Kabupaten Pekalongan memiliki aktivitas rumah tangga, usaha kuliner, dan perikanan yang tinggi dan menghasilkan berbagai jenis limbah organik seperti nasi sisa, minyak jelantah, dan kulit udang. Limbah nasi umumnya dimanfaatkan sebagai pakan unggas atau dibuang ke tempat pembuangan akhir sehingga memiliki nilai ekonomi yang rendah. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Pekalongan, jumlah produksi sampah mencapai 147.078,06 ton pada tahun 2024 dengan komposisi dominan dari sampah rumah tangga dan sisa makanan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, kebutuhan plastik sekali pakai di masyarakat masih tinggi, padahal plastik sulit terurai dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Plastik biodegradable menjadi alternatif karena dapat terurai secara alami, tetapi bahan bakunya masih berasal dari bahan pangan utama seperti singkong dan jagung yang mengganggu ketahanan pangan. Oleh karena itu, diperlukan bahan alternatif, salah satunya nasi aking. Nasi aking mengandung karbohidrat tinggi berupa pati yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar plastik biodegradable.
Untuk meningkatkan kualitas plastik berbasis nasi aking, diperlukan bahan tambahan berupa plasticizer dari minyak jelantah yang dihasilkan dari rumah tangga dan usaha kuliner sebagai sumber gliserin untuk fleksibilitas plastis. Selain itu, limbah kulit udang mengandung kitin yang dapat diolah menjadi kitosan sebagai penguat sifat mekanik plastik biodegradable.
Berdasarkan permasalahan tersebut, BYOBAG telah dikembangkan sejak tahun 2025. Inovasi ini telah memperoleh dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebesar Rp7.750.000 serta Universitas Diponegoro sebesar Rp1.982.900. BYOBAG diharapkan mampu mengurangi timbulan limbah organik, menekan penggunaan plastik konvensional, serta memberikan nilai tambah pada limbah yang sebelumnya kurang bernilai sebagai solusi ramah lingkungan di Kabupaten Pekalongan.
Permintaan global terhadap plastik terus meningkat mencapai 436,66 juta ton pada tahun 2022 (Houssini dkk., 2025) dan diperkirakan meningkat tiga kali lipat menjadi 1.124 juta ton pada tahun 2050 (Dokl et al., 2024). Di Indonesia, jumlah sampah plastik mencapai 11,5 juta ton, menunjukkan tingginya konsumsi plastik sekali pakai oleh masyarakat (Nofrima & Apriyadi, 2024). Ketergantungan terhadap plastik konvensional berdampak pada meningkatnya pencemaran lingkungan karena sifatnya yang sulit terurai (Kamsiati dkk., 2017). Kondisi tersebut mendorong alternatif plastik ramah lingkungan berupa plastik biodegradable.
Permasalahan sampah juga terjadi di Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan data Pemkab Pekalongan, jumlah produksi sampah mencapai 147.078,06 ton pada tahun 2024, dengan komposisi dominan berasal dari sampah rumah tangga dan sisa makanan yang belum dimanfaatkan secara optimal (Pemkab Pekalongan, 2025). Limbah pangan seperti nasi sisa atau nasi aking umumnya dimanfaatkan sebagai pakan unggas atau langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir, sehingga memiliki nilai ekonomi yang rendah dan belum diolah secara produktif.
Plastik biodegradable memiliki keunggulan dapat terurai secara alami dan lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik konvensional (Natalia dkk., 2019). Namun, pengembangan plastik biodegradable saat ini banyak menggunakan bahan pangan utama seperti singkong dan jagung yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan apabila digunakan secara masif (Saputra & Supriyo, 2020). Oleh karena itu, diperlukan bahan alternatif non-pangan yang berasal dari limbah, yaitu nasi aking.
Nasi aking mengandung 83,14% karbohidrat berupa pati yang berpotensi digunakan sebagai bahan dasar plastik biodegradable (Harimbi dkk., 2020). Untuk meningkatkan kualitasnya, diperlukan bahan tambahan berupa plasticizer dari minyak jelantah yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas plastik berbasis pati (Nafiyanto, 2019). Selain itu, kulit udang mengandung kitin yang dapat diolah menjadi kitosan yang mampu meningkatkan kekuatan mekanik plastik biodegradable (Dompeipen dkk., 2016). Dengan demikian, BYOBAG menjadi inovasi pemanfaatan limbah sebagai bahan baku yang relevan dengan kondisi Kabupaten Pekalongan serta mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Berikut merupakan keunggulan dari Byobag:
Keunggulan
| Nama | : | Lubnayya Nabigha |
| Alamat | : | Jalan Raya Wonopringgo (Utara Pasar), Gondang, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan |
| No. Telepon | : | 085725206482 |