Permasalahan sampah di Kabupaten Pekalongan menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, dengan timbulan sampah yang pada 2022 mencapai 142.569,58 ton dan pada 2024 diperkirakan naik menjadi sekitar 147.078 ton per tahun. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem pengelolaan sampah yang masih dominan menggunakan pola kumpul-angkut-buang belum cukup efektif dalam menekan pencemaran lingkungan. Menjawab persoalan tersebut, dikembangkan inovasi Eco Cuan, yaitu sistem pengelolaan sampah berbasis digital yang mengintegrasikan edukasi pemilahan, penyetoran sampah, pencatatan transaksi, dan konversi nilai sampah menjadi saldo ekonomi secara transparan. Inovasi ini telah diinisiasi oleh pemuda Dusun Bojongireng, Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran, dan mulai diterapkan pada dua RT sebagai wilayah operasional awal. Melalui sistem ini, masyarakat didorong untuk memilah sampah dari rumah, menyetorkannya melalui posko atau layanan jemput, lalu memperoleh insentif ekonomi secara real time. Eco Cuan juga didukung fitur digital seperti ringkasan akun pengguna, pencatatan setoran, laporan operasional, manajemen harga sampah, serta approval penarikan saldo, sehingga proses pengelolaan menjadi lebih efisien, akuntabel, dan mudah dipantau. Selain memberi manfaat lingkungan melalui pengurangan sampah yang berakhir di TPA, Eco Cuan juga membuka peluang ekonomi berbasis komunitas dan mendukung model ekonomi sirkular di tingkat desa. Dengan dukungan pemerintah desa dan potensi integrasi ke dalam BUMDes, Eco Cuan memiliki peluang untuk berkembang sebagai solusi pengelolaan sampah digital yang berkelanjutan di Kabupaten Pekalongan

Permasalahan sampah merupakan salah satu tantangan lingkungan yang semakin kompleks, terutama di Kabupaten Pekalongan yang mengalami peningkatan timbulan sampah seiring bertambahnya penduduk, aktivitas ekonomi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Kebiasaan menggunakan produk sekali pakai dan kemasan plastik turut memperbesar jumlah sampah anorganik yang sulit terurai secara alami. Berdasarkan RPJPD Kabupaten Pekalongan 2025–2045, timbulan sampah pada periode 2018–2022 meningkat 9,5% dan mencapai 142.569,58 ton pada 2022, lalu pada 2024 diperkirakan telah mencapai sekitar 147.078 ton per tahun. Data ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi masalah kecil, melainkan isu strategis yang perlu ditangani secara serius melalui inovasi dan kebijakan yang tepat.

Beban pengelolaan sampah tersebut juga berdampak pada kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bojong Larang yang menjadi lokasi pembuangan utama di Kabupaten Pekalongan. Sistem pengelolaan yang masih didominasi pola kumpul-angkut-buang membuat sebagian besar sampah langsung berakhir di TPA tanpa pemilahan dari sumbernya. Akibatnya, muncul dampak lingkungan seperti bau tidak sedap, potensi pencemaran air lindi, serta gangguan kenyamanan masyarakat sekitar, bahkan memicu penolakan warga terhadap keberadaan TPA tersebut. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyentuh aspek sosial, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.

Di sisi lain, tantangan pengelolaan sampah juga berkaitan dengan perilaku masyarakat. Banyak warga sebenarnya menginginkan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi belum semuanya terbiasa memilah sampah secara konsisten. Sampah organik dan anorganik masih sering dicampur karena dianggap lebih praktis, padahal sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Rendahnya partisipasi masyarakat juga dipengaruhi oleh kurang tersedianya sistem yang mudah diakses, transparan, dan memberi manfaat langsung. Karena itu, diperlukan pendekatan baru yang tidak hanya mengajak masyarakat peduli lingkungan, tetapi juga memberi dorongan nyata agar kebiasaan memilah sampah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan kondisi tersebut, lahirlah inovasi Eco Cuan sebagai sistem bank sampah berbasis digital yang mulai diimplementasikan sejak awal Februari 2026 oleh Tim Pemuda Dusun Bojongireng, Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran. Eco Cuan dirancang untuk mengubah sampah rumah tangga, khususnya sampah anorganik, menjadi sumber nilai ekonomi melalui mekanisme penyetoran, pencatatan digital, dan konversi saldo otomatis. Sistem ini juga menyediakan fitur edukasi, layanan jemput sampah, manajemen rekening pengguna, laporan operasional, hingga approval penarikan saldo. Dengan model seperti ini, Eco Cuan diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah, mengurangi pencemaran lingkungan, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih transparan, efisien, dan berkelanjutan.

Nama :
Alamat :
No. Telepon :