Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia,
sebagian besar karena metode pemantauan jentik nyamuk Aedes aegypti yang masih manual, lambat,
dan tidak efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan AE-TRAP, sebuah sistem pemantauan
otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dan image processing untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Sistem ini dirancang untuk mendeteksi dan menghitung jentik secara akurat, sekaligus menganalisis
korelasi antara populasi jentik dengan kondisi lingkungan. Metode yang digunakan meliputi
perancangan perangkat keras menggunakan ESP32-CAM dan sensor DHT22, serta pengembangan
model deteksi objek menggunakan algoritma YOLOv8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe
AE-TRAP berhasil diimplementasikan dengan daya tahan baterai ±60 jam. Model YOLOv8 yang
dilatih mampu mendeteksi jentik dengan akurasi rata-rata 95,56% bila dibandingkan dengan
perhitungan manual, sehingga membuktikan Hipotesis I. Selain itu, uji coba lapangan berhasil
menunjukkan adanya korelasi statistik yang kuat dan signifikan antara suhu dan kelembapan dengan
jumlah jentik (ρ = +0,800 untuk kelembapan; ρ = -0,689 untuk suhu), yang memvalidasi Hipotesis II.
Kesimpulannya, AE-TRAP terbukti efektif sebagai sistem pemantauan terpadu yang menyediakan data
real-time dan akurat, serta berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sistem peringatan dini guna
mendukung upaya pencegahan DBD.
Indonesia merupakan negara tropis dengan kondisi iklim panas dan lembap, yang mendukung
perkembangan nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, Indonesia mencatat peningkatan
signifikan kasus DBD dengan incidence rate yang fluktuatif per 100.000 penduduk dari 24,75 pada
tahun 2018 menjadi 52,12 pada tahun 2022. Selain itu, perubahan suhu akibat urbanisasi dan
manajemen lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi perkembangan Aedes aegypti, seperti
penurunan daya tetas telur pada suhu tinggi dan peningkatan proporsi nyamuk betina, yang
berpotensi mempercepat penularan penyakit (Mohammed & Chadee, 2011). Kurangnya sistem
deteksi dini populasi nyamuk menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian DBD di
berbagai daerah, dengan jumlah kabupaten/kota yang terjangkit meningkat dari tahun 2018 sebesar
440 (85,6%) menjadi 484 (94,2%) pada tahun 2022.
Metode yang paling umum digunakan untuk mendeteksi keberadaan nyamuk adalah ovitrap,
yaitu alat perangkap jentik nyamuk dalam wadah berisi air dan atraktan alami. Ovitrap yang
berwarna gelap dan menggunakan bahan atraktan cenderung lebih banyak ditemukan jentik
nyamuk, karena kombinasi ini dapat menarik nyamuk betina untuk bertelur sehingga efektivitas
pemantauan meningkat (Pertiwi dkk., 2021). Namun demikian, metode ini masih bersifat manual
dan membutuhkan pengamatan visual oleh petugas untuk menghitung jumlah jentik yang
terperangkap (Cahyati dkk., 2016). Hal ini menyulitkan pemantauan secara berkala dan tidak
memungkinkan penyediaan data secara real-time.
Seiring perkembangan Revolusi Industri 5.0, berbagai penelitian telah mengembangkan
teknologi pemantauan otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Penelitian oleh Surya et
al. (2022) menunjukkan bahwa penggunaan kamera Raspberry Pi dan teknik pengolahan citra
mampu mendeteksi pergerakan jentik dengan akurasi tinggi menggunakan metode segmentasi dan
deteksi kontur. Pemanfaatan model YOLO untuk mendeteksi jentik nyamuk menghasilkan akurasi
training sebesar 98% dan memungkinkan perhitungan jumlah jentik secara real-time dan lebih
akurat (Karimah dkk., 2024). Kemudahan akses data juga menjadi fokus pengembangan, di mana
sistem berbasis dashboard yang memungkinkan pengguna memantau hasil pemantauan ovitrap
secara real-time dari jarak jauh tanpa perlu inspeksi fisik telah dirancang (Yulianto dkk., 2024).
Model perhitungan jentik nyamuk menggunakan kombinasi CNN inceptionV3 dan RNN GRU
berhasil mencapai akurasi sebesar 91,19%, menunjukkan efektivitas metode ini dalam menghitung
jentik ngamuk secara otomatis dan akurat (Yuana dkk., 2025)
Meskipun telah banyak inovasi dalam sistem pemantauan jentik nyamuk, sebagian besar masih
menghadapi kendala efisiensi operasional dan ketersediaan data real-time, dengan beberapa sistem
hanya memberikan informasi berkala dan membutuhkan intervensi manual. Penelitian ini
mengembangkan AE-TRAP, sistem pemantauan jentik nyamuk berbasis IoT dan image processing
yang dilengkapi sensor suhu dan kelembapan serta dashboard monitoring, yang diharapkan dapat
memberikan data real-time akurat untuk meningkatkan deteksi dini dan memperkuat upaya
pencegahan penyebaran DBD.
| Nama | : | Rajif Faisal Habibi |
| Alamat | : | Jl Tahunan-Batealit KM 4.7, Bawu, kec.Batealit, kab.jepara |
| No. Telepon | : | 082221125598 |