Indonesia merupakan negara dengan penyumbang limbah terbesar ke-5 di dunia dengan komposisi 60% dari sektor rumah tangga dan pertanian. Wonosobo yang merupakan bagian dari wilayah penghasil komoditas pertanian di Indonesia turut berkontribusi terhadap tingginya limbah organik dari limbah pertanian. Bedasarkan data dari Badan Pusat Statistik (Wonosobo, 2023) menyebutkan bahwa komoditas utama dari pertanian di Wonosobo adalah kubis dengan rata rata produksi tiap tahun sebesar 385.784,97 kuintal.
Kubis di Kabupaten Wonosobo juga memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika hasil panen tidak dapat habis dipasar secara maksimal. Peneliti beranggapan melalui adanya sebuah inovasi Kolabs yaitu penyerap kelembaban berbahan dasar limbah kubis, dapat menjadi solusi ramah. Tujuan dibuatnya Kolabs yaitu memanfaatkan limbah pertanian berupa kubis, menciptakan penyerap lembab alami yang ramah lingkungan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memahami pengamatan fenomena, dengan teknik observasi untuk mengumpulkan data dari hasil pengamatan. Penelitian ini berhasil menciptakan Kolabs sebagai produk berbasis limbah pertanian yang dapat diaplikasikan dalam berbagai barang, meliputi sepatu, lemari pakaian, dan ruangan.
Dengan demikian, Kolabs dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah pertanian dan menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil limbah terbesar dengan berada diperingkat ke-5 di dunia. Berdasarkan data dari (Kemenlhk, 2020) Indonesia melakukan penimbunan limbah sebesar 35.313.107,58 ton/ tahun. Didominasi oleh limbah organic sebesar 60%, yang berasal dari limbah rumah tangga dan pertanian. Limbah pertanian memberikan kontribusi besar terhadap limbah di Indonesia, hal ini ditunjukkan dengan sisa hasil panen, daun, batang, dan sayuran busuk (Asri, 2025).
Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu penghasil komoditas holtikultura di Indonesia hal ini dibuktikan dengan komoditas unggulannya seperti kubis, cabai keriting, kentang dan daun bawang. Bedasarkan data dari Badan Pusat Statistik (Wonosobo, 2023) menyebutkan bahwa komoditas utama dari pertanian di Wonosobo adalah kubis dengan rata rata produksi tiap tahun sebesar 385.784,97 kuintal.
Dari angka tersebut menunjukkan bahwa kubis merupakan salah satu komoditas utama yang berperan penting dalam mendukung perekonomian masyarakat setempat. Selain sebagai bahan pangan yang banyak dikonsumsi, keberadaan produksi kubis yang melimpah serta terdapat di semua musim memberikan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari sisi peningkatan kualitas hasil panen, pengelolaan distribusi maupun pemanfaatan hasil sampingnya.
Melimpahnya produksi kubis di Kabupaten Wonosobo juga memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika hasil panen tidak dapat habis dipasar secara maksimal. Dari hasil panen kubis, petani akan langsung melakukan distribusi ke pedagang di pasar, akan tetapi sebagian besar kubis yang tidak terjual akan mengalami penurunan kualitas hingga dibuang dan mengalami pembusukan. Hasil observasi di Pasar Induk Wonosobo menunjukkan hal yang sama, sejumlah 40 ruko yang menjual kubis dengan masing masing ruko dapat menghasilkan 3-4 buah kubis tidak layak jual tiap hari. Tumpukan kubis tidak layak jual menimbulkan berbagai permasalahan mulai dari pencemaran lingkungan, muncul bau tidak sedap hingga tempat berkembangnya organisme pembusuk. Selain itu, keberadaan limbah kubis juga mencerminkan adanya sumber daya yang tidak efisien, baik secara tenaga, lahan, dan biaya produksi.
Melihat besarnya potensi sekaligus permasalahan dari produksi kubis, diperlukan sebuah gagasan inovatif agar hasil samping dari limbah yang dihasilkan tidak dianggap sebagai beban, melainkan memberi nilai tambah. Inovasi pengolahan limbah pertanian termasuk kubis dapat dimanfaatkan agar lebih produktif, salah satunya sebagai bahan baku energi alternatif, pupuk organik, atau produk ramah lingkungan lainnya. Oleh karena itu, peneliti beranggapan melalui adanya sebuah inovasi Kolabs yaitu penyerap kelembaban berbahan dasar limbah kubis, dapat menjadi solusi ramah lingkungan.
Kolabs merupakan produk berbasis limbah pertanian yang dapat diaplikasikan dalam berbagai barang meliputi sepatu, lemari pakaian, dan berbagai ruangan. Mengurangi, menghilangkan bau dan meminimalisir pertumbuhan jamur merupakan manfaat dari Kolabs. Selain memanfaatkan limbah pertanian, produk ini menggunakan prinsip keberlanjutan sehingga dapat menjadi solusi yang ramah lingkungan dalam mengurangi limbah dan tidak berbahaya karena tidak mengandung bahan kimia.
Dengan demikian, penggunaan Kolabs membantu mengurangi dampak negative yakni dapat memanfaatkan limbah pertanian sehingga memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat.
| Nama | : | Nei She Queen Al-Najwa Hasan Zein |
| Alamat | : | SMA N 1 WONOSOBO Jl. T.Jogonegoro km.02 Wonosobo 56314 Wonosobo, Jawa Tengah |
| No. Telepon | : | 081224460092 |