Penyebab tingginya kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) di Salatiga dikarenakan banyak pasien yang tidak patuh dalam mengkonsumsi obat anti-Tuberkulosis (OAT) dan kendala akses terhadap pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu diberikan pelayanan kesehatan berupa aplikasi sebagai pengingat bagi pasien Tb untuk rutin minum obat. Tujuan dari inovasi ini adalah merancang aplikasi berbasis sistem informasi untuk membantu pemantauan minum obat dan meningkatkan edukasi pada pasien Tb dengan menggunakan metode: Research and Development (R&D), yang meliputi tahap identifikasi masalah, studi literatur, perencanaan, desain, pengujian, evaluasi. Objek penelitian adalah merancang aplikasi penyakit “TB Care”. Pengujian aplikasi menggunakan metode black box testing akan dilakukan untuk memastikan bahwa fungsionalitas aplikasi sesuai dengan kebutuhan pasien Tb. Pengujian aplikasi akan dilaksanakan selama 14 minggu dan partisipan dalam penelitian ini mencakup ahli Tb (Tuberkulosis), ahli TI (Teknologi Informasi). Hasil semua fitur utama, seperti antarmuka yang mudah digunakan, penyajian informasi yang jelas, fitur pemantauan gejala, pengingat pengobatan, dan akses informasi, bekerja dengan baik sesuai tujuan. Setiap fitur diuji berdasarkan kriteria seperti fungsionalitas, efisiensi, dan keandalan, dan hasilnya konsisten dengan kebutuhan pengguna. Aplikasi ini meningkatkan kepatuhan pasien melalui fitur pengingat dan edukasi, membantu mencegah resistensi obat, dan mengatasi kendala pengobatan secara efektif. Kesimpulan aplikasi dinyatakan valid untuk membantu edukasi dan pengelolaan pengobatan Tb secara efektif.
Kata Kunci: Edukasi Tb, Pengobatan Tb,Tb-Care
Tuberkulosis (Tb) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global. World Health Organization melaporkan, sebanyak tiga puluh negara menyumbang 87% dari beban penyakit global. Dari jumlah ini, Indonesia masuk dalam kategori delapan negara penyumbang angka Tb tertinggi di Dunia (10%) selain India dan China (WHO, 2025). Data ini menunjukan bahwa upaya pengendalian, dan pengobatan Tb masih harus ditingkatkan. Hal ini ditunjukan dengan data Riset Kesehatan Dasar Nasional (2024) yang menyatakan target keberhasilan pengobatan TB di Indonesia sebesar 90% belum dapat dilampaui oleh banyak provinsi termasuk Jawa Tengah (86,8%) (Kemenkes, 2024). Kasus tuberkulosis di Provinsi Jawa Tengah masih tergolong tinggi dengan estimasi sekitar 107.488 kasus pada tahun 2025. Jumlah ini, menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kasus TB yang tinggi setelah Jawa Barat dan Jawa Timur di Indonesia (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2025). Kondisi tersebut juga tercermin pada tingkat daerah, di mana angka penemuan kasus TB di Kota Salatiga pada tahun 2024 tercatat sebesar 134,5 per 100.000 penduduk (Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa kasus TB masih belum dapat dieliminasi baik di Indonesia maupun tingkat global, serta memerlukan upaya, pengendalian, pencegahan dan pengobatan penyakit sehingga dapat mencapai target dalam mengurangi insiden dan kematian sebesar 90% pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2016).
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi dengan penularan yang progresif. Penyakit menular saluran pernapasan ini, disebabkan karena bakteri Mycobacterium Tuberculosis complex (Meo et al., 2024). Bakteri M. Tb dikenal sebagai salah satu mikroorganisme patogen memiliki keunikan genom sel sehingga memiliki potensi untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang bervariasi, termasuk dalam lingkungan dengan tekanan oksigen yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan M. tuberculosis dapat bertahan dormant di dalam tubuh dalam kondisi yang tidak optimal dan dapat mengalami reaktivasi di kemudian hari jika situasi lingkungan memungkinkan. Infeksi Tb paling utama terjadi di paru-paru, namun resiko penyebaran dapat terjadi diluar paru yang disebut dengan Tb Ekstra Paru (Fitzgerald et al., 2020). Penularan cepat melalui pernapasan, lalu tanda dan gejala yang dapat berbahaya karena penularan langsung melalui airbone yang mana melalui percikan dahak dari pasien Tb yang mengandung droplet nuclei dan dihirup oleh orang lain. Efek penularan kepada orang lain terjadi dalam masa inkubasi kurang lebih 2 minggu yang diawali dengan batuk berdahak,sesak napas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat, malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. efek penularan akan lebih cepat bahkan lebih berat dirasakan oleh penderita yang memiliki penyakit komorbid misalnya HIV/AIDS, Hipertensi, Malnutrition, dan Diabetes Melitus (Putri, 2023). Seseorang akan terdiagnosis Tb jika menjalani pemeriksaan sputum yang menunjukan hasil Basil Tahan Asam bernilai positif (+) atau negatif dengan ditunjang oleh pemeriksaan lain misalnya rontgen Thorax. Hal ini menyebabkan pengobatan dan perawatan terhadap Tb menjadi kompleks (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2021).
Keberhasilan penanggulangan TB memerlukan pendekatan komprehensif (WHO, 2025). Pendekatan komprehensif ini tidak hanya berfokus pada aspek pencegahan dan pengendalian faktor risiko, tetapi juga harus diimbangi dengan penatalaksanaan klinis yang tepat pada pasien yang telah terdiagnosis TB. Faktor yang mempengaruhi pengobatan salah satunya adalah kepatuhan pasien mencakup tepat waktu dan tepat dosis minum obat, mengatasi efek samping obat, jarak ke fasilitas kesehatan, status ekonomi yang rendah, kurangnya dukungan sosial dari keluarga dan komunikasi antara pasien dan penyedia layanan kesehatan (Pasaribu et al., 2023). Faktor penentu kesembuhan Tb adalah rutin minum obat antibiotik selama 6-10 bulan tergantung diagnostik Tb yang dialami oleh pasien. Kegagalan pengobatan dapat dipengaruhi oleh lamanya durasi pengobatan dan kepatuhan dalam pengobatan (Simanjuntak et al., 2025). Selain itu, Perilaku pencegahan penularan TB dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengetahuan, sikap, efikasi diri, pendidikan, kesehatan, dukungan keluarga, serta persepsi pasien terhadap penyakitnya. Faktor-faktor tersebut berkontribusi dalam membentuk kebiasaan pasien, seperti menerapkan etika batuk, menggunakan masker, membuka ventilasi rumah, serta mencuci tangan (Rachma et al., 2021).
Perawat memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan pengobatan TB melalui pemantauan kepatuhan minum obat dan pemberian edukasi kepada pasien. Namun, pemantauan pengobatan TB secara manual memiliki beberapa keterbatasan, seperti kesulitan pemantauan secara langsung setiap hari, keterlambatan dalam mendeteksi ketidakpatuhan pasien serta kurangnya dokumentasi secara real-time. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang ada dalam sistem manual dengan cara pemanfaatan teknologi digital (Indawati et al., 2025). Melalui pemanfaat teknologi, memungkinkan pasien untuk menerima pengingat minum obat, pencatatan pengobatan yang lebih sistematis (Sari et al., 2026). Selain itu, penggunaan teknologi digital juga memudahkan tenaga kesehatan untuk pengumpulan data secara real-time sehingga proses evaluasi kepatuhan pengobatan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat (Indawati et al., 2025).
Keunggulan yang diterapkan pada aplikasi telenursing “Tb Care” terletak pada integrasi antara fitur edukasi komprehensif dan sistem pengingat minum obat (alarm) dalam satu platform yang mudah diakses. Aplikasi ini tidak hanya menyediakan informasi dasar mengenai penyakit Tuberkulosis, tetapi juga menyajikan materi edukasi yang disesuaikan dengan tingkat pengetahuan pasien, sehingga lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya kepatuhan terapi. Selain itu, fitur alarm yang terjadwal dan dapat disesuaikan membantu pasien menjaga keteraturan minum obat setiap hari, sehingga menurunkan risiko putus obat dan resistensi. Dibandingkan dengan produk yang sudah ada, “Tb Care” menggabungkan edukasi, monitoring kepatuhan, serta kemudahan akses informasi bagi pasien dan keluarga dalam satu aplikasi berbasis telenursing, sehingga memberikan pendekatan yang lebih holistik, praktis, dan berfokus pada kebutuhan pasien.
| Nama | : | Artika Sari Dewi |
| Alamat | : | Jl. Puri Salatiga No.18 Kelurahan Sidorejo Lor, Kota Salatiga Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | 089677965935 |