MYGAS SAM-BODY (Mesin Smart Biogas Digester) : Optimalisasi Digester Low Dana High Performa

Sampah organik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak serius. Meskipun bersifat mudah terurai, sampah organik yang menumpuk akan membusuk dan menghasilkan bau tidak sedap yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Selain itu, proses pembusukan tersebut menghasilkan gas metana, yaitu salah satu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global lebih besar daripada karbon dioksida. Jika dibiarkan lepas ke atmosfer, gas ini dapat mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar, yaitu sekitar 40,85 persen dari total sampah yang dihasilkan. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berupa sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur lainnya. Oleh karena itu, pengelolaan sampah organik menjadi langkah penting untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan kelestarian alam.

Salah satu solusi inovatif dalam pengolahan sampah organik adalah mengubahnya menjadi biogas. Melalui proses fermentasi anaerob, sampah organik seperti sisa makanan, limbah pertanian, dan kotoran hewan dapat dikonversi menjadi gas metana yang bermanfaat sebagai sumber energi alternatif. Biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak, penerangan, hingga menggerakkan mesin sederhana. Selain menghasilkan energi berupa gas, proses ini juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Dengan demikian, pengolahan limbah organik menjadi biogas tidak hanya membantu mengurangi volume sampah dan pencemaran lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam menekan efek rumah kaca bagi bumi kita. Inovasi ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan sekaligus langkah nyata dalam mendukung penggunaan energi terbarukan dan mewujudkan kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Untuk menghasilkan biogas dari sampah organik, diperlukan digester sebagai wadah proses fermentasi sekaligus tempat penampungan gas yang dihasilkan. Digester menjadi faktor penentu keberhasilan proses fermentasi sehingga dapat menghasilkan biogas secara maksimal. Adapun syarat digester yang baik meliputi:

  1. Rapat dan tidak mengalami kebocoran.

  2. Terlindung dari paparan sinar matahari langsung.

  3. Pada digester dengan volume tetap, konstruksi harus kokoh dan kuat agar mampu menahan tekanan gas yang besar dari hasil fermentasi.

Saat ini, terdapat dua jenis digester yang sudah lazim digunakan, yaitu:

1. Digester Permanen (Fixed Dome)

Digester permanen berupa bunker yang dibangun di dalam tanah dengan konstruksi beton yang diperkuat tulangan besi. Dibuat sedemikian kokoh bertujuan untuk menjamin tidak terjadi kebocoran serta mampu menahan tekanan gas yang besar.

2. Digester Toren atau Tandon Air

Digester ini dibuat dari toren air dari bahan fiber glass atau PVC, yang dimodifikasi sehingga dapat difungsikan sebagai wadah fermentasi biogas.

Namun, kedua jenis digester tersebut memiliki keterbatasan dan kelemahan.

Kelemahan Digester Permanen

  • Membutuhkan konstruksi yang kuat agar mampu menahan tekanan gas dan tidak terdapat kebocoran.

  • Menggunakan lahan secara permanen.

  • Memerlukan pekerja profesional dalam proses pembuatannya.

  • biaya pembangunan yang relatif besar. Untuk kapasitas 4 m³, anggaran yang dibutuhkan untuk pembuatan digester dapat mencapai Rp10.000.000,- hingga Rp15.000.000,-. Ini tentu cukup memberatkan bagi warga baik perorangan maupun kelompok masyarakat.

  • Kapasitas ruang yang disediakan terbatas karena terkait dengan mahalnya biaya pembuatan. semakin besar kapasitas yang dibutuhkan, semakin besar pula biasa pembangunannya. karena terbatasnya kapasitas yang disediakan, apabila produksi gas sedang berlebih, sebagian gas harus dibuang untuk menghindari tekanan yang besar yang dapat menyebabkan konstruksi digester retak atau pecah.

  • Tekanan gas berubah-ubah/tidak stabil tergantung banyak sedikitnya jumlah gas di dalamnya, sehingga pengaturan penggunaan gas juga harus selalu disesuaikan.

Kelemahan Digester Toren Air

  • Meskipun biayanya lebih murah dibandingkan digester beton, proses modifikasi toren memerlukan pembuatan lubang-lubang yang cukup besar sehingga menyebabkan kerusakan permanen pada toren.

  • Sama seperti digester beton, kapasitas ruang penampungan gas terbatas. Ketika produksi gas melimpah, sebagian gas harus dibuang untuk mencegah tekanan berlebih yang dapat menyebabkan retak atau pecah pada dinding toren.

  • Tekanan gas berubah-ubah sesuai jumlah gas yang tersimpan, sehingga pengaturan pemakaian gas menjadi selalu berubah-ubah pula.

Dengan mempertimbangkan berbagai kelemahan tersebut, kami menciptakan inovasi digester  biogas yang mudah dibuat, berbiaya murah, namun memiliki performa tinggi karena dilengkapi dengan otomatisasi pengaturan gas sehingga nyaman digunakan. Karya Inovasi ini kami diberi nama MYGAS SAM-BODY, yaitu sebuah mesin penghasil gas Smart Biogas Digester.

Adapun keunggulan produk MYGAS SAM-BODY sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahan-bahan yang mudah dijangkau secara finansial serta mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
    a. Shelter Digester dapat menggunakan drum berkapasitas relatif kecil, yaitu sekitar 50 liter.
    b. Main Digester berfungsi sebagai tempat penampungan utama massa organik dan gas yang dihasilkan. Komponen ini dibuat menggunakan plastik kantongan berukuran besar yang banyak dijual di pasaran, dengan lebar antara 1,5–2 meter dan panjang 5–10 meter, atau disesuaikan dengan kapasitas yang dibutuhkan. Main Digester dimasukkan ke dalam galian tanah yang tidak terlalu dalam agar sisi sampingnya terlindungi. Selain itu, dapat pula diletakkan di atas tanah, asalkan memiliki penopang pada dinding sampingnya.

  2. Kapasitas tampung digester sangat fleksibel, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Prototipe yang dibuat memiliki volume sekitar 3 meter kubik.

  3. Ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk pembuatannya relatif murah.

  4. Pemakaian gas tidak mengandalkan tekanan yang terbentuk di dalam digester balon plastik. MyGas SAM-BODY memanfaatkan pompa udara atau kompresor untuk memanen gas, kemudian mengumpulkannya ke dalam tabung bertekanan. Gas inilah yang siap digunakan.

  5. Pompa atau kompresor bekerja secara otomatis, diatur oleh auto pressure switch, yaitu sakelar otomatis yang menyalakan dan mematikan pompa berdasarkan tekanan yang telah diatur. Pompa akan bekerja (hidup) apabila tekanan di dalam tabung mencapai batas minimal, dan sakelar akan mematikan pompa saat tekanan mencapai batas maksimal.

  6. MyGas SAM-BODY menghasilkan biogas lebih cepat untuk dimanfaatkan, yaitu sekitar satu minggu sejak pengisian fermentasi. Waktu ini jauh lebih singkat dibandingkan digester konvensional yang memerlukan waktu 4–6 minggu. Gas yang terbentuk sudah dapat dipanen meskipun digester utama belum menggembung sepenuhnya. Selama mulai terlihat adanya gas atau udara, gas tersebut sudah dapat dipompa untuk dimanfaatkan.

  7. Menyediakan fasilitas refill atau tabungisasi gas, yaitu pengisian biogas hasil digester ke dalam wadah penampung, seperti:
    a. Tabung elpiji 3 kg.
    b. Tabung elpiji 12 kg.
    c. Tabung freon bekas.
    d. Ban mobil atau truk.
    e. Balon plastik berukuran besar.
    f. Wadah berbahan karet.

    Catatan: Refill dilakukan dengan tekanan maksimal 6–8 bar, sesuai kemampuan maksimum kompresor dalam mengisi tabung gas. Sementara itu, pengisian ke dalam ban dalam mobil, balon plastik, atau wadah karet cukup dilakukan dengan pengamatan fisik. Jangan sampai terlalu kencang agar tidak pecah atau meletus.

  8. Semua komponen penyusun MYGAS SAM-BODY memiliki kandungan bahan dalam negeri (TKDN) sebesar 100%.

Nama : A. K. UMAM
Alamat : BAKUNG, MIJEN, DEMAK
No. Telepon : 087762893802