Berdasarkan data Rapor Pendidikan 2024 masih banyak satuan pendidikan pada kategori “Sedang” dan “Kurang” menjadikan rendahnya tingkat literasi dan numerasi di Kabupaten Tegal, menjadi latar belakang inovasi ini. Salah satu permasalahan terkait numerasi terletak pada sulitnya siswa memvisualisasikan materi Geometri Transformasi yang abstrak serta minimnya alat peraga kontekstual yang mengintegrasikan kearifan lokal.
Papan Gematika (Papan Geometri Matematika Batik Tegalan) diciptakan sebagai solusi media pembelajaran interaktif berbasis etnomatematika. Media pembelajaran inovasi ini menggunakan konsep foldable storage berbahan limbah kardus yang dirancang sebagai bidang koordinat Kartesius portabel. Salah satu keunikannya terletak pada penggunaan 64 keping puzzle bermotif Batik Tegalan (seperti poci dan tahu aci) sebagai objek operasional matematika yang dikemas dan ditempel dengan bahan magnet.
Bagi pemerintah daerah, inovasi ini memberikan manfaat luas dalam meningkatkan kualitas pendidikan regional serta efisiensi anggaran pengadaan alat peraga. Bagi pendidik, media pembelajaran ini mendorong kemandirian kreatif melalui pemanfaatan bahan yang murah dan mudah dibuat secara mandiri di sekolah.
Hasil penerapan Papan Gematika di SMA Negeri 1 Tegal menunjukkan bahwa siswa mampu memahami konsep pergeseran koordinat lebih cepat dibandingkan metode ceramah, hal tersebut berdampak signifikan terhadap aspek koginitif. Selain itu, inovasi ini berhasil mengubah limbah anorganik sekaligus menjadi media perkenalan budaya lokal yang efektif bagi generasi muda.
Kata Kunci: Papan Gematika, Geometri Transformasi, Batik Tegalan, Numerasi, Limbah.
Memasuki tahun 2026, perubahan paradigma pembangunan dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis inovasi menjadi visi utama untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan zaman yang semakin dinamis. Dalam lingkungan daerah, Pemerintah Kabupaten Tegal melalui visi "Tegal Luwih Apik" terus berupaya membangun ekosistem riset yang partisipatif, di mana masyarakat didorong untuk menjadi aktor utama dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi kreatif yang berdampak luas. Salah satu tema permasalahan yang menjadi prioritas pembangunan daerah tahun 2026 adalah peningkatan akses dan mutu pendidikan serta optimalisasi pelestarian budaya lokal guna mendukung daya saing daerah yang berkelanjutan.
Kondisi nyata di masyarakat, dunia pendidikan masih menghadapi tantangan besar, khususnya tingkat literasi dan numerasi yang menjadi fondasi dasar intelektual siswa. Menurut data global PISA tahun 2022 menempati urutan ke 69 dengan skor membaca 359 dan skor matematika 366. Data tersebut menunjukkan nilai literasi dan numerasi Indonesia terendah semenjak 2000. Di dalam ruang kelas, matematika sering kali dipandang sebagai disiplin ilmu yang kaku dan terlalu abstrak yang susah dipahami oleh siswa, terutama pada materi Geometri Transformasi. Sifatnya yang teoretis membuat siswa kesulitan memvisualisasikan konsep tanpa bantuan media yang konkret. Hal tersebut ini diperparah dengan minimnya alat peraga edukatif yang mampu menjembatani teori akademik dengan kontekstual kehidupan sehari-hari melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam menuntut siswa tidak hanya menghafal rumus secara mekanis (konseptual), tetapi mampu mengonstruksi pemahaman melalui eksplorasi objek yang nyata dan bermakna. Tanpa adanya keterlibatan aktif dan keterhubungan emosional dengan objek belajar, pemahaman matematika siswa akan tetap berada pada level permukaan (surface learning) yang mudah terlupakan.
Pembelajaran matematika juga dapat dikemas secara interaktif dan kontekstual. Misalnya, Kabupaten Tegal memiliki kekayaan budaya berupa Batik Tegalan yang sangat potensial untuk diintegrasikan sebagai media pembelajaran etnomatematika. Melalui pemanfaatan motif batik, strategi pembelajaran mendalam dapat diwujudkan sehingga siswa dapat melihat relevansi geometri dalam identitas budaya mereka sendiri. Namun, potensi ini masih sering terabaikan, yang dapat dilihat dari tantangan pada Rapor Pendidikan Kabupaten Tegal Tahun 2024. Berdasarkan data dari BBPMP Jawa Tengah, secara kolektif Kabupaten Tegal menunjukkan tren positif dengan kenaikan status dari "Tuntas Muda" ke "Tuntas Pratama", tetapi laporan tersebut memberikan catatan strategis bahwa aspek numerasi masih menjadi fokus yang membutuhkan intervensi berkelanjutan. Faktanya, masih terdapat prosentase satuan pendidikan yang signifikan dengan capaian numerasi pada kategori "Sedang" dan "Kurang". Hal ini mengindikasikan bahwa pemerataan pemahaman matematis melalui media pembelajaran yang mampu memfasilitasi pembelajaran mendalam yang interaktif dan mudah diakses masih sangat dibutuhkan di berbagai wilayah Kabupaten Tegal.
Di sisi lain, permasalahan lingkungan yang kerap terjadi terkait melimpahnya limbah anorganik seperti kardus bekas di lingkungan sekitar menuntut adanya solusi kreatif yang bernilai guna tinggi. Berangkat dari kesenjangan tersebut, muncul sebuah gagasan untuk menciptakan media pembelajaran yang tidak hanya efektif secara pedagogis, tetapi juga ekonomis dan sarat akan identitas budaya lokal. Papan Gematika (Papan Geometri Matematika Batik Tegalan) diwujudkan sebagai jawaban inovatif yang menyatukan konsep pengelolaan limbah, pelestarian budaya Batik Tegalan, dan penyederhanaan materi matematika yang abstrak ke dalam sebuah desain papan lipat yang portabel. Melalui Papan Gematika, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang mampu menstimulasi kognitif siswa secara mendalam, mengubah abstraksi menjadi aksi, dan mentransforrmasi limbah menjadi media edukasi yang interaktif.
Metode Pembaharuan
Inovasi ini mengubah alat peraga statis menjadi media dinamis:
Keunggulan / Kebaharuan
| Nama | : | Riska Amaliyah, S.Pd. |
| Alamat | : | Jalan Wijaya Kusuma 8 No. 35E RT/RW 004/005, Kel. Kudaile, Kec. Slawi, Kabupaten Tegal |
| No. Telepon | : | 085740050755 |