Inovasi teknologi berperan penting dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor Perikanan, terutama pada usaha budidaya ikan berukuran kecil dan menengah. Salah satu kendala yang dihadapi para petani ikan di Kota Tegal adalah keseragaman kualitas pelet ikan apung yang masih kurang memadai serta proses produksi yang belum mencapai tingkat optimal. Hal ini memengaruhi pertumbuhan ikan dan menyebabkan biaya pakan menjadi sangat tinggi.
Metode yang diterapkan mencakup proses perancangan teknis, pembuatan cetakan, serta pengujian kemampuan Mesin Extruder.
Hasil pengujian Inovasi menunjukkan bahwa pengubahan pada Mesin Pencetak mampu meningkatkan kualitas pelet ikan apung.
Peningkatan tersebut tercermin dari tingkat keseragaman ukuran pelet yang lebih baik, peningkatan kemampuan pelet untuk mengapung, serta peningkatan efisiensi dalam proses produksi. Selain itu, Mesin Extruder yang menggunakan dies yang telah dimodifikasi lebih mudah digunakan oleh para petani ikan dan tidak membutuhkan biaya perawatan yang besar.
Inovasi ini diharapkan bisa diterapkan secara luas oleh para petani ikan di Kota Tegal sebagai bentuk solusi teknologi yang tepat sasaran. Implementasi inovasi ini memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi usaha budidaya ikan, mengurangi pengeluaran untuk pembuatan pakan, serta memperkuat pertumbuhan sektor Perikanan lokal yang ramah lingkungan.
Kota Tegal merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Tengah yang berada di barat laut dan terletak di pantai utara pulau Jawa. Secara astronomis terletak pada 109004’28” sampai 109009’41” garis Bujur Timur dan 06050’21” sampai 06054’00” garis Lintang Selatan, dan secara geografis terletak pada pertigaan jalur Purwokerto – Jakarta dan Semarang – Jakarta. Terletak di Pantai Utara Jawa Tengah, Kota Tegal merupakan Kota Bahari. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bahari berarti mengenai laut atau segala sesuatu yang berhubungan dengan laut. Alasan Tegal menjadi Kota Bahari tentu berkaitan Wilayah Tegal terletak di Kawasan Pesisir Utara Jawa Tengah, berbatasan dengan Pemalang, Brebes, dan Slawi. Kota Tegal menghadap Laut Jawa di sebelah Utara, kehidupan di Kota Tegal tidak dapat dipisahkan dari sektor kelautan. Budidaya tambak ikan menjadi salah satu penunjang perekonomian masyarakat khususnya di wilayah pesisir kota tegal.
Pembudidaya ikan sering menghadapi permasalahan, yaitu tingginya harga pakan komersial, karena mereka masih mengandalkan suplai pakan dari pabrikan, hal ini menyebabkan ketidakseimbangan pendapatan yang diperoleh pembudidaya ikan dengan biaya produksi yang dikeluarkan, mengingat lebih dari 60% dari total biaya produksi bersumber dari biaya pakan (Nikhlani dkk., 2022).
Salah satu usaha yang dilakukan untuk menghemat biaya produksi ini adalah dengan merancang alat produksi yang mampu menghasilkan produk pakan pelet. Pada proses pengolahan pelet ini diperlukan satu alat pencetak yang digunakan untuk memproduksi atau membentuk suatu adonan untuk dijadikan makanan ternak berbentuk pelet dengan ukuran yang sudah ditentukan. Mesin pencetak pelet sangat bagus dan efisien untuk memproduksi pakan ternak dalam bentuk silinder (Nugroho dkk., 2019).
Oleh karena itu, Berdasarkan permasalahan yang ada maka diperlukan inovasi terhadap kemandirian para petani ikan terhadap harga pakan ikan pabrik yang semakin mahal dengan judul ”Inovasi Teknologi tepat guna mesin pencetak pelet apung: upaya strategi menekan biaya produksi peternak ikan di kota tegal bahari melalui pakan mandiri” sehingga dapat menghasilkan pelet dengan kualitas lebih baik Sehingga menghemat waktu dan biaya produksi.
Mesin Extruder pencetak pelet apung ini sudah dirancang oleh Syarifudin dkk., pada tahun 2022 di Politeknik Harapan Bersama Kota Tegal, Namun hasil dari pakan ikan yang dihasilkan oleh mesin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dimana pakan ikan tersebut tidak padat dengan sempurna sehingga pakan ikan tidak berhasil untuk mengapung (Tahapali dkk., 2019).
Pada tahun 2024 dilakukan modifikasi desain rancangan mesin extruder pakan ikan apung, pada proses ekstrusi terjadi peristiwa transfer (conveying) bahan pelet dari satu titik ke titik lain menggunakan ulir (Screw), kemudian pelelehan dan penekanan. Secara prinsip bahan pelet masuk dalam wadah (hoper) kemudian dibawa oleh ulir sambil mengalami proses pelelehan. Panas berasal dari kumparan yang dipasang di sekeliling ulir. Begitu pergerakan bahan menuju ujung, terjadi kenaikan tekanan karena bahan pelet melalui lubang kecil sedangkan dari belakang ulir terus bergerak menekan hingga keluar melewati Molding untuk dicetak menjadi pelet. Dalam hal ini terjadi perpaduan campuran bahan saat pelaksanaan extruding bahan yang keluar mempunyai spesifikasi yang khusus. Dengan demikian tujuan ekstrusi diantaranya adalah untuk mendapatkan pelet yang berbeda spesifikasi dengan yang lainnya, tertutama bisa bertahan di permukaan air (mengapung).
Keunggulan pada inovasi ini terletak pada modifikasi alat serta manfaat yang menjawab solusi keresahan masyarakat budidaya ikan mengenai harga pakan ikan pabrik yang relatf lebih tinggi.
Gambar 1.1 Perbandingan hasil akhir desain
Gambar 1.1 di atas menunjukkan hasil akhir dari desain mesin extruder pembuat pakan ikan apung. Perubahan desain ini dilakukan karena mesin produksi sebelumnya menghasilkan kualitas produk yang kurang memuaskan. Yang sudah dilengkapi sistem pemanas otomatis yang membuat hasil pelet lebih lama mengampung di air.
Gambar 1.2 Hasil assembly alat extruder
Berikut merupakan hasil akhir dari alat extruder antara desain awal dan desain terkini, perbedaan yang paling menonjol adalah panjang dan lebar dari kedua desain tersebut, panjang awal berada pada angka 936.90 mm dan panjang pada desain baru ialah 1079.10 mm, lebar dari desain extruder awal 168 mm ditambah dengan dudukan yang menyatu menjadi 440 mm sedangkan pada desain terkini memiliki lebar 280 mm, lebar dan panjang terhitung dari seluruh komponen, selain itu perbedaan juga terdapat pada bagian dalam dari alat extruder, seperti pada bagian tabung, screw dan dies.
Gambar 1.13 Bagian dalam extruder
Seperti pada gambar diatas terdapat perbedaan pada bagian akhir, antara dies dan screw, pada screw desain awal tidak memiliki mata pemadat pada bagian ujung, sedangkan pada desain baru screw tersebut memiliki mata ujung pada screw, mata ujung tersebut memiliki fungsi untuk memadatkan adonan, dimana adonan tersebut dapat ditekan dengan dibantu oleh hopper yang terdapat pada dies desain baru, sehingga hasil yang keluar dari lubang dies bisa lebih padat dan dapat mengapung dengan baik.
| Nama | : | MUHAMMAD MAULALHUDA |
| Alamat | : | JL. KEMUNING GG1 NO 40 RT02 RW06 SLEROK TEGAL JAWA TENGAH |
| No. Telepon | : | 087873899767 |