Penyakit dermatitis atau sering dikenal eksim merupakan penyakit kulit inflamasi yang ditandai dengan gatal, kemerahan, kulit kering, dan iritasi, gejala tersebut menunjukkan dermatitis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Tingginya prevalansi dermatitis dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor genetik, alergi, iritan dari lingkungan sekitar, dan penggunaan produk perawatan kulit berbahan kimia sintetis. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi produk perawatan kulit berbahan alami yang aman, terjangkau, dan bersifat preventif untuk mengatasi dan juga mencegah penyebaran penyakit dermatitis.
Proposal ini bertujuan mengembangkan sabun SECANTIK, yaitu sabun antiseptik alami berbahan dasar SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) yang diperkaya dengan ekstrak bunga mawar sebagai upaya pencegahan dan perawatan dermatitis atau eksim. SCOBY mengandung probiotik, senyawa bioaktif seperti asam organik, flavonoid, dan antioksidan yang berpotensi memiliki aktivitas antiseptik dan antiinflamasi, sedangkan ekstrak bunga mawar berfungsi menenangkan kulit serta membantu meredakan peradangan dari infeksi dermatitis karena memiliki kandungan antosianin yang tinggi.
Pengembangan produk dilakukan melalui tahapan formulasi bahan, proses pembuatan sabun, dan uji inovasi yang difokuskan pada aspek keamanan penggunaan. Uji keamanan dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap reaksi kulit setelah penggunaan, meliputi tanda iritasi, rasa perih, atau efek samping lainnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Sabun SECANTIK aman digunakan pada kulit sensitif. Maka dari hasil pengujian tersebut, diharapkan Sabun SECANTIK dapat menjadi alternatif produk perawatan kulit berbasis bahan alami yang ekonomis, aplikatif, dan memiliki potensi dikembangkan secara komersial. Selain itu, inovasi ini tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan kulit saja tapi ikut meningkatkan nilai guna SCOBY sebagai bahan fermentasi bernilai ekonomi.
Kata Kunci: Dermatitis, SCOBY, Ektstrak Bunga Mawar
Penyakit dermatitis merupakan salah satu penyakit peradangan kulit yang menyebabkan kulit kering, gatal, kemerahan, dan ruam. Bisa disertai lepuh atau mengelupas. Penyakit ini tidak menular, tetapi dapat mengganggu aktivitas keseharian. Penyakit ini dapat menjangkit segala usia, terkait faktor genetik, alergi, atau iritasi. Faktor umum dermatitis disebabkan oleh genetik, seperti faktor keturunan berperan terutama untuk jenis dermatitis atopik atau eksim. Kontak langsung juga menjadi salah satu pemicu penyakit ini seperti reaksi terhadap alergen atau iritan pada logam, deterjen, atau tanaman. Sirkulasi darah yang tidak lancar serta stres dapat memperburuk gejala (Dr. Pittara, 2024).
Genetik yang dimiliki seseorang dapat meningkatkan risiko terkena dermatitis sebesar 14,0 kali dibanding seseorang yang tidak memiliki riwayat genetik. Sekitar setengah sampai dua pertiga penderita dermatitis atopik memiliki riwayat yang diturunkan oleh satu atau kedua orang tuanya dan presentase ini diperbesar ketika sanak saudaranya juga memiliki riwayat dermatitis. Salah satu faktor lain yang juga meningkatkan risiko dermatitis adalah perubahan suhu, kesempatan terjangkitnya 0,224 kali lebih besar untuk penderita dermatitis yang sering terpapar perubahan suhu. Suhu yang panas meningkatkan kelembaban serta keringat berlebih sehingga dapat memicu gatal gatal dan peradangan luka (Alini & Sinaga, 2018).
Berdasarkan hasil observasi dan pendataan di lapangan, mayoritas responden mengetahui jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat gatal-gatal atau dermatitis atopik, namun responden cenderung tidak mengetahui bahwa dermatitis atopik yang dialami dapat berasal dari riwayat keluarga yang diturunkan. Sekitar setengah sampai dua pertiga pasien penderita dermatitis atopik, diindikasikan memiliki riwayat atopik pada satu dan atau kedua orang tuanya, dan persentase ini makin tinggi ketika saudaranya juga memiliki riwayat atopik (Indika et al., 2020).
Provinsi dengan kasus dermatitis atopik di Indonesia terdapat di Kalimantan (11,3%), Banten (7,5%), Jawa Tengah (6,9%)serta Sulawesi Barat (2,57%) (Aurellya & Santoso, 2023; Nurleni & Novita, 2023; Sureda et al., 2023). Kabupaten Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki kasus dermatitis atopik. Penderita dermatitis atopik belum diketahui secara pasti, namun pada tahun 2022 menunjukkan adanya kasus dermatitis atopik di Banyumas. Puskesmas Cilongok II di Kabupaten Banyumas merupakan salah satu puskesmas yang menunjukkan adanya kasus dermatitis atopik. Data Puskesmas Cilongok II pada bulan Juli-Desember tahun 2023 jumlah penderita dermatitis atopik sebanyak 358 orang dan bulan Januari-Agustus di tahun 2024 sebanyak 350 orang. Salah satu desa di Kecamatan Cilongok yang mengalami kejadian dermatitis atopik yaitu Desa Panusupan sebanyak 83 orang. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian dermatitis atopik di Desa Panusupan.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar dari Depertemen Kesehatan 2018 Nasional Dermatitis ialah 6,8%, dan di tingkat Jawa Tengah Prevalensi Penyakit Dermatitis sebesar 7,95%. Berdasarkan Data Ditjen Pelayanan Medik Derpartemen Kesehatan RI Tahun 2020, terdapat 15,6% penyakit kulit dan penyakit dermatitis yang tercatat hingga 66,3% (Kemenkes RI, 2020). Berdasarkan Buku Profil Kesehatan - Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2024, terdapat 89 kasus dermatitis atopik di Jawa Tengah. Prevalensi dermatitis atopik di Jawa Tengah berkisar antara 5-20% pada anak-anak dan 1-3% pada dewasa.
Data penderita dermatitis di Puskesmas Cilongok II Kabupaten Banyumas pada bulan Juli-Desember tahun 2023 sebanyak 358 orang dan bulan Januari-Agustus di tahun 2024 sebanyak 350 orang. Selaras dengan hasil penelitian dan observasi yang telah dilakukan oleh Vinka & Ari, (2017) menunjukan bahwa dampak pengelolaan sampah yang buruk khususnya di TPI Kota Tegal bagi kesehatan masyarakat akan menyebabkan gejala penyakit Dermatitis sebanyak 15% (Vinka,.Ari.2017). Oleh sebab itu, diperlukannya penjagaan kesehatan lingkungan terutama pada tubuh penderita, salah satunya dengan menggunakan sabun berbahan alami yang khusus dirancang untuk mencegah atau mengurangi penyakit dermatitis.
SCOBY adalah singkatan dari Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast. Masyakat luas lebih familiar dengan jamur ini sebagai komponen utama dalam pembuatan teh kombucha atau minuman fermentasi yang memiliki manfaat bagus bagi tubuh terutama untuk sistem pencernaan. SCOBY merupakan membran jaringan-jamur yang bersifat gelatinoid dan liat, yang berbentuk menyerupai lapisan kenyal seperti gelatin, memiliki warna putih keruh hingga cokleat muda, dan mudah mengapung dipermukaan teh manis. SCOBY mengandung senyawa aktif, seperti asam fenolat dan flavonoid serta senyawa bioaktif yang memiliki antiinflamasi dan aktivitas antioksidan tinggi. Kandungan ini memiliki manfaat bagi penderita dermatitis karena dapat mengurangi peradangan kronis pada kulit, membantu meredakan kemerahan dan rasa gatal, serta dapat mendukung proses regenerasi sel kulit. Oleh sebab itu, dibutuhkan inovasi baru dalam pemanfaatan SCOBY selain untuk dikonsumsi dalam bentuk teh kombucha.
Selain dari manfaat SCOBY sebagai pencegahan penyakit dermatitis atau eksim, kandungan ekstrak dari bunga mawar atau Rose Water juga memiliki kandungan kaya akan flavonoid dan anthosyanin. Kandungan tersebut memiliki efektivitas dalam meredakan kemerahan, gatal, dan bengkak pada kulit sensitif hingga peradangan. Selain daripada itu ekstrak bunga mawar ini juga memberikan efek terapeutik yang signifikan untuk kulit dermatitits atau eksim karena sifat alaminya yang menenangkan dan peradangan pada kulit penderitanya.
Berdasarkan latar belakang diatas, kelompok kami hadir dengan produk inovasi berupa “Sabun SECANTIK” atau sabun antiseptik alami berbahan dasar SCOBY dan ekstrak bunga mawar yang diformulasikan sebagai pencegahan penyakit dermatitits atau eksim. Harapannya produk kami hadir sebagai salah satu solusi untuk penyakit dermatitis dengan menggunakan bahan alami serta harga yang ekonomis.
Keunggulan inovasi yang dikembangkan oleh kelompok kami terletak pada formulasi sabun SECANTIK ini dirancang secara khusus sebagai upaya pencegahan dan perawatan penyakit kulit dermatitis atau eksim dengan memanfaatkan bahan baku alami berupa SCOBY dan ekstrak bunga mawar. Selain daripada itu, produk kami juga mengedepankan penggunaan bahan alami, sehingga produk ini juga menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan sabun antiseptik yang beredar di pasaran. Dengan demikian, inovasi ini menghadirkan alternatif produk sabun antiseptik baru yang mengombinasikan kandungan SCOBY dan ekstrak air bunga mawar sebagai nilai tambah dalam perawatan kesehatan kulit.
| Nama | : | Arsyifa Soraya Nasution |
| Alamat | : | Jl. Ababil No.9 RT.007/RW.006, Randugunting, Kota Tegal |
| No. Telepon | : | 085877353866 |