Kontaminasi mikroorganisme masih menjadi tantangan utama dalam menjaga mutu dan keamanan pangan, sementara penggunaan pengawet sintetis seperti boraks dan formalin berisiko terhadap kesehatan. Sebagai alternatif, purwaceng (Pimpinella pruatjan) yang kaya senyawa bioaktif (flavonoid, fenolik, minyak atsiri, saponin, dan alkaloid) berpotensi dimanfaatkan sebagai agen antibakteri alami, namun sifatnya kurang stabil terhadap faktor lingkungan. Penelitian ini menggunakan teknologi enkapsulasi dengan natrium silikat (Na?SiO?) berbasis limbah sekam padi untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas bioaktif purwaceng. Uji daya serap menunjukkan nilai maksimum 142,7% pada menit ke-10 dan menurun menjadi 134,0% pada menit ke-50, sedangkan uji antibakteri dengan metode kertas saring terhadap Bacillus spp. memperlihatkan terbentuknya zona hambat pada rasio silika:purwaceng 30:70, yang menegaskan aktivitas antibakteri tetap terjaga setelah enkapsulasi. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi purwaceng dan natrium silikat berbasis sekam padi berpotensi menjadi inovasi pengawetan pangan yang aman, ramah lingkungan, dan mendukung pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan.
Kontaminasi mikroorganisme merupakan salah satu masalah utama dalam ketahanan dan keamanan pangan. Keberadaan mikroba patogen maupun perusak tidak hanya menurunkan kualitas sensori dan nutrisi, tetapi juga berpotensi menimbulkan keracunan pada konsumen. Oleh karena itu, pengawetan pangan menjadi langkah penting untuk memperpanjang umur simpan sekaligus mempertahankan mutu bahan pangan (Dewi, 2019). Namun, pada praktiknya masih ditemukan penggunaan bahan pengawet non-pangan seperti boraks dan formalin terutama di kalangan industri skala rumah tangga, yang dapat menimbulkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat. Pemanfaatan senyawa bioaktif alami dengan aktivitas antibakteri dinilai sebagai alternatif yang lebih aman bagi konsumen sekaligus ramah lingkungan untuk menggantikan pengawet sintetis.
Purwaceng (Pimpinella pruatjan) merupakan tanaman endemik Indonesia yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif dengan aktivitas antibakteri alami (Zengin et al., 2020). Komponen yang telah teridentifikasi antara lain flavonoid, fenolik, saponin, alkaloid, dan minyak atsiri (Nurcahyanti et al., 2016). Flavonoid dan senyawa fenolik bekerja dengan cara merusak integritas membran sel bakteri serta menghambat enzim metabolik, sedangkan minyak atsiri golongan terpenoid dapat menyebabkan kebocoran membran sel dan lebih efektif terhadap bakteri Gram positif. Saponin berperan sebagai surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan dinding sel bakteri, sementara alkaloid diduga mengganggu sintesis protein dan interaksi dengan DNA mikroba (Timotius et al., 2023). Kandungan senyawa tersebut menjadikan purwaceng kandidat potensial untuk dikembangkan sebagai agen antibakteri alami dalam pengawetan pangan.
Meskipun demikian, senyawa bioaktif pada purwaceng memiliki keterbatasan dalam hal stabilitas, kelarutan, dan daya simpan. Senyawa fenolik, flavonoid, maupun minyak atsiri cenderung mudah terdegradasi akibat paparan cahaya, suhu tinggi, oksidasi, serta kondisi penyimpanan yang kurang ideal (Allo et al., 2022). Degradasi ini menyebabkan penurunan efektivitas antimikroba sehingga aplikasinya dalam sistem pangan menjadi kurang optimal. Enkapsulasi menjadi salah satu strategi efektif untuk mengatasi hal tersebut, karena mampu melindungi senyawa bioaktif dari kerusakan lingkungan, meningkatkan bioavailabilitas, serta memungkinkan pelepasan terkendali dari komponen aktif selama proses penyimpanan (Kamble et al., 2025). Dengan demikian, teknologi enkapsulasi tidak hanya memperpanjang umur simpan senyawa aktif tetapi juga meningkatkan efektivitas penggunaannya dalam pengawetan pangan.
Natrium silikat (Na?SiO?) merupakan salah satu bahan enkapsulan yang dapat digunakan dan dapat diperoleh dari limbah sekam padi, yang mengandung silika hingga sekitar 20% (Trivana et al., 2015). Pemanfaatan natrium silikat berbasis limbah sekam padi tidak hanya efektif sebagai bahan pelindung senyawa bioaktif, tetapi juga mendukung upaya pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan. Oleh karena itu, integrasi purwaceng sebagai antibakteri alami dengan natrium silikat berbasis sekam padi sebagai bahan enkapsulan berpotensi menjadi teknologi inovatif dalam pengawetan pangan yang lebih aman sekaligus ramah lingkungan.
| Nama | : | Iba Sanubari |
| Alamat | : | Dusun Temanggung, Desa Winongsari RT15/RW03, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo |
| No. Telepon | : | 083833393499 |