Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif, berkelanjutan, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Inovasi ANAK EMAS dikembangkan sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting melalui peningkatan kapasitas kader Rumah Desa Sehat (RDS), edukasi kepada ibu yang memiliki anak usia di bawah dua tahun (baduta), serta penguatan teknik komunikasi kader dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat.
Inovasi ini mengintegrasikan delapan pesan kunci pencegahan stunting yang dirangkum dalam konsep ANAK EMAS, yaitu antenatal care rutin selama kehamilan, pemenuhan nutrisi seimbang sejak masa kehamilan hingga anak usia dua tahun, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, kelengkapan imunisasi dasar, menghindari paparan asap rokok, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin, pemanfaatan layanan Posyandu, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat melalui stop buang air besar sembarangan dan mencuci tangan menggunakan sabun.
Pelaksanaan inovasi dilakukan melalui pelatihan kader RDS, edukasi kelompok ibu baduta, serta pendampingan melalui kunjungan rumah dengan pendekatan komunikasi yang partisipatif, sederhana, dan mudah dipahami masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat, memperkuat peran kader sebagai agen perubahan, serta mendorong perubahan perilaku kesehatan keluarga dalam pencegahan stunting.
Melalui pemanfaatan sumber daya lokal di desa, inovasi ANAK EMAS memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan dan direplikasi di berbagai wilayah sebagai model intervensi berbasis masyarakat dalam percepatan penurunan stunting.
Kata Kunci: stunting, ANAK EMAS, pemberdayaan masyarakat, kader kesehatan, edukasi kesehatan, pencegahan stunting.
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Secara global, prevalensi stunting masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan WHO, sedangkan di Indonesia prevalensi stunting tahun 2023 masih mencapai 20,7%. Di Provinsi Jawa Tengah, prevalensi stunting juga masih menjadi perhatian meskipun menunjukkan penurunan menjadi 17,1% pada tahun 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa percepatan penurunan stunting memerlukan pendekatan yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Stunting tidak hanya dipengaruhi oleh kekurangan gizi, tetapi juga berkaitan dengan pola asuh, rendahnya pengetahuan keluarga, sanitasi, perilaku kesehatan, serta akses terhadap layanan kesehatan. Pada tingkat masyarakat, kader kesehatan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara layanan kesehatan dengan keluarga sasaran. Namun, kader masih menghadapi kendala berupa keterbatasan kemampuan komunikasi edukatif, media pembelajaran yang sederhana, serta belum optimalnya pendampingan keluarga dalam praktik pencegahan stunting sehari-hari. Di sisi lain, Rumah Desa Sehat (RDS) sebagai wadah pemberdayaan masyarakat belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat edukasi kesehatan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Berdasarkan kondisi tersebut, dikembangkan inovasi ANAK EMAS sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan stunting melalui penguatan kapasitas kader RDS, edukasi kepada ibu baduta, serta pendampingan melalui kunjungan rumah. Inovasi ini mengintegrasikan delapan pesan kunci pencegahan stunting yang disusun berdasarkan akar masalah dan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan yang partisipatif, komunikatif, dan berbasis sumber daya lokal, ANAK EMAS diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, memperkuat peran kader sebagai agen perubahan, serta mendorong perubahan perilaku kesehatan keluarga dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Inovasi ANAK EMAS (Aksi NyatA untuK Edukasi Masyarakat Atasi Stunting) merupakan model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan penguatan kapasitas kader kesehatan dengan penyampaian pesan kunci pencegahan stunting melalui pendekatan yang sederhana, sistematis, komunikatif, dan mudah dipahami masyarakat. Keunggulan inovasi ini terletak pada penggunaan konsep akronim ANAK EMAS sebagai media komunikasi kesehatan yang merangkum delapan pesan kunci pencegahan stunting, sehingga memudahkan kader dalam menyampaikan edukasi sekaligus memudahkan masyarakat untuk mengingat dan menerapkan pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Inovasi ini juga mengoptimalkan pemanfaatan Rumah Desa Sehat (RDS) sebagai pusat kegiatan edukasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan edukasi tidak hanya dilakukan secara sporadis, tetapi menjadi bagian dari sistem pemberdayaan masyarakat yang lebih terstruktur, partisipatif, dan berkelanjutan.
Keunggulan lainnya terletak pada kombinasi antara peningkatan kapasitas kader kesehatan, penggunaan media edukasi yang kontekstual dan mudah dipahami, serta pendampingan langsung kepada keluarga sasaran melalui kunjungan rumah. Pendekatan ini menjadikan proses edukasi tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku kesehatan keluarga secara nyata dalam upaya pencegahan stunting.
Selain itu, inovasi ANAK EMAS dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan akar permasalahan masyarakat, serta diperkuat melalui proses penelitian dan implementasi di lapangan. Hal tersebut menjadikan inovasi ini lebih aplikatif, mudah direplikasi, dan berpotensi untuk dikembangkan secara lebih luas sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam percepatan penurunan stunting.
| Nama | : | Ratna Trisilawati |
| Alamat | : | Tegal Malohan RT 2 RW 3 Kelurahan Buntalan Kecamatan Klaten Tengah Kabupaten Klaten |
| No. Telepon | : | 08888233335 |