Sampah menjadi masalah utama lingkungan saat ini, termasuk di kabupaten Wonosobo. Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo yang sudah melebihi batas daya tampung seiring bertambahnya aktivitas dan kebutuhan penduduk. Dengan demikian perlu pengelolaan sampah yang lebih baik agar persoalan sampah ini tidak bertambah pelik. Pengolahan sampah terpadu adalah salah satu jawaban untuk persoalan tersebut. Pengolahan sampah dimulai dengan pemilahan sampah (Anorganik, Organic dan B3). Oleh TPST kemudian diolah menjadi pupuk organic granule. Sementara sampah anorganik dibakar dalam sebuah tungku yang dimodifikasi mengubah sampah plastik menjadi asap cair yang bisa digunakan untuk pestisida. Residu dan sampah B3 yang tidak dapat dikelola oleh TPST di kumpulkan dan dibuang ke TPA Wonorejo. Pengelolaan sampah ini dapat mengurangi sampah yang semula 3 ton per dua minggu menjadi 3 ton per tiga bulan. Atau setara semula 6 ton per bulan menjadi 1 ton per bulan. Selain itu hasil samping berupa asap cair dan pupuk organic granula mampu menggerakkan ekonomi masyrakat melalui tanaman pekarangan dan budidaya kapulaga.
Permasalahan sampah di Wonosobo hingga kini masih menjadi tantangan besar, terutama karena peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang tidak sebanding dengan pengelolaan sampah yang ada. Sampah rumah tangga mendominasi timbulan sampah harian, sementara kesadaran masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik masih tergolong rendah. Akibatnya, banyak sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan bahkan sebagian masih dibuang sembarangan ke sungai maupun lahan terbuka, sehingga berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan masalah kesehatan.
Di sisi lain, kapasitas TPA di Wonosobo yang hanya seluas 2,3 hektar, sekarang harus menampung lebih dari 130 ton sampah per hari dan akan menghadapi resiko overload bila tidak ada penanganan sampah yang baik dari segala sektor. Kurangnya fasilitas daur ulang dan minimnya program edukasi lingkungan membuat sebagian besar sampah belum termanfaatkan dengan baik. Padahal, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik memiliki nilai ekonomis jika didaur ulang. Dengan kondisi ini, perlu adanya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu agar masalah sampah di Wonosobo tidak semakin kompleks di masa depan.
Atas dasar tersebut, warga penawangan Kelurahan Tawangasari berinisiatif untuk mengatasi persoalan sampah ini dengan pengelolaan terpadu sampah. Dengan dukungan penuh masyarakat, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pentasari hadir untuk membantu mengatasi permasalahan sampah di Wonosobo. Selain itu pengelolaan sampah terpadu juga menhasilkan pupuk organic dari sampah rumah tangga dan asap cair dari pembakaran sampah plastic. Sementara Abu hasil pembakaran digunakan untuk pupuk tanaman kapulaga. Sampah yang tidak dapat diolah dan sampah B3 kemudian di bawa ke TPA Wonorejo.
Membantu mengurangi permasalahan sampah di Wonosobo dengan pengelolaan terpadu berbasis masyarakat Selain itu juga menghasilkan pupuk organic dan asap cair.
Keberadaan TPST yang memadukan pemilahan sampah pengolahan sampah dan pemanfaatan produk hasil pengolahan sampah berbasis masyarakat telah banyak manfaatnya bagi masyarakat.
Alat pembakar sampah yang dibuat dan didanai sendiri oleh masyarakat berupa tungku pembakar sampah anorganik yang dimodifikasi dengan pendingin (air) menghasilan asap cair yang merupakan bahan baku umtuk pembuatan pestisida.
Selain menghasilkan asap cair, TPST juga menhasilkan pupuk organik dari hasil fermentasi sampah dan limbah rumah tangga.
| Nama | : | 1. ANI ISTIKHAROH |
| Alamat | : | MUKTISARI RT 003/ 007 JARAKSARI WONOSOBO |
| No. Telepon | : | 085226955966 |