ABSTRAK
Kontaminasi logam berat Kadmium (Cd), Timbal (Pb), dan Merkuri (Hg) dalam air konsumsi menimbulkan risiko serius bagi kesehatan. Cd bersifat karsinogenik merusak ginjal, Pb mengganggu perkembangan otak anak, sedangkan Hg merusak sistem saraf pusat. Di Indonesia, lebih dari 60% sungai di Pulau Jawa tercemar logam berat, termasuk Sungai Pelus di Jawa Tengah yang terdeteksi mengandung Cd dengan indeks kontaminasi tinggi. Metode deteksi konvensional memiliki kekurangan yaitu mahal, lama, dan tidak praktis untuk pemantauan lapangan secara real-time. Oleh karena itu, diperlukan teknologi pemantauan yang cepat, murah, dan ramah lingkungan.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sensor serat optik multi-ion berbasis nanopartikel perak hasil bioreduksi limbah kulit carica untuk mendeteksi Cd, Pb, dan Hg di air, sekaligus memanfaatkan limbah organik. Pembuatan sensor dilakukan dengan memodifikasi cladding POF komersial menggunakan lapisan tipis nanopartikel perak melalui metode deep coating. Karakterisasi ukuran partikel menggunakan uji Particle Size Analyzer (PSA). Karakterisasi sensor dilakukan dengan pengukuran intensitas keluaran menggunakan luxmeter dan dianalisis secara regresi linier.
Hasil pengujian menunjukkan nanopartikel perak hasil bioreduksi kulit carica memiliki distribusi partikel yang baik. Sensor memberikan respon linear terhadap Cd diperoleh sensitivitas 14,32 lx/mg/L (R²=99,69%), terhadap Hg 4,88 lx/mg/L (R²=94,63%), dan terhadap Pb 3,45 lx/mg/L (R²=87,51%). Sensor dirangkai menjadi perangkat digital berbasis mikrokontroler yang menampilkan konsentrasi ketiga logam secara real-time melalui layar LCD. Inovasi ini menghadirkan teknologi deteksi logam berat yang murah, praktis, dan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi limbah kulit carica serta mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Wonosobo dan Jawa Tengah.
Kata Kunci: Cd, Pb, Hg, Kulit Carica, Sensor Serat Optik, Green Synthesis
LATAR BELAKANG
Pencemaran air merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama di Indonesia. Salah satu penyebabnya air terkontaminasi logam berat hasil pengolahan limbah industri yang dibuang secara terbuka, kemudian menjadi krisis lingkungan yang terus meningkat seiring pesatnya industrialisasi. Kontaminasi ion logam berat yang dihasilkan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber air tersebut. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa 70,7% dari 1.482 sungai di Indonesia berada dalam kondisi tercemar sedang (Yahfadzka, 2025). Kondisi ini jauh lebih kritis di Pulau Jawa, di mana lebih dari 60% sungai telah terindikasi tercemar logam berat akibat limbah dari sektor tekstil, elektroplating, pertambangan, dan baterai (Prihatini et al., 2025). Tingginya tingkat pencemaran ini menjadikan pengendalian dan pencegahan paparan logam berat sebagai prioritas mendesak. Salah satu langkah yang melalui pengembangan dan pengaplikasian detektor logam berat yang mampu memastikan keamanan air konsumsi masyarakat secara cepat dan tepat.
Di antara berbagai logam berat pencemar air, Kadmium (Cd), Timbal (Pb), dan Merkuri (Hg) termasuk yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Cd sendiri bersifat karsinogenik dan merusak ginjal, serta paru-paru (Gad, 2024). Pb dapat mengganggu perkembangan otak dan kognitif anak-anak, di mana penelitian (Fitriani et.al., 2024) membuktikan bahwa 80% anak di lima wilayah Jawa memiliki kadar timbal darah melebihi ambang batas WHO. Sementara itu, Hg bersifat neurotoksik yang merusak sistem saraf pusat (Sheehan et al., 2014). Di Jawa Tengah sendiri, Sungai Pelus Kabupaten Banyumas terbukti tercemar Cd dengan indeks kontaminasi tinggi (Lukmanulhakim, Hidayati, & Baedowi, 2023). Sayangnya, metode deteksi pada umumnya seperti AAS memerlukan peralatan laboratorium mahal dan sulit dijangkau (Sihombing, 2010). Hal inilah mendorong perlunya inovasi alat deteksi logam berat Cd, Pb, dan Hg yang praktis, murah, dan dapat digunakan di lapangan dengan prinsip ramah lingkungan, biaya rendah, dan dapat dioperasikan di lapangan.
Kabupaten Wonosobo sendiri memiliki potensi sumber daya lokal berupa buah carica (Carica pubescens) yang melimpah, namun kulit carica selama ini hanya menjadi limbah organik. Penelitian tentang biosintesis menggunakan reduktor dari ekstrak tanaman telah banyak dilakukan (Gunawan, 2020). Inovasi ini mengubah limbah kulit carica menjadi bahan baku bernilai tambah tinggi untuk fabrikasi sensor optik. Kelebihan sumber daya lokal ini menjadikan inovasi ini sangat cocok untuk menjawab permasalahan pencemaran logam berat di Wonosobo sekaligus mendukung program pengurangan sampah organik dan ekonomi sirkuler di Jawa Tengah serta mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Inovasi saya dengan judul "OPTICA (Optical Carica Sensor)", yaitu sensor serat optik multi-ion berbasis nanopartikel perak hasil bioreduksi limbah kulit carica untuk mendeteksi Cd, Pb, dan Hg. Prinsip kerjanya memanfaatkan fenomena Localized Surface Plasmon Resonance (LSPR) pada lapisan nanopartikel perak, di mana ion logam berat yang menempel pada sensor menyebabkan perubahan indeks bias yang terukur (Iskandar & Tiandho, 2025). Sensor serat optik ini memiliki keunggulan yaitu sensitivitas tinggi, tahan interferensi elektromagnetik, fleksibel, dan respons real-time (Pendão & Silva, 2022). Penelitian serupa yang telah ada pada sensor alat pendeteksi Pb saja atau hanya dapat mendeteksi satu logam berat saja (Zhao et al., 2023). Terkait hal tersebut, kebaruan inovasi produk OPTICA ini terletak pada penggunaan bioreduktor alami dari limbah kulit carica, kemampuan deteksi multi logam (Cd, Pb, Hg), desain portabel, serta integrasi mikrokontroler dengan layar LCD.
Hasil karakterisasi sensor OPTICA menunjukkan kinerja yang sangat baik. Berdasarkan uji karakterisasi diperoleh data: Cd memiliki sensitivitas 14,32 lx/mg/L (R²=99,69%), Hg 4,88 lx/mg/L (R²=94,63%), dan Pb 3,45 lx/mg/L (R²=87,51%). Nilai R² yang tinggi membuktikan linearitas yang baik, sehingga sensor layak digunakan untuk deteksi multimetal secara akurat. Terkait urgensi inovasi ini sangat tinggi terdapat tiga alasan yang menjadikan inovasi ini amat penting. Pertama, paparan akumulatif Cd, Pb, dan Hg berdampak serius pada kesehatan masyarakat. Kedua, belum ada alat deteksi multimetal berbasis green synthesis di Provinsi Jawa Tengah. Ketiga, inovasi ini memanfaatkan limbah kulit carica yang melimpah di Wonosobo menjadi produk bernilai tambah.
Dampak inovasi produk ini meliputi tiga aspek. Dampak sosial: masyarakat dapat memantau sendiri kualitas air konsumsi secara mandiri, murah, dan real-time, sehingga meningkatkan kesadaran akan pentingnya air bersih. Dampak ekonomi: menekan biaya pengujian laboratorium yang mahal, menciptakan peluang usaha produksi sensor, serta membuka potensi komersialisasi dan HAKI. Dampak lingkungan: mengurangi limbah kulit carica yang selama ini dibuang begitu saja, mendukung pengelolaan limbah berkelanjutan, serta membantu deteksi dini pencemaran logam berat di sungai. Dalam jangka panjang, inovasi ini berpotensi direplikasi ke 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang memiliki masalah pencemaran serupa.
Foto Rincian Produk dan Rangkaian elektronika pada link berikut:
https://drive.google.com/file/d/169u9IGaxGCiQkWHRvWH64CKzs1dd-lhv/view?usp=sharing
KEUNGGULAN INOVASI
Inovasi “OPTICA” memiliki keunggulan salah satunya sensor serat optik yang memanfaatkan limbah kulit carica sebagai bioreduktor alami dalam sintesis nanopartikel perak, sekaligus mampu mendeteksi tiga logam berat (Cd, Pb, Hg) dalam satu kali pengujian. Berikut ini keunggulan lainnya yang menjadikan OPTICA lebih baik dibandingkan metode deteksi konvensional:
| Nama | : | Ryuichi Agave |
| Alamat | : | Jl. Sidomulyo No.14 Kecamatan Wonosobo Timur, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah 56317 |
| No. Telepon | : | 085703909436 |