 2022). Plastik merupakan bahan penyumbang sampah terbesar kedua di Indonesia. Persentase limbah plastik mencapai 19.64% setelah limbah sisa makanan yang mendominasi sebesar 39.43% di Indonesia. Karena sifatnya yang sulit terurai, limbah plastik dapat berakhir di laut dan merusak ekosistem terumbu karang, mangrove, dan padang lamun (Handayani, 2023). Berawal dari permasalahan lingkungan yang terjadi maka salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengembangan bioplastik berbasis bahan alami. Bioplastik adalah plastik yang berasal dari sumber biomassa terbarukan (Beevi et al., 2020). Karena bersumber dari biomassa/nabati, bioplastik dapat diperbarui dan mudah diurai. (kamsiati dkk., 2017). Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dalam bioplastik lebih rendah daripada plastik konvensional (Ghomi et al., 2021). Bioplastik umumya dapat dibuat dari tumbuhan dengan dasar selulosa. Selulosa merupakan salah satu bagian dari karbohidrat yang merupakan polimer dari monomer glukosa dengan ikatan ikatan glikosidik ? (Yuansah, 2019). Selulosa komponen utama dalam dinding sel tumbuhan. Salah satu sumber selulosa yang melimpah di kabupaten kebumen adalah jerami padi.Jerami padi termasuk biomassa lignoselulosa yang tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dalam jerami padi terkandung 37,71% selulosa; 21,99% hemiselulosa; dan 16,62% lignin (Pratiwi R. et al., 2016). Kandungan selulosa yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bioplastik. Bioplastik yang terbuat dari limbah jerami ini mampu mengurangi limbah pertanian di kabupaten kebumen sekaligus menghasilkan bahan ramah lingkungan sebagai alternatif plastik konvensional.

4.5. Keunggulan Inovasi

a) Ketersediaan Bahan Inovasi bioplastik berbasis jerami padi memiliki keunggulan utama pada pemanfaatan sumber daya lokal yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal. Dengan luas lahan sawah yang besar dan produksi padi yang tinggi, Kabupaten Kebumen menghasilkan jerami dalam jumlah yang signifikan setiap musim panen. Keunggulan ini menjadikan bahan baku tersedia secara berkelanjutan tanpa perlu membuka lahan baru atau mengganggu produksi pangan. Berbeda dengan bahan baku bioplastik yang bersumber dari tanaman pangan utama seperti jagung atau kentang, pemanfaatan jerami tidak bersaing dengan kebutuhan masyarakat karena berasal dari limbah pertanian.

b) Bahan yang Digunakan Bahan yang digunakan menggunakan bahan alami seperti gula cair, agar-agar, dan daun cincau. Pada penelitian lain umumnya bahan yang digunakan sebagai plasticizer atau peningkatannya adalah gliserin yang diperoleh dari proses pengolahan kimia, tetapi dalampenelitian ini digantikan dengan penggunaan gula cair. Penelitian lain juga pada umumnya menggunakan kitosan yyang diperoleh dari proses kimia dan penggunaan asam dan basa kuat, namun dalam penelitian ini diganti agar-agar dan cincau. Penelitian ini menggunakan asam cuka untuk menggantikan penggunaan asam kuat seperti HCl dalam proses menetralkan pH.

c) Kekuatan Lapisan bioplastik yang dibuat diberi penambahan serat jerami sehingga meningkatkan kekuatan dan ketahanan bioplastik dalam menahan beban.

d) Cara Pembuatan Proses pembuatan tidak melalui tahap perendaman dan perebusan selama 1 jam dalam larutan H2O2. Sehingga tidak menambah biaya dan waktu pembuatan.

e) Pembuatan Modal Menggunakan bahan-bahan yang lebih murah dan terjangkau. Gliserin 250ml memiliki harga sekitar Rp19.000,00-Rp22.750,00 berdasarkan harga pembelian di online shop, sedangkan gula cair 250ml memiliki harga sekitar Rp7.000,00 di toko bahan kue. Harga kitosan 10gram memiliki harga sekitar Rp15.000,00- Rp35.000,00, sedangkan untuk harga daun cincau dan agar-agar dengan massa yang sama berharga Rp500,00- Rp1.000,00 dan Rp3.000,00.

Nama : Rohman Ardiansyah
Alamat : Jl. Cincin Kota No.8, RT.01/RW.05, Kewangen, Karangsari, Kec. Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah 54317
No. Telepon : 081227605769