Kemasan styrofoam sangat banyak digunakan oleh masyarakat. Kemasan styrofoam biasanya hanya dipakai satu kali kemudian dibuang menjadi sampah anorganik. Penggunaan dalam jumlah banyak membawa dampak yaitu meningkatnya jumlah sampah dari styrofoam di lingkungan. Sampah styrofoam yang bersifat anorganik sulit terurai di alam. Sampah styrofoam banyak yang dibuang ke sungai hingga terbawa ke laut, hal ini menjadi perairan menjadi tercemar. Selain itu, sampah styrofoam jika dibakar dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan karena asap hasil pembakaran mengandung senyawa yang bersifat berbahaya jika terhirup.
Biodegradable foam (biofoam) adalah kemasan alternatif pengganti dari styrofoam yang terbuat dari bahan pati dan serat. Biasanya biofoam terbuat dari campuran bahan alami. Bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan biofoam yaitu daun jambu air dan enceng gondok. Daun jambu air banyak ditemui di daerah Demak karena tanaman jambu air banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Daun jambu air banyak terbuang sia-sia, biasanya dibuang di sungai atau dibakar. Enceng gondok banyak ditemukan di sungai- sungai daerah Demak. Perkembangan enceng gondok yang sangat cepat membawa dampak seperti mengganggu kebersihan sungai, mengganggu estetika, menghambat laju air sungai dan menyebabkan banjir.
Pembuatan biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok sangat mudah dan prosesnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok sangat potensial dikembangkan di Demak karena ketersediaan bahan baku yang berlimpah dan di sisi lain dapat mengurangi sampah organik yang ada, mengurangi sampah styrofoam serta menjadikan produk biofoam menjadi produk kemasan khas daerah yang ramah lingkungan.
Styrofoam menjadi salah satu kemasan favorit untuk makanan siap saji, bahan mentah dan bahan siap olah yang digunakan oleh masyarakat. Dalam penggunaannya, styrofoam memiliki dampak bagi kesehatan dan lingkungan. Styrofoam umumnya digunakan sekali pakai kemudian dibuang. Sampah styrofoam ketika dibuang di sungai dapat mengotori sungai, menghambat laju aliran sungai dan menyebabkan banjir.
Ketika sampah styrofoam dibakar, zat kimia dari hasil pembakaran tersebut juga berbahaya jika terhirup. Mengingat penggunaan styrofoam yang berbahaya dan tidak ramah lingkungan karena tidak bisa terurai di alam, dikembangkan produk alternatif pengganti styrofoam yaitu biodegradable foam atau yang sering disebut biofoam. Biodegradable foam (biofoam) adalah kemasan alternatif pengganti dari styrofoam yang terbuat dari bahan utama pati dan serat.
Jambu air merupakan salah satu komoditi unggulan dari wilayah kabupaten Demak. Jambu air menjadi salah satu favorit oleh-oleh yang khas dari Demak. Tanaman jambu air yang dibudidayakan hanya mengambil bagian buah saja, sedangkan untuk bagian daun jambu air tidak dimanfaatkan. Daun jambu air yang sudah kering biasanya hanya dibuang begitu saja atau dibakar. Oleh karena itu, perlu adanya pemanfaatan daun jambu air agar lebih bermanfaat dan memberikan nilai guna bagi masyarakat.
Kabupaten Demak memiliki banyak sungai pada setiap daerah. Enceng gondok merupakan tanaman air yang sangat cepat berkembang biak. Keberadaan enceng gondok banyak ditemui di sungai dan perkembang biakannya sangat cepat. Enceng gondok termasuk tanaman gulma yang memiliki kemampuan tumbuh dan berkembang menjadi padat dengan cepat. Enceng gondok menjadi salah satu limbah sungai yang keberadaannya mengganggu aliran sungai dan dapat menyebabkan pendangkalan sungai. Sampah organik dalam bentuk daun jambu air dan enceng gondok kering dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut menjadi sebuah produk yang memiliki nilai guna dan memiliki nilai jual menjadi biofoam. Biofoam dapat menjadi wadah alternatif ramah lingkungan karena dibuat dari bahan alami yang dapat mudah ditemui, renewable (terbarukan) dan mudah terurai di alam.
Produksi biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok relatif murah dan ekonomis. Bahan utama yang dibutuhkan bisa diperoleh dengan gratis ataupun jikalau membeli, dapat dibeli dengan harga yang murah. Ketersediaan bahan sangat berlimpah dan tidak mengenal musim. Daun jambu air selalu tersedia karena banyak dibudidayakan tanaman jambu air di sekitar, sedangkan enceng gondok banyak ditemukan di sungai dan perkembangbiakan enceng gondok di sungai sangat cepat. Dalam proses produksi biofoam ini tidak memerlukan alat yang rumit dan mahal. Pembuatannya dapat dilakukan dengan massal dalam waktu relatif cepat.
Biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok merupakan kemasan alternatif yang ramah lingkungan karena diolah dari limbah organik dari sumber daya terbarukan yang ada di sekitar. Biofoam ini dapat dengan mudah diurai (terdegradasi) di tanah. Biofoam jika direndam dalam air selama 4 hari, bentuknya dapat rapuh dengan sendirinya tanpa perlu proses tambahan. Proses pembuatan biofoam menggunakan tambahan bahan kimia yang aman bagi manusia. Hal ini menjadikan biofoam lebih aman untuk digunakan manusia dan sampah biofoam juga aman bagi lingkungan.
Biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok juga mudah dan dapat diproduksi secara lokal dengan bahan baku yang tersedia di sekitar, sehingga menjadi alternatif kemasan yang sangat bermanfaat. Keunggulan lainnya, terletak pada pemanfaatan bahan dari limbah yang ada dan ketersediaan bahan baku yang tidak dimanfaatkan sebelumnya.
Biofoam dari daun jambu air dan enceng gondok dapat diperbaharui dan diproduksi dalam waktu yang singkat, sehingga lebih memudahkan dalam proses produksi. Dalam proses produksi biofoam ini tidak memerlukan alat yang rumit dan mahal. Pembuatannya dapat dilakukan dengan massal dengan proses penyiapan bahan yang tidak lama. Biofoam ini juga memiliki nilai praktis, ringan dan mudah dibawa kemana saja serta memiliki bentuk dan ukuran bermacam-macam sesuai kebutuhan.
| Nama | : | Dini Nur Maulida |
| Alamat | : | Jl. Raya Buyaran Karangtengah Demak No Tlp. (0291) 685185 |
| No. Telepon | : | (0291) 685185 |