Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan yang dapat menimbulkan gangguan motorik berupa hemiparese pada pasien paska stroke. Kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan gerak bahu, kekakuan sendi, serta penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. Proses rehabilitasi melalui latihan Range of Motion menjadi langkah penting untuk membantu pemulihan fungsi gerak. Namun, alat rehabilitasi yang tersedia saat ini umumnya masih bersifat manual, kurang adaptif, serta hanya mendukung metode terapi aktif dengan biaya yang relatif tinggi.
SWOR 2.0 (Shoulder Wheel for Optimal Rehabilitation) dikembangkan sebagai inovasi alat rehabilitasi bahu yang mengintegrasikan metode terapi aktif dan pasif dalam satu sistem. Metode aktif digunakan untuk meningkatkan kekuatan otot dan koordinasi gerak pasien pada tahap lanjutan rehabilitasi, sedangkan metode pasif membantu pergerakan lengan pada fase awal pemulihan ketika pasien belum mampu menggerakkan lengan secara mandiri. Sistem ini memungkinkan proses terapi berlangsung lebih bertahap, aman, dan sesuai kondisi pasien.
SWOR 2.0 dirancang dengan memperhatikan aspek ergonomi dan fleksibilitas penggunaan. Alat ini dilengkapi fitur pengaturan tinggi shoulder (bahu), panjang pegangan, sudut terapi, serta kecepatan latihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Sistem penggerak menggunakan motor stepper berbasis mikrokontroler ESP32 dan sensor rotary encoder sehingga menghasilkan gerakan yang presisi dan terukur. Selain itu, SWOR 2.0 telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa desain industri serta lolos pengujian keamanan berdasarkan standar IEC 60601-1.
Stroke merupakan salah satu permasalahan kesehatan utama di dunia yang hingga kini masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian. Kondisi ini terjadi akibat terganggunya aliran darah menuju otak, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Secara global, tercatat lebih dari 12 juta kasus stroke baru setiap tahunnya dengan lebih dari 101 juta individu hidup dengan riwayat stroke. Di Indonesia sendiri, stroke menunjukkan tren peningkatan signifikan dengan prevalensi mencapai 8,3-10,9 per 1.000 penduduk serta menyumbang sekitar 19,42% dari total kematian nasional.
Dampak stroke tidak hanya terbatas pada gangguan neurologis, tetapi juga menimbulkan komplikasi muskuloskeletal terutama pada pasien hemiparese atau hemiplegia yang menyebabkan kelemahan hingga kelumpuhan satu sisi tubuh. Kondisi ini menurunkan kekuatan otot, membatasi aktivitas sehari-hari, serta meningkatkan ketergantungan pasien. Keluhan yang sering muncul adalah nyeri dengan prevalensi 11-55% pada pasien paska stroke, yang umumnya berkaitan dengan disfungsi sendi bahu. Gangguan bahu ditandai dengan kekakuan, nyeri, dan keterbatasan gerak terutama pada rotasi, yang berpotensi menyebabkan kontraktur permanen apabila tidak ditangani secara tepat.
Rehabilitasi menjadi tahap penting melalui latihan Range of Motion untuk menjaga fleksibilitas, meningkatkan kekuatan, serta memperlancar sirkulasi darah. Alat seperti shoulder wheel digunakan untuk membantu terapi, namun masih memiliki keterbatasan seperti sistem manual, kurang adaptif, serta biaya yang relatif tinggi. Selain itu, alat yang ada umumnya hanya mendukung latihan aktif sehingga kurang efektif pada fase awal pemulihan.
Oleh karena itu dikembangkan SWOR 2.0 sebagai inovasi rehabilitasi bahu dengan mode aktif dan pasif. Mode pasif membantu pergerakan awal, sedangkan mode aktif meningkatkan kekuatan dan koordinasi. SWOR juga lebih ekonomis, adaptif, serta mendukung pemantauan terapi sehingga diharapkan meningkatkan efektivitas rehabilitasi dan kualitas hidup pasien secara berkelanjutan.
SWOR memiliki sejumlah keunggulan yang membedakannya dari alat rehabilitasi konvensional yang saat ini beredar di pasaran. Selain itu, pengembangan SWOR 2.0 juga menunjukkan berbagai peningkatan dibandingkan pengembangan awal SWOR 1.0, baik dari aspek sistem terapi, desain alat, integrasi teknologi, maupun fleksibilitas penggunaan. Adapun keunggulan inovasi SWOR 2.0 antara lain sebagai berikut:
SWOR 2.0 dilengkapi dengan dua metode terapi, yaitu aktif dan pasif, yang dirancang untuk menyesuaikan tahapan rehabilitasi pasien secara bertahap dan berkelanjutan. Pada metode aktif, pasien menggerakkan lengannya secara mandiri tanpa bantuan sistem penggerak untuk melatih kekuatan otot, fleksibilitas sendi, serta koordinasi gerakan. Sementara itu, pada metode pasif, pergerakan lengan dibantu oleh sistem mekanik dan motorik sehingga sangat membantu pasien pada fase awal pemulihan ketika kemampuan gerak masih terbatas.
Pengembangan SWOR 2.0 menghadirkan peningkatan signifikan dibandingkan SWOR 1.0. Pada SWOR 1.0, sistem penggerak mode pasif masih menggunakan motor servo yang memiliki keterbatasan daya sehingga belum mampu menopang dan mengangkat beban lengan pasien secara optimal. Pada generasi 2.0, sistem penggerak telah menggunakan motor stepper dengan gearbox yang memiliki torsi lebih besar, sehingga pergerakan terapi menjadi lebih stabil, presisi, dan mampu mendukung latihan pasif dengan lebih efektif. Keunggulan ini menjadikan SWOR lebih adaptif dibandingkan alat rehabilitasi konvensional yang umumnya hanya mendukung metode latihan aktif.
SWOR dilengkapi dengan sistem monitoring berbasis digital yang mampu menampilkan data terapi secara real-time, seperti sudut pergerakan, kecepatan, dan durasi latihan. Fitur ini memberikan kemudahan bagi tenaga medis dalam melakukan evaluasi perkembangan pasien secara obyektif dan terukur. Hal ini menjadi keunggulan dibandingkan dengan alat rehabilitasi yang beredar di pasaran, yang pada umumnya masih bersifat manual, tidak dilengkapi sistem pemantauan, serta hanya mengakomodasi metode terapi aktif dengan harga yang relatif tinggi.
SWOR 2.0 dirancang dengan memperhatikan aspek ergonomi dan kebutuhan individual pasien, sehingga berbagai komponen seperti tinggi shoulder (bahu), panjang pegangan, serta tingkat resistansi dapat disesuaikan dengan kondisi pengguna. Penyesuaian ini memungkinkan terapi dilakukan secara lebih nyaman, aman, dan efektif sesuai kondisi fisik pasien.
Pada pengembangan SWOR 1.0, desain alat masih bersifat statis karena pemasangan dilakukan dengan menempel pada dinding sehingga mobilitas alat menjadi terbatas dan sulit dipindahkan. Selain itu, pengaturan tinggi shoulder masih dilakukan secara manual dengan jarak antar lubang pengunci sekitar 10 cm, sehingga penyesuaian posisi bahu belum dapat dilakukan secara presisi. Pada SWOR 2.0, sistem pengaturan tinggi shoulder telah dikembangkan menjadi lebih fleksibel dan akurat sehingga mampu menyesuaikan posisi terapi secara lebih optimal sesuai postur pasien. Desain terbaru juga dibuat lebih ergonomis dan portabel sehingga alat lebih mudah digunakan di berbagai fasilitas layanan kesehatan.
Efisiensi Biaya
Dibandingkan dengan alat rehabilitasi bahu konvensional di pasaran yang memiliki harga relatif tinggi dan umumnya hanya mendukung metode terapi aktif, SWOR 2.0 hadir sebagai solusi yang lebih ekonomis dengan fitur yang lebih lengkap. Pengembangan SWOR 1.0 masih menggunakan komponen sederhana seperti motor servo sehingga biaya pembuatan relatif lebih rendah dan masih berada pada tahap prototipe awal.
Pada SWOR 2.0, sistem penggerak telah menggunakan motor stepper gearbox dengan kemampuan torsi yang lebih besar untuk menopang beban lengan pasien secara optimal. Meskipun terdapat peningkatan spesifikasi dan performa alat, biaya pengembangan SWOR tetap lebih terjangkau dibandingkan alat rehabilitasi sejenis di pasaran. Dengan demikian, SWOR mampu memberikan keseimbangan antara efisiensi biaya, kualitas terapi, dan kelengkapan fitur rehabilitasi.
| Nama | : | Farhan Nafsi Zein Abadan |
| Alamat | : | Ds Baleadi Sono Rt 1 rw 2 Sukolilo Pati |
| No. Telepon | : | 081327144068 |