Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut pembelajaran yang terintegrasi antara literasi, karakter, keberlanjutan lingkungan, dan kecakapan finansial. Sejalan dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045 serta program prioritas Kemendikdasmen, satuan pendidikan dituntut menghadirkan inovasi berbasis data yang berdampak nyata. Berdasarkan Rapor Pendidikan SD Negeri 01 Wiradesa, budaya literasi masih berada pada kategori sedang dengan skor pemahaman bacaan 60, serta karakter kemandirian pada angka 60. Selain itu, pembelajaran belum sepenuhnya kontekstual, sementara potensi minyak jelantah rumah tangga belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran ekologis.
Sebagai solusi, dikembangkan inovasi BAKAL DIGI (Bank Karakter, Lingkungan, dan Literasi Digital), yaitu model ekosistem pendidikan terintegrasi berbasis tabungan poin terdigitalisasi. Inovasi ini menggabungkan Tabungan Literasi melalui program SPIL BEB, Tabungan Lingkungan Karakter melalui pengolahan minyak jelantah, serta Tabungan Finansial Digital dalam satu sistem transparan dengan dashboard monitoring real-time.
Keunggulan utama inovasi ini terletak pada penguatan jiwa ecopreneurship melalui pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dan sabun cair bernilai jual. Murid tidak hanya belajar secara teoretis, tetapi juga memahami siklus produksi, pemasaran, serta hubungan antara kerja, pendapatan, dan perencanaan keuangan.
Hasil implementasi selama satu semester menunjukkan peningkatan literasi dari skor 60 menjadi 84 (±23,5%), peningkatan literasi finansial sebesar 30%, serta partisipasi 85% murid dalam pengelolaan jelantah. Selain itu, terjadi penguatan karakter kemandirian dan tanggung jawab. Dengan demikian, BAKAL DIGI menjadi model pembelajaran kontekstual, ekologis, dan produktif berbasis data yang berpotensi direplikasi sebagai prototipe pendidikan dasar menuju generasi unggul dan berjiwa ecopreneur.
Keynote: Transformasi Pendidikan, Literasi, Karakter, Ekonomi Sirkular, Ecopreneurship, Literasi Finansial, Digitalisasi Sekolah.
Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut pembelajaran yang tidak lagi berjalan secara parsial, tetapi terintegrasi antara literasi, karakter, keberlanjutan lingkungan, dan kecakapan finansial dalam satu ekosistem yang utuh. Sekolah dasar sebagai fondasi pembentukan generasi masa depan memiliki peran strategis dalam menanamkan budaya baca, membangun kemandirian, serta menumbuhkan kesadaran ekologis dan finansial sejak dini.¹
Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi prioritas nasional. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan generasi yang literat, berkarakter, adaptif, dan produktif.² Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pun menetapkan program prioritas penguatan literasi dan numerasi, pembiasaan karakter, serta digitalisasi sekolah sebagai strategi transformasi pendidikan yang berbasis data dan berdampak nyata.³
Namun implementasi kebijakan tersebut di tingkat satuan pendidikan masih menghadapi tantangan. Berdasarkan analisis Rapor Pendidikan SD Negeri 01 Wiradesa, capaian literasi membaca berada pada skor 60 (kategori sedang) dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa budaya literasi belum sepenuhnya mengakar secara intrinsik. Secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan praktik sosial yang bermakna ketika terhubung dengan konteks kehidupan nyata peserta didik.?
Sumber : Survey Pretest Literasi
1Lukman. “Membentuk Generasi Unggul Melalui Pendidikan Karakter, Literasi dan Inovasi Menuju Indonesia Emas 2045.” Juara SD: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol. 4 No. 3 (2025).
2Pemerintah Republik Indonesia. Dokumen Visi Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045.
3Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. “Kebijakan Penguatan Literasi dan Karakter dalam Transformasi Pendidikan Dasar.” Jurnal Kebijakan Pendidikan Indonesia Vol. 2, No. 1 (2024): 1–15.
4Street, Brian V. “What’s ‘New’ in New Literacy Studies? Critical Approaches to Literacy in Theory and Practice.” Current Issues in Comparative Education Vol. 5, No. 2 (2003): 77–91.
Kegiatan membaca yang masih bersifat rutinitas administratif tanpa refleksi dan monitoring terdigitalisasi menyebabkan dampaknya belum optimal.
Pada aspek karakter, indikator kemandirian berada pada angka 60, menunjukkan perlunya penguatan tanggung jawab, disiplin, dan inisiatif murid. Pendidikan karakter yang efektif harus mencakup dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral action agar nilai tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menjadi kebiasaan nyata.? Namun mekanisme pencatatan dan evaluasi karakter di sekolah belum terintegrasi secara sistematis.
Sumber : Survey Pretest Karakter
Di sisi lain, permasalahan lingkungan seperti minyak jelantah rumah tangga yang belum terkelola dengan baik menyimpan potensi sebagai sumber pembelajaran berbasis ekonomi sirkular. Konsep ekonomi sirkular menekankan pemanfaatan kembali sumber daya untuk menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.? Minyak jelantah yang berisiko mencemari lingkungan dapat diolah menjadi produk bernilai guna seperti lilin aromaterapi dan sabun cair, sehingga menjadi media pembelajaran ekologis yang kontekstual dan produktif.
Kondisi tersebut juga berdampak pada literasi finansial murid yang masih bersifat administratif. Padahal literasi finansial sejak dini berperan penting dalam membentuk perilaku ekonomi yang sehat di masa depan.
5Lickona, Thomas. “The Return of Character Education.” Educational Leadership Vol. 51, No. 3 (1993): 6–11.
6Kirchherr, Julian, et al. “Conceptualizing the Circular Economy: An Analysis of 114 Definitions.” Resources, Conservation & Recycling Vol. 127 (2017): 221–232.Lusardi, Annamaria, Olivia S. Mitchell, and Vilsa Curto.
Penelitian Lusardi, Mitchell, dan Curto menunjukkan bahwa rendahnya literasi finansial pada usia muda berkorelasi dengan lemahnya kebiasaan menabung dan perencanaan jangka panjang.? Integrasi pembelajaran berbasis produksi dan kewirausahaan sederhana dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk kemandirian finansial sekaligus menumbuhkan jiwa ecopreneurship.
Melihat tantangan sekaligus potensi tersebut, diperlukan sebuah inovasi yang mampu mengintegrasikan literasi, karakter, kepedulian lingkungan berbasis ecoprenuership, dan literasi finansial dalam satu sistem yang aplikatif, terukur, dan terdigitalisasi. Sistem tersebut harus mentransformasi pusat literasi produktif, mengubah permasalahan lingkungan menjadi peluang pembelajaran, serta menghubungkan hasilnya dengan pembiasaan finansial murid secara nyata.
Berdasarkan kebutuhan inilah dikembangkan sebuah Inovasi dengan Judul “Dari Jelantah Menjadi Berkah: Inovasi Aplikasi BAKAL DIGI dalam Mengintegrasikan Literasi, Karakter, dan Ecoprenuership di Sekolah Dasar”. BAKAL DIGI (Bank Karakter, Lingkungan, dan Literasi Digital) sebagai model ekosistem pendidikan terintegrasi berbasis tabungan poin terdigitalisasi. Melalui integrasi Tabungan Literasi SPIL BEB, Tabungan Lingkungan Karakter berbasis pengolahan minyak jelantah, serta Tabungan Finansial Digital dengan dashboard monitoring real-time, BAKAL DIGI hadir sebagai solusi sistemik untuk meningkatkan literasi, memperkuat karakter kemandirian, menumbuhkan jiwa ecopreneurship, serta membangun kesadaran finansial murid secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan skor akademik, tetapi juga pada pembentukan generasi yang literat, berkarakter, produktif, dan adaptif terhadap tantangan ekonomi dan lingkungan masa depan.
7“Financial Literacy among the Young.” Journal of Consumer Affairs Vol. 44, No. 2 (2010): 358–380.
Keunggulan utama BAKAL DIGI terletak pada kemampuannya mentransformasikan minyak jelantah menjadi dua produk legal dan bernilai ekonomi, yaitu lilin aromaterapi ramah lingkungan dan sabun cair cuci tangan, yang telah memiliki izin usaha. Inilah diferensiasi paling kuat dibandingkan program literasi atau kegiatan lingkungan konvensional yang umumnya bersifat simbolik dan berhenti pada tahap edukasi tanpa hilirisasi produk.
Melalui sistem Tabungan Lingkungan Karakter, minyak jelantah tidak hanya dikumpulkan, tetapi diolah secara terstruktur melalui proses penyaringan, pemurnian, pencampuran bahan aman, hingga pengemasan kreatif oleh murid. Produk yang dihasilkan memiliki identitas merek, legalitas usaha, serta dapat dipasarkan secara nyata. Dengan demikian, inovasi ini naik kelas dari sekadar praktik kelas menjadi model real production based learning yang berkelanjutan.
Perbedaan mendasar BAKAL DIGI dibandingkan program sejenis adalah integrasi utuh antara produksi, literasi, karakter, dan sistem tabungan digital. Hasil penjualan produk langsung terhubung ke Tabungan Finansial Digital murid, sehingga mereka mengalami siklus ekonomi secara lengkap: mengidentifikasi masalah, menciptakan nilai tambah (value creation), memasarkan produk, hingga mengelola pendapatan. Inilah praktik nyata ecopreneurship di tingkat sekolah dasar.
Keunggulan lainnya adalah sistem yang terukur, terdigitalisasi melalui Canva Code, berbiaya rendah, serta mudah direplikasi oleh sekolah lain. Legalitas produk menjadi bukti kesiapan inovasi untuk berkembang lebih luas dan memberi dampak ekonomi riil, bukan sekadar simulasi pembelajaran.
Dengan demikian, BAKAL DIGI tidak hanya mengajarkan literasi atau kepedulian lingkungan, tetapi membangun model pendidikan integratif yang menghasilkan produk legal, bernilai jual, dan berdampak ekonomi, sebuah inovasi yang aplikatif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing nyata.
| Nama | : | Atika Rohmawati |
| Alamat | : | Desa Wiradesa, Gg Alislah, RT 08 RW 02 Kec. Wiradesa Kabupaten Pekalongan 51152 Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | 082133852151 |