Hieren merupakan teknologi pionir Energi Baru Terbarukan (EBT) pertama di Indonesia dari Jawa Tengah yang dirancang sebagai solusi “Aki atau Baterai Rumah Masa Depan” berkonsep tinggal colok tanpa rakit (built-in plug-and-play). Inovasi ini mengintegrasikan unit penyimpanan HIRES (Hybrid Resilient Energy Storage) berbasis baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 51,2V 100Ah (5,12 kWh), panel surya SoLaife 2,22 kWp, turbin angin sumbu vertikal Savonius WindNius 1,5 kW, serta sistem manajemen daya cerdas Hi-Core berbasis AI dan IoT.
Hieren dikembangkan untuk menjawab tantangan Trilema Energi yaitu ketahanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi di wilayah pesisir dan pedesaan Indonesia. Banyak masyarakat, petani, nelayan, dan UMKM masih bergantung pada genset diesel mahal dengan biaya operasional tinggi dan pasokan listrik tidak stabil. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas rendah, ketidakpastian penghasilan harian, serta tingginya beban biaya usaha masyarakat kecil. Masyarakat pesisir jika mereka tidak memiliki pekerjaan, mereka terbebani akan pekerjaannya maka dari itu Hieren hadir menjadi Solusi.
Hieren mulai dikonsepkan sejak Januari 2025, dikembangkan hingga Januari 2026, dan mulai diimplementasikan pada April 2026 oleh Rafi Ashza Sejati dari Universitas Jenderal Soedirman bersama masyarakat dan mitra lokal di Cilacap, Kebumen, Desa Tugu, dan Desa Kalijaran melalui kolaborasi Gapoktan Maos dan PT Pertamina (Persero). Sistem Hieren dirancang modular, tahan cuaca tropis ekstrem, mudah digunakan masyarakat, mendukung industrialisasi energi lokal berbasis koperasi dan bengkel daerah.
Hieren mampu menghasilkan listrik harian sekitar 10 kWh, menurunkan biaya genset 30–80%, meningkatkan produktivitas masyarakat, membuka lapangan kerja hijau, mendukung transisi energi Indonesia Jawa Tengah Maju Bersih 2030.
Kata Kunci: Photovoltaik, Windturbine, Plug&Play, AI
1. Tantangan Trilema Energi, Ketidakpastian Ekonomi, dan Hambatan Transisi Energi Masyarakat
Ketersediaan energi listrik yang andal, aman, dan terjangkau merupakan kebutuhan dasar sekaligus fondasi utama pembangunan ekonomi masyarakat modern. Energi listrik tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana penerangan rumah tangga, tetapi telah menjadi infrastruktur vital yang menentukan keberlangsungan sektor pertanian, perikanan, peternakan, UMKM, industri kecil, hingga pengembangan desa wisata dan ekonomi kreatif masyarakat. Ketika pasokan listrik tidak tersedia secara stabil, aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu sehingga produktivitas, pendapatan, dan kualitas hidup menjadi menurun.
Di Indonesia, khususnya wilayah pesisir dan pedesaan Jawa Tengah seperti Kabupaten Cilacap dan Kebumen, persoalan energi masih menjadi tantangan nyata. Meskipun rasio elektrifikasi nasional telah melampaui 99 persen, kualitas dan stabilitas pasokan listrik masih belum merata. Banyak wilayah produktif masyarakat berada jauh dari jaringan distribusi utama atau mengalami tegangan listrik tidak stabil. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas usaha masyarakat sering terganggu terutama pada malam hari, musim hujan, maupun saat terjadi pemadaman listrik.
Permasalahan ini sangat dirasakan oleh masyarakat kecil seperti nelayan, petani, dan pelaku UMKM. Nelayan membutuhkan energi untuk penerangan, pendinginan hasil tangkapan, pengisian daya alat komunikasi, serta operasional tambak dan kapal kecil. Petani membutuhkan energi untuk irigasi, pengering hasil panen, pengolahan hasil pertanian, dan penyimpanan produk. Pelaku UMKM membutuhkan listrik untuk menjalankan mesin produksi, pendingin, penerangan usaha, dan aktivitas ekonomi harian. Ketika energi tidak tersedia atau biaya operasional terlalu tinggi, masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan secara maksimal.
Sebagian besar masyarakat akhirnya bergantung pada genset diesel sebagai sumber energi alternatif. Namun penggunaan genset memiliki berbagai kelemahan serius seperti biaya operasional tinggi, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, polusi udara dan suara, serta risiko kerusakan mesin akibat penggunaan jangka panjang. Biaya penggunaan genset bahkan dapat mencapai Rp40.000–Rp70.000 per jam tergantung kapasitas mesin dan harga bahan bakar. Pada sektor pertanian dan perikanan, biaya energi dapat menyerap hingga 20–30 persen total biaya usaha masyarakat sehingga memperbesar beban ekonomi masyarakat kecil.
Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis kelistrikan, tetapi juga berkaitan dengan ketidakpastian ekonomi dan rasa aman masyarakat terhadap masa depan hidup mereka. Nelayan khawatir hasil tangkapan rusak ketika listrik padam. Petani khawatir gagal mengairi sawah atau mengolah hasil panen. Pelaku UMKM takut produksi berhenti akibat genset kehabisan bahan bakar atau kerusakan listrik. Ketidakpastian energi pada akhirnya menciptakan ketidakpastian pendapatan dan memperbesar risiko kemiskinan struktural di wilayah pedesaan dan pesisir.
Bagi sebagian besar petani dan nelayan, energi bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan penentu keberlangsungan hidup mereka. Petani harus menunggu masa panen selama berbulan-bulan untuk memperoleh hasil usaha, sedangkan nelayan tidak selalu mendapatkan tangkapan setiap hari akibat kondisi cuaca dan ombak. Dalam kondisi tersebut, mereka tetap membutuhkan biaya hidup, bahan bakar, perawatan alat kerja, hingga kebutuhan keluarga sehari-hari meskipun belum tentu memperoleh penghasilan pada hari itu maupun musim tersebut.
Selain persoalan ketersediaan energi, masyarakat juga menghadapi tantangan besar dalam proses transisi menuju penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Sebagian besar teknologi energi terbarukan yang tersedia saat ini masih dianggap rumit, mahal, sulit dipahami, dan membutuhkan kemampuan teknis khusus dalam proses instalasi maupun pengoperasiannya. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat masih ragu untuk beralih dari sistem energi konvensional menuju sistem energi modern berbasis EBT.
Di lapangan, banyak masyarakat kesulitan memahami kebutuhan energi mereka sendiri. Pengguna tidak mengetahui kapasitas listrik yang dibutuhkan rumah, tambak, pertanian, maupun usaha mereka. Mereka juga kesulitan menentukan kapasitas baterai, panel surya, serta pola penggunaan energi yang efisien. Akibatnya, banyak sistem energi yang dipasang menjadi tidak optimal, mengalami kerusakan dini, atau berhenti digunakan karena masyarakat kesulitan melakukan pengoperasian dan pemeliharaan secara mandiri.
Kendala lainnya berasal dari kondisi bangunan dan instalasi listrik masyarakat yang sebagian besar belum dirancang untuk mendukung integrasi teknologi energi modern berbasis EBT. Banyak rumah, kios usaha, tambak, maupun fasilitas produksi masyarakat masih menggunakan instalasi listrik sederhana dengan kualitas jaringan yang kurang stabil dan standar keamanan yang terbatas. Tata ruang yang sempit, kondisi kabel yang tidak memadai, serta keterbatasan infrastruktur menjadi hambatan serius dalam proses transisi energi.
Selain faktor teknis, masyarakat juga menghadapi hambatan psikologis dan sosial. Sebagian masyarakat masih menganggap teknologi energi terbarukan sebagai teknologi mahal yang hanya dapat digunakan kalangan tertentu. Rendahnya literasi teknologi menyebabkan masyarakat takut salah menggunakan perangkat, takut sistem rusak, hingga khawatir tidak mampu melakukan pemeliharaan secara mandiri. Pada akhirnya, masyarakat lebih memilih menggunakan genset diesel karena dianggap lebih familiar meskipun memiliki biaya operasional jauh lebih mahal.
Permasalahan lain yang cukup besar adalah minimnya sistem pendampingan teknologi berbasis masyarakat. Banyak implementasi energi sebelumnya hanya berfokus pada pemasangan alat tanpa memberikan edukasi penggunaan, monitoring, maupun sistem pembelajaran yang mudah dipahami masyarakat. Ketika terjadi gangguan teknis, masyarakat kesulitan melakukan troubleshooting sehingga banyak teknologi akhirnya mangkrak atau tidak digunakan kembali.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan teknologi energi terbarukan yang canggih secara teknis, tetapi juga membutuhkan inovasi yang mudah digunakan masyarakat, adaptif terhadap kondisi tropis Indonesia, murah secara operasional, serta mampu membantu masyarakat menjalani proses transisi energi secara bertahap dan berkelanjutan.
2. Potensi Energi Terbarukan dan Rendahnya Adopsi Teknologi
Di sisi lain, Kabupaten Cilacap dan wilayah selatan Jawa Tengah memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang sangat besar. Intensitas radiasi matahari di wilayah ini mencapai sekitar 4,5–5,0 kWh/m²/hari dengan kecepatan angin pesisir rata-rata 3–6 m/s. Potensi tersebut sebenarnya mampu dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang murah, bersih, dan berkelanjutan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, adopsi teknologi EBT di tingkat masyarakat masih tergolong rendah. Salah satu penyebab utamanya adalah sebagian besar teknologi energi terbarukan yang tersedia bersifat rumit, mahal, dan sulit diterapkan masyarakat awam. Sistem yang ada umumnya hanya mengandalkan satu sumber energi (single source), misalnya hanya panel surya saja, sehingga ketika cuaca mendung atau malam hari sistem tidak dapat menghasilkan listrik secara optimal.
Selain itu, teknologi EBT konvensional membutuhkan proses instalasi dan perakitan teknis yang cukup kompleks. Masyarakat harus menggunakan jasa teknisi khusus dengan biaya tambahan yang tinggi. Banyak sistem energi yang akhirnya tidak terawat atau berhenti digunakan karena masyarakat kesulitan melakukan pengoperasian dan pemeliharaan secara mandiri.
Teknologi energi yang ada juga sebagian besar masih bergantung pada produk impor sehingga nilai tambah ekonomi lokal relatif kecil. Proses produksi, manufaktur, dan perakitan belum banyak melibatkan bengkel lokal maupun tenaga kerja daerah. Akibatnya, transisi energi belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan inovasi teknologi energi terbarukan yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga mudah digunakan masyarakat, sesuai dengan kondisi iklim tropis, murah secara operasional, serta mampu mendorong industrialisasi energi berbasis daerah dan komunitas.
3. Sejarah Pengembangan dan Solusi yang Ditawarkan Hieren
Berangkat dari kondisi tersebut, Hieren hadir sebagai inovasi teknologi Energi Baru Terbarukan multisumber modular pertama dari Jawa Tengah yang dirancang khusus untuk kondisi tropis Indonesia. Hieren dikembangkan sebagai solusi “Aki atau Baterai Rumah Masa Depan” berkonsep tinggal colok tanpa rakit (built-in plug-and-play) yang mudah digunakan masyarakat tanpa memerlukan instalasi rumit.
Hieren mengintegrasikan tiga klaster utama kelistrikan modern, yaitu sistem penyimpanan energi HIRES (Hybrid Resilient Energy Storage) berbasis baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 51,2V 100Ah (5,12 kWh), panel surya SoLaife 2,22 kWp berbasis empat modul monocrystalline, serta turbin angin sumbu vertikal Savonius WindNius berdaya 1,5 kW yang dirancang lepas pasang. Seluruh sistem dikendalikan melalui manajemen daya cerdas Hi-Core berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT).
Konsep awal Hieren mulai dikembangkan sejak Januari 2025 oleh Rafi Ashza Sejati dari Universitas Jenderal Soedirman. Pengembangan dilakukan bersama masyarakat lokal, bengkel manufaktur Purwokerto, kelompok tani, UMKM, dan mitra desa di wilayah Cilacap dan Kebumen. Setelah melalui proses desain, pengembangan, dan manufaktur prototipe sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, Hieren mulai diimplementasikan secara riil pada April 2026.
Uji coba dan penerapan awal dilakukan di Desa Tugu Tanggul Asih Kebumen untuk pengembangan desa wisata berbasis energi mandiri, serta di wilayah Maos, Adipala, dan Desa Kalijaran Kabupaten Cilacap melalui kolaborasi bersama Gapoktan Margo Sugih dan PT Pertamina (Persero). Selain itu, Hieren juga direncanakan untuk mendukung pengembangan UMKM gula semut, pertanian masa depan, serta kawasan pesisir Pantai Srandil Cilacap.
Selain pengembangan perangkat keras energi, Hieren juga mengembangkan sistem AI dan aplikasi pembelajaran untuk membantu masyarakat menentukan kebutuhan spesifikasi energi, memahami penggunaan sistem, serta meningkatkan literasi energi terbarukan. Pendekatan ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan mengelola energi secara mandiri.
4. Harapan dan Dampak Masa Depan Hieren
Hieren dikembangkan bukan hanya sebagai alat penyedia listrik, tetapi sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan industrialisasi energi masa depan Indonesia. Sistem ini dirancang untuk menghadirkan energi yang lebih stabil, murah, aman, dan mudah diakses masyarakat kecil. Dengan kombinasi energi surya dan angin, Hieren diharapkan mampu menghasilkan listrik harian sekitar 10 kWh secara stabil meskipun pada kondisi cuaca tropis ekstrem.
Penggunaan Hieren juga diharapkan mampu mengurangi biaya penggunaan genset diesel sebesar 30–80 persen dibanding sistem konvensional berbahan bakar fosil. Penurunan biaya energi akan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, memperbesar margin usaha petani dan nelayan, serta menciptakan peluang ekonomi baru berbasis energi bersih.
Di sisi lain, Hieren juga memiliki potensi besar dalam mendukung industrialisasi energi berbasis daerah. Dengan tingkat TKDN hingga 70 persen, proses manufaktur dan perakitan sistem melibatkan bengkel lokal, tenaga kerja daerah, koperasi, dan komunitas masyarakat. Model ini memungkinkan terciptanya lapangan kerja hijau baru pada sektor produksi, instalasi, pemeliharaan, hingga layanan energi masyarakat.
Melalui pendekatan koperasi energi dan ekonomi gotong royong, Hieren diharapkan mampu menjadi model pembangunan energi inklusif yang tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat kecil. Nelayan, petani, dan pelaku UMKM pada dasarnya tidak hanya membutuhkan listrik, tetapi membutuhkan kepastian bahwa usaha mereka dapat berjalan setiap hari tanpa takut listrik mati atau biaya bahan bakar melonjak.
Dengan demikian, Hieren diharapkan menjadi bagian dari masa depan transisi energi Indonesia menuju kemandirian energi nasional, dedieselisasi, penguatan ekonomi daerah, serta pencapaian target Indonesia Net Zero Emission 2060 dan Jawa Tengah Hijau Berkelanjutan.
· Sistem Hybrid Multisumber
HIEREN mengintegrasikan energi surya dan angin dalam satu sistem terpadu sehingga mampu menghasilkan listrik lebih stabil dibanding sistem single-source konvensional. Sistem tetap dapat bekerja pada kondisi cuaca berubah, mendung, malam hari, maupun saat kecepatan angin meningkat di wilayah pesisir.
· Konsep Plug-and-Play Tinggal Colok Tanpa Rakit
HIEREN dirancang menggunakan konsep built-in plug-and-play sehingga masyarakat tidak memerlukan proses perakitan rumit maupun kemampuan teknis tingkat tinggi untuk mengoperasikan sistem.
· Dirancang untuk Iklim Tropis Ekstrem Indonesia
Seluruh sistem dikembangkan agar tahan terhadap panas, kelembapan tinggi, hujan, korosi udara pantai, serta kondisi cuaca tropis ekstrem yang umum terjadi di Indonesia.
· Mudah Digunakan oleh Masyarakat Awam
Sistem monitoring dan pengoperasian dibuat sederhana sehingga dapat digunakan oleh petani, nelayan, UMKM, maupun masyarakat desa tanpa latar belakang teknik kelistrikan.
· Modular dan Fleksibel
Kapasitas sistem dapat ditambah atau dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna, mulai dari kebutuhan rumah tangga, UMKM, pertanian, hingga sektor produktif masyarakat lainnya.
· Integrasi AI dan IoT Hi-Core
HIEREN dilengkapi sistem manajemen energi cerdas berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk monitoring penggunaan energi, efisiensi daya, serta pengendalian sistem secara real-time.
· Mendukung Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
Pengembangan dilakukan bersama bengkel dan mitra lokal sehingga mendukung industrialisasi energi nasional dan meningkatkan penggunaan komponen lokal.
· Biaya Lebih Efisien Dibanding Sistem Konvensional
Sistem hybrid multisumber memungkinkan kebutuhan kapasitas tidak perlu dilakukan secara over-sizing seperti PLTS konvensional, sehingga investasi menjadi lebih efisien.
· Mendukung Koperasi Energi dan Ekonomi Gotong Royong
Model pengembangan HIEREN diarahkan berbasis koperasi energi desa dan industrialisasi lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
· Berpotensi Menjadi Model Industrialisasi Energi Masa Depan Indonesia
HIEREN tidak hanya menjadi produk teknologi energi, tetapi juga model pengembangan industri hijau berbasis komunitas, penciptaan lapangan kerja hijau, dan kemandirian energi dan ekonomi Nasional untuk masa depan Indonesia Maju dan Hijau
| Nama | : | Rafi Ashza Sejati |
| Alamat | : | Jalan Brantas Nomor 57 Donan 53222 Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | 082134244575 |