Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia menghasilkan tumpukan limbah yang
mengkhawatirkan. Setiap tahunnya, terdapat sekitar 7,8 juta ton sampah plastik, dengan 4,9 juta ton di
antaranya tidak terkelola dengan baik. Selain itu, aktivitas domestik dan industri juga menyumbang
limbah cair berupa 6 juta ton oli bekas dan 2 juta ton minyak jelantah yang sering dibuang begitu saja
dan mencemari lingkungan sekitar.
Penanganan limbah saat ini seperti daur ulang mekanis dan penumpukan terbuka belum
efektif karena sifat plastik yang sulit terurai. Praktik pembakaran atau insinerasi konvensional justru
memicu masalah baru berupa peningkatan emisi gas beracun. Oleh karena itu, diperlukan sebuah
solusi teknologi pengolahan terpadu yang mampu mengurai permasalahan multi-limbah tanpa
memperparah pencemaran lingkungan.
Sebagai solusi, dikembangkan inovasi PISISI (Pirolisis Empat Fraksi Minim Emisi). Alat ini
mengolah sampah plastik menjadi empat fraksi bahan bakar (heavy oil, diesel, minyak tanah, bensin)
melalui proses dekomposisi termal. Panas dihasilkan dari kompor yang memanfaatkan limbah oli dan
minyak jelantah. Sistem ini juga mengintegrasikan Thermoelectric Generator (TEG) untuk
memproduksi listrik berskala mikro, serta dilengkapi sistem kontrol emisi terpadu (burner after
burner) untuk meminimalisir gas berbahaya hasil pirolisis.
Penerapan PISISI menghasilkan sistem pengolahan limbah mandiri yang hemat biaya, dan
ramah lingkungan. Inovasi ini berdampak signifikan dalam menekan penumpukan sampah plastik dan
limbah minyak, mengubahnya menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomis, serta berkontribusi
langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya tujuan ke-7 dan ke-11.
Kata Kunci: Energi Terbarukan, Minim Emisi, Pirolisis, Multi Limbah, Thermoelectric Generator
Plastik merupakan salah satu material yang sangat penting di era modern. Secara global,
dunia memproduksi lebih dari 430 juta ton plastik per tahun, dan sekitar 75% dari seluruh plastik yang
pernah dibuat telah berakhir sebagai limbah (Global Trade, 2025). Fungsionalitas plastik yang luas
menyebabkan permintaan masyarakat terhadap plastik sangat tinggi, baik untuk pengemasan
makanan, peralatan rumah tangga, perlengkapan medis, hingga berbagai komponen industri.
Sayangnya peningkatan konsumsi plastik tersebut tidak diimbangi dengan sistem pengolahan limbah
yang memadai, mengakibatkan tumpukan sampah plastik di Indonesia terus bertambah dan telah
mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Indonesia tercatat menghasilkan 7,8 juta ton sampah plastik, di mana 4,9 juta ton di antaranya
dikategorikan sebagai mismanaged plastic waste (MPW), yakni sampah yang tidak terkelola dengan
baik karena tidak terangkut, dibuang sembarangan, atau berakhir di TPA terbuka. Permasalahan tidak
berhenti pada sampah plastik. Pola konsumsi masyarakat dan aktivitas industri juga menghasilkan
limbah minyak cair dalam jumlah besar, terutama minyak jelantah dan limbah oli bekas. Konsumsi
minyak goreng sawit di Indonesia yang terus meningkat, mencapai sekitar 7 juta ton per tahun,
menghasilkan sekitar 1,6 juta hingga 2 juta ton minyak jelantah setiap tahunnya. Di sisi lain, sektor
otomotif dan industri juga menghasilkan limbah oli bekas dalam jumlah signifikan, dengan total lebih
dari 6 juta ton per tahun. Limbah ini sering kali langsung dibuang ke saluran air, tanah, atau selokan
tanpa mempertimbangkan dampak negatif pada lingkungan. Padahal, pengelolaan limbah minyak ini
memiliki potensi yang sangat besar. Dengan teknologi yang tepat, limbah minyak cair ini bisa
dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif, yang tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga
membantu memenuhi kebutuhan energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Berbagai teknologi pengolahan limbah plastik sebenarnya telah dikembangkan, mulai dari
daur ulang mekanis, landfill terkontrol, hingga open dump. Akan tetapi, tingkat daur ulang plastik
secara global masih di bawah 30%, metode tersebut tidak efektif dalam menangani limbah plastik
dikarenakan sifat plastik yang tidak dapat terurai secara alami dalam waktu singkat. sementara itu
praktik insinerasi dan pembakaran terbuka terhadap plastik atau limbah minyak cair dapat
meningkatkan emisi gas CO?, CO, NOx, SOx dan partikulat-partikulat lain yang menjadikannya solusi
yang tidak berkelanjutan. dibutuhkan suatu teknologi inovatif yang dapat menyelesaikan
permasalahan multi limbah tersebut. Salah satu inovasi yang bisa diterapkan untuk permasalahan
tersebut adalah teknologi pirolisis. Pada awalnya, pirolisis dikembangkan dalam pengolahan kayu dan
batu bara sebagai proses dekomposisi termal pada suhu tinggi (300–600 °C) dalam kondisi minim
oksigen, yang menghasilkan tiga fraksi utama, yaitu padatan karbon (arang/char), fraksi cair berupa
tar atau minyak pirolisis, serta gas pirolisis (campuran gas-gas mudah terbakar). Seiring
berkembangnya kebutuhan energi dan tuntutan pengelolaan limbah yang berkelanjutan, prinsip
pirolisis kemudian diterapkan pada berbagai jenis biomassa dan diadaptasi untuk mengkonversi
sampah plastik menjadi bahan bakar cair dan produk bernilai tambah lainnya. PISISI (Pirolisis Empat Fraksi Minim Emisi) merupakan sistem pengolahan limbah terpadu
yang dapat mengolah sampah plastik dan limbah minyak cair melalui dekomposisi termal pirolisis,
alat ini bekerja memanfaatkan panas yang dihasilkan dari kompor oli bekas untuk memecah polimer
hidrokarbon di dalam reaktor minim oksigen. gas hasil pirolisis tersebut kemudian dialirkan dalam
tabung destilasi yang akan mengkondensasi gas tersebut menjadi empat fraksi bahan bakar minyak
(BBM) meliputi heavy oil, diesel, minyak tanah, dan bensin, berdasarkan titik didihnya masing
masing. Untuk mencapai kemandirian operasional, PISISI menggunakan Thermoelectric Generator
(TEG) yang mengonversi gradien suhu dari proses pembakaran menjadi listrik skala mikro guna
menjalankan sistem kontrol tanpa membutuhkan energi eksternal. selain itu karena menggunakan oli
bekas sebagai bahan bakar utama, PISISI mampu beroperasi di wilayah yang memiliki keterbatasan
sumber energi seperti gas dan minyak tanah serta menjadikan biaya operasional lebih murah. PISISI
diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah plastik, menghasilkan energi alternatif yang
ramah lingkungan, serta berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),
terutama SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dan SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).
1. Menghasilkan lebih sedikit emisi dibandingkan dengan metode insinerasi dan alat sejenis.
2. Pengoperasian alat yang mudah dengan adanya efisiensi desain dan sistem terpadu, serta
biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan dengan alat sejenis.
3. Tidak hanya mengolah limbah plastik tapi juga menggunakan sistem terpadu untuk mengolah
limbah minyak cair (minyak jelantah dan oli bekas) menjadi empat fraksi bahan bakar minyak
(heavy oil, diesel, minyak tanah, bensin) dan listrik mikro tanpa energi eksternal
4. Keamanan alat yang baik, dengan adanya thermocouple dan safety valve untuk mencegah
terjadinya luapan suhu dan tekanan.
5. Tidak hanya mengurangi timbunan sampah tapi juga mengubah limbah menjadi produk yang
bermanfaat dan bernilai ekonomis.
| Nama | : | Hilal Abiyu Haryoso |
| Alamat | : | Dukuh Garut RT 04, Desa Dawung, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. |
| No. Telepon | : | 081325433405 |