MYGAS SAM-BODY (Mesin Smart Biogas Digester) : Optimalisasi Digester Low Dana High Performa

         Sampah organik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak serius. Meskipun bersifat mudah terurai, sampah organik yang menumpuk akan membusuk dan menghasilkan bau tidak sedap yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Selain itu, proses pembusukan tersebut menghasilkan gas metana, yaitu salah satu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global lebih besar daripada karbon dioksida. Jika dibiarkan lepas ke atmosfer, gas ini dapat mempercepat terjadinya perubahan iklim.

Penyumbang sampah organik terbesar saat ini  adalah :

- Peternakan dan perikanan, berupa kotoran hewan Binatang ternak (sapi, kerbau, unggas, ayam broiler, ikan) dan sisa pakan.

- Pertanian, berupa limbah hasil panen, Jerami, sabut kelapa, tongkol jagung, limbah sayuran dan buah.

- Rumah tangga, sisa sampah dapur berupa sisa makanan dan sayur-mayur.

         Salah satu solusi inovatif dalam pengolahan sampah organik adalah mengubahnya menjadi biogas. Melalui proses fermentasi anaerob, sampah organik seperti sisa makanan, limbah pertanian, dan kotoran hewan dapat dikonversi menjadi gas metana yang bermanfaat sebagai sumber energi alternatif. Biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak, penerangan, hingga menggerakkan mesin. Selain energi berupa biogas, proses ini juga menghasilkan residu fermentasi yang berharga dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi.

Dengan demikian, pengolahan limbah organik menjadi biogas tidak hanya membantu mengurangi volume sampah dan pencemaran lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam menekan efek rumah kaca bagi bumi kita. Inovasi ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan sekaligus langkah nyata dalam mendukung penggunaan energi terbarukan dan mewujudkan kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Meskipun teknologi biogas bukan hal baru, dan masyarakat sudah mengenalnya, namun untuk mewujudkan keinginan membangun sebuah instalasi biogas sehingga bisa beroperasi dengan nyaman dan mendapatkan hasil/keuntungan yang memadai sesuai dengan upaya dikeluarkan, selama ini menjadi faktor penghambat utama. Hal ini disebabkan karena :

instalasi biogas yang sudah dikenal dan lazim dibuat ditengah masyarakat selama ini membutuhkan biaya yang besar, seperti membangun digester permanen dari beton yang tidak sedikit anggaran pembuatannya.

kapasitas terbatas, karena semakin besar digester yang hendak dibuat, semakin besar juga anggaran yang harus dikeluarkan.

Ditemukan beberapa warga ada yang membuat digester biogas dengan plastik, namun sangat tidak praktis dan merepotkan dalam pengelolaannya karena masih menggunakan cara-cara manual, dimana untuk membuat gas bisa mengalir keluar, digester balon harus ditindih dengan kayu atau pemberat lainnya, yang berpotensi terguling, jatuh dan tidak menindih dengan benar. hal ini tentu sangat merepotkan.

 

 Perlu diketahui digester menjadi faktor penentu keberhasilan proses fermentasi sehingga dapat menghasilkan biogas secara maksimal. Adapun syarat digester yang baik meliputi:

  1. Rapat dan tidak mengalami kebocoran.

  2. Terlindung dari paparan sinar matahari langsung.

  3. Konstruksi harus kokoh dan kuat agar mampu menahan tekanan gas yang besar dari hasil fermentasi.

 

JENIS-JENIS DIGESTER :

1. Digester Permanen (Fixed Dome)

Digester permanen berupa bunker yang dibangun di dalam tanah dengan konstruksi beton yang diperkuat tulangan besi. Dibuat sedemikian kokoh bertujuan untuk menjamin tidak terjadi kebocoran serta mampu menahan tekanan gas yang besar.

2. Digester Toren atau Tandon Air

Digester ini dibuat dari toren air dari bahan fiber glass atau PVC, yang dimodifikasi sehingga dapat difungsikan sebagai wadah fermentasi biogas.

Namun, kedua jenis digester tersebut memiliki keterbatasan dan kelemahan.

Kelemahan Digester Permanen

  • Membutuhkan konstruksi yang kuat agar mampu menahan tekanan gas dan tidak terdapat kebocoran.

  • Menggunakan lahan secara permanen.

  • Memerlukan pekerja profesional dalam proses pembuatannya.

  • biaya pembangunan yang relatif besar. Untuk kapasitas 4 m³, anggaran yang dibutuhkan untuk pembuatan digester dapat mencapai Rp10.000.000,- hingga Rp15.000.000,-. Ini tentu cukup memberatkan bagi warga baik perorangan maupun kelompok masyarakat.

  • Kapasitas ruang yang disediakan terbatas karena terkait dengan mahalnya biaya pembuatan. semakin besar kapasitas yang dibutuhkan, semakin besar pula biasa pembangunannya. karena terbatasnya kapasitas yang disediakan, apabila produksi gas sedang berlebih, sebagian gas harus dibuang untuk menghindari tekanan yang besar yang dapat menyebabkan konstruksi digester retak atau pecah.

  • Tekanan gas berubah-ubah/tidak stabil tergantung banyak sedikitnya jumlah gas di dalamnya, sehingga pengaturan penggunaan gas juga harus selalu disesuaikan.

Kelemahan Digester Toren Air

  • Meskipun biayanya lebih murah dibandingkan digester beton, proses modifikasi toren memerlukan pembuatan lubang-lubang yang cukup besar sehingga menyebabkan kerusakan permanen pada toren.

  • Sama seperti digester beton, kapasitas ruang penampungan gas terbatas. Ketika produksi gas melimpah, sebagian gas harus dibuang untuk mencegah tekanan berlebih yang dapat menyebabkan retak atau pecah pada dinding toren.

  • Tekanan gas berubah-ubah sesuai jumlah gas yang tersimpan, sehingga pengaturan pemakaian gas menjadi selalu berubah-ubah pula.

Dengan memperhatikan berbagai kelemahan tersebut, kami membuat inovasi digester biogas yang mudah dibuat, murah dalam pembuatan, namun sangat handal sebagai penghasil biogas yang maksimal dan memiliki performa tinggi karena dilengkapi otomatisasi alat sehingga pengeluaran gas dari dalam digester berjalan otomatis, stabil dan nyaman digunakan. Inovasi ini kami diberi nama MYGAS SAM-BODY, sebuah mesin penghasil gas : Smart Biogas Digester.

 

Keunggulan inovasi MYGAS SAM-BODY dibandingkan dengan system biogas yang ada selama ini  sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahan-bahan yang mudah dijangkau secara finansial serta mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
  2. -Digester biogas memakai plastik ukuran besar yang masih berupa kantong/sarung, dengan kapasitas tampung sangat fleksibel, menyesuaikan kebutuhan. Apabila dikehendaki kapasitas yang sangat besar, misal digunakan untuk mengolah limbah peternakan dengan produksi kohe harian 1 (satu) ton keatas tidak menjadi masalah dan memungkinkan untuk itu, karena tidak perlu menyediakan lahan secara permanen yang besar dan luas untuk membangun sebuah digester raksasa yang tentu menelan biaya pembuatan sangat besar juga.
  3. Ekonomis, karena biaya yang diperlukan untuk pembuatannya relatif murah dibanding instalasi biogas yang telah ada selama ini.
  4. Digester biogas tidak menerima tekanan yang besar dari gas yang terbentuk, sehingga aman dari kerusakan akibat kelebihan tekanan seperti pada umumnya digester permanen maupun digester toren. Dalam system biogas MYGAS SAM-BODY, digester hanya menampung biogas yang terbentuk, pompa udara yang akan memanen gas dari dalam digester untuk dipindah ke tabung tekan. Dari tabung tekan inilah gas disalurkan instalasi pipa menuju ke titik-titik pemakaian.
  5. MyGas SAM-BODY menghasilkan biogas lebih cepat untuk dimanfaatkan, yaitu sekitar satu minggu sejak pengisian fermentasi. Waktu ini jauh lebih singkat dibandingkan digester konvensional yang memerlukan waktu 4–6 minggu. Gas yang terbentuk sudah dapat dipanen meskipun digester utama belum menggembung sepenuhnya. Selama mulai terlihat adanya gas atau udara, gas tersebut sudah dapat dipompa untuk dimanfaatkan.
  6. Memungkinkan diaplikasikan pada peternakan dimana operasionalnya membutuhkan energi listrik yang cukup besar, seperti peternakan ayam broiler, yang mempunyai limbah kohe harian dengan volume cukup besar, sehingga biogas yang dihasilkan bisa untuk suplai energi listrik dan pemanas.
  7. Mempunyai outlet pengisian gas, bisa digunakan sebagai tempat tabungisasi gas, pengisian biogas hasil digester ke dalam wadah penampung, seperti:
    a. Tabung elpiji 3 kg.
    b. Tabung elpiji 12 kg.
    c. Tabung freon bekas.
    d. Ban mobil atau truk.
    e. Balon plastik atau karet penampung gas berukuran besar.
     

Catatan: Refill dilakukan dengan tekanan maksimal 6–8 bar, sesuai kemampuan maksimum kompresor dalam mengisi tabung gas. Sementara pengisian ke dalam ban mobil, balon plastik, atau balon karet cukup dilakukan dengan pengamatan fisik. Jangan sampai terlalu kencang agar tidak pecah atau meletus.

     8.  Semua komponen penyusun MYGAS SAM-BODY memiliki kandungan bahan dalam negeri (TKDN) sebesar 100%.

Nama : A. K. UMAM
Alamat : BAKUNG, MIJEN, DEMAK
No. Telepon : 087762893802